Sidrap, Katasulsel.com — Angka ini mungkin yang paling menarik dari panen raya di Desa Takkalasi.
10,4 ton per hektare.
Itulah produktivitas padi yang berhasil dicapai petani Sidrap di tengah musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Bukan 7 ton seperti musim sebelumnya.
Produksinya melonjak hingga sekitar 10,4 ton per hektare.
Ada kenaikan lebih dari 3 ton setiap hektare.
Dan di balik angka itu ada satu cerita: air tetap mengalir ketika hujan tidak turun.
Panen Raya Oplah Non Rawa Program Listrik Masuk Sawah di Desa Takkalasi, Selasa (18/8/2026), menjadi salah satu gambaran bagaimana teknologi pompa dan listrik mulai mengubah cara petani Sidrap menghadapi musim kering.
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi datang menyaksikan langsung panen tersebut.
Ia menyebut capaian Sidrap luar biasa karena produktivitas tetap terjaga saat kemarau.
“Sidrap luar biasa. Di tengah musim kemarau masih bisa panen,” ujar Fatmawati.
Dari 7 Ton Menjadi 10,4 Ton
Angkanya menarik jika dibandingkan.
Pada musim tanam sebelumnya, produktivitas berada di kisaran 7 ton per hektare.
Kini mencapai sekitar 10,4 ton per hektare.
Artinya ada tambahan produksi sekitar 3,4 ton gabah dari setiap hektare.
Kalau luas sawah yang dikelola mencapai ratusan hektare, selisih tersebut bukan angka kecil.
Di Desa Takkalasi sendiri terdapat sekitar 395 hektare lahan pertanian yang dikelola 13 kelompok tani.
Jika produktivitas 10,4 ton per hektare dapat dipertahankan pada seluruh luasan tersebut, potensi produksi secara teoritis mencapai sekitar 4.108 ton gabah.
Angka itulah yang membuat program pengairan menjadi penting.
Sebab persoalannya bukan semata-mata bagaimana petani menanam.
Tetapi bagaimana memastikan tanaman tidak kekurangan air sampai tiba waktunya dipanen.
Rp78 Juta dari Satu Hektare
Ada angka lain yang tak kalah menarik.
Produktivitas meningkat.
Harga gabah juga naik.
Sebelumnya, dengan produktivitas sekitar 7 ton per hektare dan harga gabah Rp7.200 per kilogram, nilai produksi berada di sekitar Rp50,4 juta per hektare.
Sekarang, produktivitas sekitar 10,4 ton dengan harga gabah Rp7.500 per kilogram menghasilkan nilai produksi sekitar Rp78 juta per hektare.
Selisihnya sekitar Rp27,6 juta per hektare.
Jadi, peningkatan produksi tidak hanya terlihat di timbangan.
Ia juga terasa di hitungan ekonomi petani.
Ada 39 Sumur, 1.073 Titik Listrik
Takkalasi sebelumnya menghadapi masalah klasik musim kemarau.
Bendung Takkalasi yang menjadi sumber air ikut mengering.
Petani kemudian mendapat alternatif melalui pembangunan 39 titik sumur bor pada 2025.
Air dari dalam tanah dipompa menuju sawah.
Tetapi pompa membutuhkan energi.
Program listrik masuk sawah kemudian menjadi bagian penting dari solusi tersebut.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan listrik membuat biaya pompanisasi menjadi lebih ringan.
“Dengan voucher Rp100.000, pompa bisa digunakan selama tiga hari. Listrik mengalir, air mengalir,” ujarnya.
Di wilayah kerja PLN UP3 Parepare-Sidrap sendiri terdapat sekitar 1.471 titik kebutuhan listrik untuk irigasi pertanian dan program listrik masuk sawah.
Sebanyak 1.073 titik berada di Sidrap.
Angka itu menunjukkan betapa besar kebutuhan energi untuk menopang pertanian di daerah tersebut.
Targetnya Bukan Sekadar 10 Ton
Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi mengatakan hasil pertanian dengan produktivitas di atas 10 ton per hektare merupakan capaian yang memang diharapkan dari penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Di Majjelling, hasil panen sebelumnya bahkan mencapai lebih dari 11 ton per hektare.
“Memang ini yang kita harapkan, produksi pertanian bisa lebih dari 10 ton per hektare,” katanya.
Artinya, angka 10,4 ton di Takkalasi bukan titik akhir.
Justru menjadi pembanding untuk mengejar produktivitas lebih tinggi.
Pemerintah Provinsi Sulsel juga menjanjikan dukungan lanjutan untuk Sidrap pada 2027.
Mulai dari pencetakan sawah, optimalisasi lahan hingga pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi.
Rp65 Miliar untuk Menggenjot Pertanian
Dukungan itu bukan hanya dalam bentuk program.
Anggaran yang digelontorkan juga cukup besar.
Pada 2026, Pemprov Sulsel mengalokasikan sekitar Rp65 miliar untuk berbagai program penguatan pertanian.
Rinciannya antara lain:
- Rp21 miliar untuk pencetakan sekitar 600 petak sawah.
- Rp14 miliar untuk optimalisasi lahan sekitar 3.200 hektare di Sidrap.
- Rp23 miliar untuk sekitar 150 unit pompa.
- Rp3,8 miliar untuk irigasi tersier di 38 titik.
- Sekitar Rp1 miliar untuk irigasi perpipaan di sekitar 10 titik.
Sidrap juga mendapat dukungan benih gratis melalui program PM-AAS untuk sekitar 10.000 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulsel Bustanul Arifin menegaskan Sidrap tetap ditempatkan sebagai salah satu sentra utama produksi pertanian Sulsel.
Kemarau Datang, Produksi Justru Naik
Inilah bagian paling menarik dari cerita Takkalasi.
Musim sebelumnya sekitar 7 ton.
Sekarang 10,4 ton.
Harga gabah dari Rp7.200 menjadi Rp7.500 per kilogram.
Nilai produksi dari sekitar Rp50,4 juta menjadi Rp78 juta per hektare.
Di tengah kemarau.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari inovasi.
“Bisa dikatakan kemarau pergi merantau, tetapi karena inovasi dan kerja keras, jalan keluarnya sudah ada,” katanya.
Petani kini bersiap memasuki musim tanam berikutnya yang ditargetkan mulai Oktober 2026.
Jumlah sumur bor juga direncanakan ditambah pada 2026–2027.
Jika sebelumnya satu sumur melayani sekitar 10 hektare, ke depan ditargetkan satu sumur melayani sekitar 5 hektare.
Tujuannya sederhana.
Air semakin dekat.
Pompa semakin mudah bekerja.
Produksi semakin tinggi.
Dan kalau angka 10,4 ton per hektare ini bisa dipertahankan atau bahkan dinaikkan, Sidrap bukan hanya sedang melawan kemarau.
Sidrap sedang menunjukkan kepada Sulawesi Selatan bahwa sawah kering tidak selalu berarti produksi harus turun.
Kadang, jawabannya bukan menunggu hujan.
Tetapi membuat air sendiri, menyalakan listrik, lalu membiarkan petani kembali memanen. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
