SIDRAP, Katasulsel.com — Kemarau biasanya punya satu cerita: sawah mengering, petani menunggu hujan, lalu musim tanam ikut tertunda.

Tapi di Sidrap, ceritanya berbeda.

Ketika sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan mulai berhadapan dengan keterbatasan air, petani di Desa Takkalasi justru memanen padi. Air tidak datang dari langit. Ia keluar dari perut bumi, dipompa dengan listrik, lalu dialirkan ke sawah.

Di sinilah cerita unik pertanian Sidrap dimulai.

Panen Raya Oplah Non Rawa Program Listrik Masuk Sawah di Desa Takkalasi, Selasa (18/8/2026), menjadi gambaran bagaimana teknologi sederhana bisa mengubah wajah pertanian ketika musim kemarau datang.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi yang menghadiri panen tersebut bahkan memberikan apresiasi khusus.

“Sidrap luar biasa. Di tengah musim kemarau masih bisa panen,” kata Fatmawati.

Bagi Sidrap, kalimat itu bukan sekadar pujian.

Ini seperti pembuktian bahwa kemarau tidak selalu harus berakhir dengan sawah menganggur.

Bendung Kering, Sumur Bor Mengambil Alih

Desa Takkalasi memiliki sekitar 395 hektare lahan pertanian yang dikelola 13 kelompok tani.

Dulu, petani banyak berharap pada pasokan air dari Bendung Takkalasi. Masalahnya, ketika kemarau panjang datang, bendung pun ikut kehilangan air.

Sawah terancam berhenti.

Kemudian datang 39 titik sumur bor yang dibangun pada 2025.

Air dari dalam tanah dipompa. Tetapi pompa tentu membutuhkan energi.

Di sinilah program listrik masuk sawah menjadi bagian penting.

Listrik menghidupkan pompa. Pompa mengangkat air. Air mengalir ke sawah. Sawah tetap ditanami.

Rantai sederhananya seperti itu.

Namun dampaknya tidak sederhana bagi petani.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif bahkan menggambarkan perubahan tersebut dengan kalimat yang cukup menarik.

“Serasa di luar negeri. Listrik ada di mana-mana di sawah.”

Dengan voucher Rp100 ribu, kata Syaharuddin, pompa dapat digunakan sekitar tiga hari.

“Listrik mengalir, air mengalir,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi petani yang berhadapan dengan sawah kering, air yang mengalir adalah urusan hidup.

Kemarau Boleh Datang, Panen Jangan Hilang

Yang membuat kisah Takkalasi semakin menarik adalah hasil panennya.

Hasil ubinan mencapai sekitar 6,5 kilogram per petak. Jika dikonversi, produktivitasnya sekitar 10,4 ton per hektare.

Angka itu jauh di atas produktivitas musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran 7 ton per hektare.

Ada cerita ekonomi di balik angka tersebut.

Dengan produktivitas 7 ton per hektare dan harga gabah Rp7.200 per kilogram, nilai produksi sekitar Rp50,4 juta per hektare.

Kini, dengan produktivitas 10,4 ton dan harga gabah Rp7.500 per kilogram, nilainya sekitar Rp78 juta per hektare.

Jadi, yang mengalir ke sawah bukan hanya air.

Ada pula harapan ekonomi petani.

Sidrap Disiapkan Jadi Mesin Pangan Sulsel

Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi mengatakan keberhasilan Sidrap mempertahankan produksi saat kemarau menunjukkan kuatnya kolaborasi pemerintah, petani, PLN dan pemangku kepentingan lainnya.

Ia juga menyebut penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Sulawesi Selatan mulai menunjukkan hasil.

Di Majjelling, hasil panen sebelumnya bahkan mencapai lebih dari 11 ton per hektare.

“Memang ini yang kita harapkan, produksi pertanian bisa lebih dari 10 ton per hektare,” kata Fatmawati.

Perhatian pemerintah provinsi terhadap Sidrap pun belum berhenti.

Untuk 2027, Pemprov Sulsel membuka ruang bagi Sidrap mengusulkan program pencetakan sawah, optimalisasi lahan hingga pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi.

“Pada 2027 kami akan prioritaskan lagi Sidrap,” tegas Fatmawati.

Pesannya jelas: kalau ada usulan, ajukan.

Rp65 Miliar Mengalir ke Pertanian Sulsel

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulsel Bustanul Arifin mengatakan pemerintah menyiapkan sekitar Rp65 miliar pada 2026 untuk berbagai program penguatan pertanian.

Sebagian dukungan itu mengarah ke Sidrap.

Ada pencetakan sekitar 600 petak sawah dengan anggaran Rp21 miliar.

Kemudian optimalisasi lahan sekitar 3.200 hektare dengan anggaran Rp14 miliar.

Pemerintah juga menyiapkan sekitar 150 unit pompa senilai Rp23 miliar, irigasi tersier di 38 titik senilai Rp3,8 miliar serta irigasi perpipaan sekitar 10 titik dengan anggaran kurang lebih Rp1 miliar.

Sidrap memang bukan daerah yang baru kemarin menjadi lumbung pangan.

Tetapi tantangannya kini berubah.

Bukan hanya bagaimana menghasilkan gabah sebanyak-banyaknya.

Melainkan bagaimana sawah tetap berproduksi ketika cuaca tidak lagi mudah ditebak.

PLN Ikut Masuk Sawah

Modernisasi pertanian juga membutuhkan listrik.

Perwakilan manajemen PLN Sulawesi, Albert, menyebut di wilayah kerja PLN UP3 Parepare-Sidrap terdapat sekitar 1.471 titik kebutuhan listrik untuk irigasi pertanian dan program listrik masuk sawah.

Sebanyak 1.073 titik di antaranya berada di Sidrap.

Investasi PLN di Sidrap disebut telah menembus lebih dari Rp100 miliar. Jaringan listrik juga terus diperluas, termasuk sekitar 120 titik baru di Desa Takkalasi, Tanete dan Allakuang.

Artinya, listrik di Sidrap tidak lagi hanya identik dengan rumah, toko atau industri.

Kini listrik ikut masuk ke petak-petak sawah.

Dan mungkin, di sanalah salah satu wajah baru pertanian Sidrap sedang tumbuh.

Oktober, Petani Bersiap Tanam Lagi

Panen hari ini bukan garis akhir.

Petani Sidrap justru sedang bersiap menyambut musim tanam berikutnya yang ditargetkan dimulai Oktober 2026.

Jumlah sumur bor juga direncanakan kembali ditambah pada periode 2026–2027.

Jika sebelumnya satu sumur melayani sekitar 10 hektare sawah, ke depan ditargetkan satu sumur dapat melayani sekitar lima hektare agar distribusi air semakin optimal.

Sebanyak 50 unit mesin pompa juga telah mendapat dukungan dari Wakil Gubernur Sulsel.

Semua itu bermuara pada satu tujuan: jangan sampai sawah berhenti hanya karena hujan terlambat datang.

Syaharuddin Alrif menyebut keberhasilan panen di tengah kemarau merupakan buah inovasi dan kerja keras bersama.

“Bisa dikatakan kemarau pergi merantau, tetapi karena inovasi dan kerja keras, jalan keluarnya sudah ada,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar seperti gurauan.

Tetapi di Takkalasi, gurauan itu punya bukti.

Padi berdiri.

Air mengalir.

Mesin pompa bekerja.

Dan petani memanen.

Kemarau boleh datang ke Sidrap.

Tetapi kali ini, kemarau tidak berhasil menyuruh petani berhenti menanam.

Di Bumi Nene Mallomo, sawah sedang belajar satu hal baru: ketika hujan tak kunjung datang, teknologi bisa menjadi jalan agar harapan tetap tumbuh. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini