Sidrap, Katasulsel.com — Kalau ada yang bertanya mengapa telur dalam perayaan Maulid Nabi di Sidrap selalu menjadi rebutan, seorang emak-emak mungkin punya jawaban paling sederhana.

“Bukan telurnya yang dicari. Barakkanya.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya ada tradisi panjang yang terus hidup di tengah masyarakat Bugis Sidenreng Rappang (Sidrap).

Setiap Maulid digelar, telur-telur hias kembali muncul.

Biasanya ditancapkan pada batang pisang yang dihias sedemikian rupa. Bentuknya warna-warni. Ada yang sederhana. Ada pula yang dibuat semeriah mungkin.

Setelah rangkaian Maulid selesai, suasananya berubah.

Telur-telur itu mulai diambil.

Anak-anak paling depan.

Emak-emak ikut bergerak.

Masjid yang beberapa saat sebelumnya penuh lantunan selawat, mendadak dipenuhi suara riang.

Ada yang tertawa.

Ada yang sibuk memilih.

Ada yang berhasil membawa pulang.

Ada pula yang pulang dengan tangan kosong.

Tetapi bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, persoalannya bukan siapa mendapatkan telur paling banyak.

Ada makna yang dipercaya ikut melekat di dalamnya.

“Kami Cari Barakka”

Salah seorang warga, I Menning, mengatakan tradisi mengambil telur Maulid sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Maulid di lingkungannya.

Menurutnya, masyarakat tidak melihat telur tersebut sekadar sebagai makanan.

“Yang dicari itu barakka-nya. Telurnya nanti dimakan bersama keluarga di rumah,” ujarnya.

Bagi dia, telur Maulid memiliki suasana yang berbeda dibanding telur yang dibeli sehari-hari.

Bukan karena rasanya.

Tetapi karena telur itu telah menjadi bagian dari rangkaian perayaan Maulid.

“Dari dulu memang begitu. Anak-anak senang, orang tua juga senang. Kita ambil untuk dibawa pulang,” katanya.

[Jika ada kutipan asli narasumber, bagian ini sebaiknya diganti dengan ucapan persis emak-emak agar lebih kuat secara jurnalistik.]

Telur Kecil, Makna Panjang

Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat Bugis, telur atau tello’ yang digunakan dalam hiasan Maulid memiliki pemaknaan tersendiri.

Kulit telur kerap dimaknai sebagai simbol iman.

Putih telur sebagai simbol Islam.

Sedangkan kuning telur dimaknai sebagai ihsan.

Tiga bagian dalam satu telur.

Satu kesatuan yang kemudian menjadi cara masyarakat mengenalkan nilai-nilai keislaman melalui tradisi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu mimbar.

Tidak perlu istilah yang rumit.

Cukup sebutir telur.

Ada Pohon Pisang di Tengahnya

Telur-telur tersebut biasanya ditancapkan pada batang pisang yang dihias.

Di Sidrap dan wilayah Bugis lainnya, hiasan semacam ini menjadi salah satu ciri khas yang mudah dikenali ketika Maulid berlangsung.

Pohon pisang juga memiliki filosofi tersendiri dalam pemaknaan tradisional masyarakat.

Pisang dikenal terus bertunas dan menghasilkan generasi baru.

Karakter itu kemudian dimaknai sebagai simbol keberlanjutan.

Nilai-nilai kebaikan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW diharapkan tidak berhenti pada generasi yang merayakan Maulid hari ini.

Tetapi diteruskan kepada anak-anak mereka.

Dan anak-anak itu kelak meneruskannya lagi.

Rebutan yang Justru Mempertemukan

Menariknya, istilah “rebutan telur” kadang membuat tradisi ini terdengar seperti sebuah perlombaan.

Padahal yang terjadi lebih dari itu.

Ada anak-anak.

Ada bapak-bapak.

Ada emak-emak.

Semua berkumpul dalam satu suasana.

Tidak ada sekat siapa yang paling kaya atau siapa yang paling sederhana.

Telur yang dibagikan menjadi alasan kecil untuk berkumpul.

Dan berkumpul itulah yang menjadi bagian penting dari tradisi.

Seorang emak mungkin pulang membawa beberapa telur.

Tetapi yang dibawa ke rumah bukan cuma telur.

Ada cerita.

Ada kegembiraan anak-anak.

Ada suasana Maulid.

Dan tentu saja, ada harapan akan barakka.

Tradisi yang Tidak Mau Mati

Zaman berubah.

Cara orang berkomunikasi berubah.

Anak-anak sekarang lebih akrab dengan telepon genggam daripada permainan tradisional.

Tetapi ketika Maulid tiba, pohon pisang berhias telur masih bisa ditemukan.

Dan ketika waktunya tiba, tangan-tangan masih berebut mengambilnya.

Mungkin karena tradisi tidak selalu bertahan lantaran masyarakat hafal seluruh filosofinya.

Kadang tradisi bertahan karena orang tua terus melakukannya dan anak-anak terus melihatnya.

Dari situlah sebuah kebiasaan diwariskan.

“Kalau tidak diteruskan, nanti anak-anak tidak tahu lagi tradisi kita,” kata [NAMA EMAK-EMAK].

Kalimat itu barangkali menjadi alasan paling sederhana mengapa telur Maulid masih bertahan.

Sebab yang dijaga sebenarnya bukan telurnya.

Yang dijaga adalah cerita di balik telur itu.

Dan di Sidrap, cerita tersebut bernama Maulid, kebersamaan, dan barakka.

(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini