Jakarta, Katasulsel.com — Di tengah dinamika sosial dan politik yang terus bergerak, Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi tumpuan harapan banyak kalangan. Tidak hanya dari kalangan ulama dan santri, tetapi juga dari para seniman, budayawan, hingga masyarakat umum yang melihat NU sebagai salah satu pilar penting penjaga harmoni bangsa.

Harapan itu disampaikan Camel Petir saat menghadiri rangkaian dukungan terhadap pelaksanaan Muktamar NU bersama sejumlah sahabat dari kalangan artis, seniman, dan tokoh masyarakat.

Bagi Camel, kehadiran mereka bukan sekadar bentuk dukungan terhadap agenda organisasi terbesar di Indonesia tersebut. Lebih dari itu, ada harapan besar yang ingin dititipkan kepada NU agar tetap konsisten menjadi rumah bagi keberagaman.

“Kenapa kami datang dan mendukung Muktamar NU? Karena kami mencintai NU dan menitipkan harapan kepada NU. Kami ingin melihat NU tetap menjadi kekuatan yang sejuk, damai, moderat, dan menjadi perekat bangsa,” ujar Camel.

Menurutnya, salah satu kekuatan utama NU selama ini adalah kemampuannya merawat perbedaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Di saat banyak kelompok terjebak dalam polarisasi dan sekat-sekat identitas, NU dinilai mampu hadir sebagai titik temu yang menyejukkan. Karakter moderat yang diwariskan para ulama pendiri NU dianggap menjadi modal besar untuk menjaga persatuan bangsa.

Camel juga menyoroti hubungan antara agama, seni, dan kebudayaan yang selama ini sering dipandang bertentangan oleh sebagian kalangan.

Padahal, menurutnya, seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan, persaudaraan, dan kebaikan selama tetap menghormati norma serta nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam konteks itu, ia mengingat kembali pandangan Presiden ke-4 RI, Gus Dur, yang dikenal memiliki kedekatan dengan dunia seni dan budaya.

“Gus Dur pernah menyampaikan bahwa tidak ada pintu dakwah melalui nyanyi, tetapi selalu ada celah. Bagi kami, seni bisa menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kebaikan, persaudaraan, perdamaian, dan kemanusiaan. Yang penting seni itu tidak menabrak norma dan nilai yang kita junjung bersama,” katanya.

Pandangan tersebut, menurut Camel, selaras dengan wajah NU yang selama ini dikenal terbuka terhadap kebudayaan dan menghargai ekspresi masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Karena itu, ia berharap NU tetap memberikan ruang kepada para seniman, pekerja kreatif, dan generasi muda untuk ikut berkontribusi membangun bangsa.

“NU yang mencintai perbedaan itu menarik. Ada ruang untuk seni, ada ruang untuk masyarakat, ada ruang untuk anak-anak bangsa. Inilah wajah Islam yang sejuk dan damai yang ingin terus kita lihat,” ujarnya.

Camel menegaskan, dukungan yang diberikan bersama para sahabatnya tidak dilandasi kepentingan politik ataupun kelompok tertentu. Mereka datang dengan satu harapan: agar Muktamar NU melahirkan pemimpin yang mampu menjaga tradisi moderasi, memperkuat persatuan, dan membawa organisasi itu semakin bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita sebagai anak bangsa menitipkan harapan. Kita ingin pemimpin-pemimpin yang kuat lahir dari NU, pemimpin yang mampu menjadi perekat perbedaan, menjaga kesejukan, dan membawa NU semakin besar manfaatnya bagi bangsa dan negara,” tuturnya.

Menurut Camel, posisi NU sangat strategis dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Dengan jaringan yang luas, akar tradisi yang kuat, dan pengaruh sosial yang besar, NU memiliki peran penting dalam menjaga persaudaraan di tengah beragam perbedaan pilihan, pandangan, maupun latar belakang masyarakat.

“Kami datang dengan cinta, bukan kepentingan. Kami datang membawa harapan. Semoga Muktamar NU melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa NU semakin moderat, semakin terbuka, dan semakin kuat menjadi perekat Indonesia,” pungkasnya.

Bagi Camel Petir dan para sahabatnya, Muktamar NU bukan hanya tentang memilih pemimpin baru. Lebih dari itu, muktamar adalah momentum untuk memperkuat kembali peran NU sebagai rumah besar umat, tempat ulama, santri, seniman, budayawan, generasi muda, dan seluruh elemen bangsa bertemu dalam semangat persatuan, kedamaian, dan kemajuan Indonesia. (*)