Sidrap, Katasulsel.com — Kemarau datang membawa satu masalah klasik bagi petani Sidrap: air.
Tetapi di Kelurahan Kadidi, Kecamatan Panca Rijang, cerita itu tidak sepenuhnya berakhir dengan sawah mengering.
Sejumlah petani masih bisa memanen padi meski hujan mulai jarang turun.
Ada satu “senjata” yang membuat sawah tetap mendapatkan air:
Listrik Masuk Sawah.
Program yang dilengkapi pompa air itu membuat air tetap bisa dialirkan ke lahan pertanian ketika pasokan air mulai terbatas.
Bagi petani Kadidi, ini bukan sekadar soal listrik.
Ini soal menyelamatkan tanaman sampai panen.
120 Hektare Sawah di Kadidi
Data pertanian Kelurahan Kadidi mencatat sekitar 120 hektare lahan dikelola empat kelompok tani.
Sekitar 5,5 hektare di antaranya terdampak kemarau.
Namun sebagian besar lahan masih bertahan. Sekitar 114,5 hektare berada dalam tahap persiapan panen.
Sementara lahan yang sudah memasuki masa panen mencapai sekitar 8 hektare dengan produksi berkisar 5–8 ton per hektare.
Di kawasan tersebut juga terdapat 13 titik pompanisasi OPLA nonrawa yang menggunakan listrik.
Artinya, ketika air dari langit tidak cukup, petani memiliki cara lain untuk mendatangkannya ke sawah.
Bagi Petani, Bunyi Pompa Berarti Harapan
Ketua Gapoktan Asoka Kelurahan Kadidi, Muh. Amin Daif, mengaku bersyukur dengan keberadaan fasilitas tersebut.
“Syukur Alhamdulillah, berkat adanya bantuan listrik masuk sawah lengkap dengan pompa air, masih bisa panen di tengah kemarau,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi petani, “masih bisa panen” adalah kalimat yang sangat berarti.
Sebab gagal panen bukan hanya soal padi yang tidak jadi dipanen.
Ada biaya tanam, pupuk, tenaga, waktu dan harapan keluarga yang ikut dipertaruhkan.
Listrik Masuk Sawah, Kemarau Tak Lagi Sendirian
Program Listrik Masuk Sawah di Sidrap merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sidrap, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kementerian Pertanian dan PT PLN.
Program tersebut diarahkan untuk membantu pengairan sawah sekaligus menjaga produktivitas pertanian ketika musim kemarau.
Program elektrifikasi pertanian sendiri telah menjadi salah satu langkah yang dikembangkan Pemkab Sidrap bersama PLN untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional petani.
Di Kadidi, manfaatnya kini terasa langsung.
Air dipompa.
Sawah dialiri.
Padi bertahan.
Dan sebagian petani mulai masuk masa panen.
Sidrap Punya Cara Melawan Kemarau
Kemarau tentu belum selesai.
Begitu pula persoalan air pertanian.
Tetapi pengalaman petani Kadidi menunjukkan bahwa menghadapi musim kering tidak selalu berarti hanya menunggu hujan.
Ada teknologi yang bisa digunakan.
Ada pompa yang bisa bekerja.
Dan ada listrik yang membuat pompa tersebut tetap hidup.
Karena itu, bagi petani Kadidi, listrik yang masuk ke sawah bukan sekadar kabel dan tiang.
Ia berubah menjadi air.
Air berubah menjadi tanaman.
Dan tanaman yang bertahan akhirnya berubah menjadi gabah yang bisa dipanen.
Di tengah kemarau Sidrap, mungkin itulah kabar paling sederhana sekaligus paling penting:
langit boleh kering, tetapi sawah Kadidi belum menyerah. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
