Oleh: Dinda Fatimah Zahra

Katanya bapak pulang
membawa seekor ayam.
Aku menunggu bau nasi,
kampung menunggu amarah.

Orang-orang mengepungmu
seperti pagar yang lupa cara membuka.
Tubuhmu berpindah dari satu tangan
ke tangan yang lain.

Aku berlari memanggilmu.
“Bapak…
Bapak…
Bapak…”

Namun lenganku lebih dulu ditahan.
Tanganku mengejar bajumu,
tapi tubuh kecilku
kalah oleh banyak orang dewasa.

Aku tak mengerti
mengapa seekor ayam
lebih cepat dihitung
daripada napas seorang bapak.

Kau semakin diam.
Aku semakin keras memanggil.
Di antara gaduh kampung,
namaku kehilangan jawaban.

“Bapak…
Bapak…
Bapak…”

Suaraku pecah
sementara tubuhmu
tak lagi menoleh.

Sore turun perlahan.
Ayam-ayam kembali ke kandang.
Hanya bapakku
yang tak pernah pulang.

Tanjung Priok, 27 Juli 2026

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru