Sidrap, Katasulsel.com — Padi belum dipanen, kemarau sudah datang.

Bagi petani, kombinasi itu cukup membuat cemas.

Sebab ketika tanaman sudah mendekati panen, kebutuhan air belum berhenti. Justru pada fase inilah petani berharap tanaman bisa bertahan sampai bulir benar-benar siap dipanen.

Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Syaharuddin Alrif memilih tidak menunggu persoalan itu membesar.

Selasa (29/9/2026), ia turun langsung ke sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Tellu Limpoe.

Dari Amparita, Kelurahan Arateng, hingga Desa Teteaji, Syahar melihat sendiri kondisi sawah yang mulai menghadapi tekanan kemarau.

Tetapi kunjungan itu bukan sekadar melihat.

Syahar datang membawa satu pertanyaan:

Dari mana air bisa didatangkan?

Jawabannya mulai diarahkan ke Danau Sidenreng.

Bukan menunggu hujan.

Bukan pula membiarkan petani berharap pada cuaca.

Pemerintah daerah mengupayakan air dari Danau Sidenreng dipompa menuju lahan pertanian yang membutuhkan.

ā€œKami mengupayakan pengaliran air dari Danau Sidenreng yang dibantu dengan mesin pompa air 3 inch atau 4 inch supaya padi warga yang belum dipanen bisa terselamatkan sampai panen,ā€ ujar Syaharuddin.

Solusinya sederhana.

Tetapi dalam situasi kemarau, sederhana bukan berarti mudah.

Air harus diambil dari sumbernya.

Dipompa.

Dialirkan.

Kemudian dibagi agar menjangkau sawah yang membutuhkan.

Karena itu, Syahar tidak hanya melihat sumber air.

Ia juga turun mengecek petak sawah untuk memastikan air yang akan dialirkan nantinya benar-benar dapat menjangkau lahan sasaran.

Di sinilah pendekatan pemerintah diuji: bukan hanya menyediakan air, tetapi memastikan air sampai ke tanaman.

Bukan sekadar pompa, tetapi manajemen air

Syahar juga meminta pemerintah kelurahan dan desa, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta masyarakat bekerja bersama.

Tujuannya satu: air yang tersedia jangan sampai hanya dinikmati sebagian petani.

Distribusi harus dikelola.

Penggunaan harus diatur.

Petani harus saling membantu.

Dalam kondisi sumber daya air terbatas, manajemen distribusi menjadi sama pentingnya dengan keberadaan sumber air itu sendiri.

Apalagi yang hendak diselamatkan bukan satu petak sawah.

Ada banyak tanaman yang masih menunggu panen.

Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak selalu harus dijawab dengan menunggu musim berubah.

Ketika hujan belum datang, pemerintah mencari sumber air yang masih tersedia.

Ketika air berada di tempat lain, pompa menjadi alat untuk memindahkannya.

Dan ketika air sudah sampai, masyarakat diminta bersama-sama mengaturnya.

Cari sumbernya. Pompa airnya. Atur distribusinya. Selamatkan padinya.

Itulah garis besar solusi yang sedang didorong Syahar di tengah kemarau.

Petani: ā€œIni sangat membantu kamiā€

Di Desa Teteaji, petani Lababa menyambut upaya tersebut.

Baginya, air yang bisa dialirkan ke sawah berarti kesempatan untuk mempertahankan tanaman sampai masa panen.

ā€œIni sangat membantu kami, Pak,ā€ ujar Lababa.

Kalimat pendek itu menggambarkan kebutuhan petani saat ini.

Mereka tidak sedang meminta sawahnya dibuat subur dalam semalam.

Mereka hanya ingin tanaman yang sudah dirawat berbulan-bulan tidak gagal menjelang panen.

Danau Sidenreng pun kini bukan sekadar bentang air di tengah Sidrap.

Dalam situasi kemarau, ia menjadi salah satu sumber daya yang coba dimanfaatkan untuk mempertahankan produktivitas pertanian.

Pemerintah Kabupaten Sidrap menyatakan akan terus mengupayakan ketersediaan air bagi petani selama musim kemarau.

Sebab bagi daerah yang menggantungkan sebagian ekonominya pada pertanian, menyelamatkan air berarti menyelamatkan lebih dari sekadar tanaman.

Ada pendapatan keluarga petani.

Ada kebutuhan pangan.

Ada hasil panen.

Dan ada keberlanjutan ekonomi di desa.

Di Tellu Limpoe, Syahar tidak menjanjikan hujan turun besok.

Ia memilih mencari air yang masih ada hari ini.

Dari Danau Sidenreng.

Dengan pompa 3 atau 4 inci.

Lalu mengantarkannya ke sawah.

Karena bagi petani, terkadang solusi tidak perlu menunggu langit berubah.

**Yang penting, air sampai sebelum padi menyerah. (edybasri)