Oleh: Tipue Sultan
TENDA itu sudah berdiri.
Itulah yang membuat cerita ini terasa lebih berat.
Kalau tendanya belum ada, mungkin kita bisa bilang: belum sempat.
Kalau undangannya belum tersebar, mungkin kita bisa bilang: belum jadi.
Kalau pelaminannya belum dipesan, mungkin kita masih bisa bilang: masih lama.
Tapi ini bukan begitu.
Tendanya sudah berdiri.
Pesta sudah di depan mata.
Tinggal satu hari lagi.
Putra sulungnya, Bota (Nama panggilan, red), akan menikah.
Dan ibunya, Samsinar, justru meninggal dunia.
Senin, 17 Agustus 2026.
Sesudah Maghrib.
Begitu saja.
Padahal Samsinar sangat ingin melihat Bota duduk di pelaminan.
Sangat ingin.
Barangkali bukan pestanya yang ia tunggu.
Bukan makanan.
Bukan ramainya tamu.
Bukan pula tenda yang berdiri itu.
Ia hanya ingin melihat satu pemandangan.
Anaknya.
Anak yang dulu mungkin ia timang-timang.
Yang pernah disuapi.
Yang pernah dimarahi.
Yang pernah membuatnya khawatir.
Kini sudah menjadi lelaki dewasa.
Dan akan menikah.
Ibu mana yang tidak ingin melihat itu?
Saya kira hampir semua ibu ingin.
Samsinar juga begitu.
Bahkan ia punya satu mimpi kecil lagi.
Foto keluarga.
Ia ingin berpose bersama suaminya, Darwis.
Bersama Bota.
Bersama dua putranya yang lain, Raihan dan Khalid.
Tiga anak laki-laki.
Satu keluarga.
Mungkin foto itu sudah dibayangkan berkali-kali.
Mungkin dalam pikirannya sudah ada tempat berdirinya.
Siapa di sebelah siapa.
Siapa yang tersenyum paling lebar.
Ah, namanya juga seorang ibu.
Hal-hal kecil begitu saja bisa menjadi kebahagiaan besar.
Tapi foto itu tidak pernah terjadi.
Samsinar keburu pergi.
Ia telah berpulang. Berpulang ke pangkuanNya.
Hidup memang suka begitu
Kita sering membuat rencana.
Besok begini.
Lusa begitu.
Minggu depan ada acara.
Bulan depan ada pesta.
Tahun depan mungkin ada yang lain lagi.
Kita merasa punya banyak waktu.
Padahal waktu tidak pernah merasa punya janji dengan kita.
Samsinar sudah menyiapkan diri untuk melihat anaknya menikah.
Tetapi Allah punya jadwal lain.
Bukan jadwal yang kita pilih.
Bukan jadwal yang kita mengerti.
Namun jadwal yang pasti.
Beberapa bulan terakhir Samsinar memang sedang berjuang.
Sakit.
Nyeri.
Tubuh semakin lemah.
Carcinoma mammae, begitu medisnya, sudah berada dalam kondisi berat ketika diketahui.
Tapi siapa yang mau menyerah hanya karena dokter mengatakan penyakitnya berat?
Tidak ada.
Keluarga mencari jalan.
Pengobatan medis ditempuh.
Klinik didatangi.
Rumah sakit didatangi.
Pengobatan tradisional pun dicoba.
Ada yang memberi tahu tempat ini.
Ada yang menyebut nama itu.
Ada yang bilang masih ada harapan.
Dicoba.
Lagi.
Dicoba lagi.
Sebab begitulah keluarga ketika menghadapi orang yang mereka cintai sedang sakit.
Harapan sekecil lubang jarum pun dicari.
Barangkali lewat lubang sekecil itu Tuhan memberi jalan.
Samsinar bertahan.
Mungkin bukan karena dirinya takut mati.
Tetapi karena ia masih ingin melihat anaknya menikah.
Tinggal satu hari
Ini bagian yang paling menyayat.
Tinggal satu hari.
Sehari saja.
Kalau Allah memberi tambahan waktu sehari, mungkin Samsinar masih bisa melihat Bota duduk di pelaminan.
Tapi manusia tidak pernah diberi tahu berapa sisa waktunya.
Samsinar pergi sehari sebelum pesta.
Tenda pernikahan masih berdiri ketika ia pergi.
Saya membayangkan bagaimana suasana rumah malam itu.
Di luar tenda.
Di dalam rumah duka.
Dua suasana yang seharusnya tidak bertemu.
Pesta dan kehilangan.
Pelaminan dan pemakaman.
Undangan dan belasungkawa.
Bahagia dan air mata.
Tetapi hidup mempertemukannya.
Dan keluarga Samsinar harus menerimanya.
Bota
Saya tidak tahu apa yang paling berat bagi Bota.
Kehilangan ibunya?
Atau menghadapi hari pernikahan tanpa ibunya?
Mungkin keduanya.
Ia akan menikah.
Tetapi orang yang paling ingin melihatnya menikah sudah tidak ada.
Nanti ketika penghulu bertanya.
Ketika akad diucapkan.
Ketika orang-orang mengatakan sah.
Mungkin semua akan tersenyum.
Ada yang bertepuk tangan.
Ada yang mengucapkan selamat.
Tetapi saya yakin ada satu ruang kosong di hati Bota.
Ruang itu bernama Ibu.
Tidak ada yang bisa menggantikannya.
Tidak ayah.
Tidak saudara.
Tidak teman.
Tidak siapa pun.
Sebab ibu punya tempat sendiri.
Dan tempat itu tidak bisa dipinjamkan.
Khalid
Ada pula Khalid.
Si bungsu.
Masih TK.
Sebentar lagi SD.
Usia ketika seorang anak masih mencari ibunya untuk banyak hal.
Bangun tidur mencari ibu.
Lapar mencari ibu.
Takut mencari ibu.
Sakit mencari ibu.
Nanti Khalid akan tumbuh.
Ia akan sekolah.
Ia akan besar.
Ia akan punya teman.
Mungkin suatu hari ia akan menikah juga.
Tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah ia alami lagi.
Memanggil ibunya.
Dan mendapatkan jawaban.
Itulah kehilangan.
Bukan sekadar tidak melihat seseorang.
Tetapi kehilangan suara yang dulu selalu menjawab ketika kita memanggil.
Dan tenda itu…
Tenda itu mungkin akan tetap dipakai.
Pesta Bota mungkin tetap berlangsung.
Hidup memang harus berjalan.
Tetapi saya yakin, pesta itu tidak akan pernah sama.
Akan ada kursi yang terasa kosong.
Ada nama yang disebut dengan suara bergetar.
Ada foto keluarga yang tidak lengkap.
Ada senyum yang dipaksakan agar pesta tetap berjalan.
Dan mungkin ada satu momen ketika Bota melihat ke suatu arah.
Mencari ibunya.
Lalu baru sadar:
Ibu sudah tidak ada.
Barangkali di situlah air mata paling sulit ditahan.
Bukan ketika orang datang melayat.
Bukan ketika jenazah dimakamkan.
Tetapi ketika pesta sudah dimulai.
Ketika semua orang bersuka cita.
Ketika seseorang berkata:
“Selamat ya, Bota.”
Lalu dalam hati ia menjawab:
“Seandainya Ibu masih ada.”
Seandainya.
Satu kata yang sering datang terlambat.
Samsinar pulang lebih dulu
Mungkin kita tidak pernah benar-benar kehilangan orang yang kita cintai.
Tubuhnya memang pergi.
Tetapi nasihatnya tinggal.
Kasih sayangnya tinggal.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
