Oleh: Anisa Azzahra
(Mahasiswi Universitas Hasanuddin)
ADA tanaman yang nasibnya mirip tetangga baik. Selalu ada di sekitar kita, tetapi jarang benar-benar diperhatikan.
Namanya daun kelor.
Di Desa Ujung Labuang, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, pohon kelor tumbuh tanpa perlu dipelihara secara istimewa. Ia hidup di pekarangan, di sudut kebun, bahkan kadang dianggap tanaman biasa saja. Daunnya dipetik ketika diperlukan. Selebihnya, dibiarkan tumbuh begitu saja.
Padahal, kalau tanaman bisa berbicara, mungkin kelor sudah lama protes.
“Saya ini kaya manfaat, kenapa hanya dianggap sayur pelengkap?”
Pertanyaan imajiner itu justru menjadi alasan saya membawa tema pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam program KKN-T Gelombang 116 Universitas Hasanuddin. Minggu, 2 Agustus 2026, di Kantor Desa Ujung Labuang, saya mencoba mengajak warga melihat kembali sesuatu yang selama ini berada sangat dekat dengan mereka.
Bukan dengan ceramah yang rumit. Apalagi dengan istilah ilmiah yang membuat dahi berkerut.
Saya memilih cara yang lebih sederhana: mengajak warga mencicipi kelor dalam bentuk puding.
Terdengar sepele.
Namun sering kali perubahan memang berawal dari hal-hal kecil.
Ketika sosialisasi dimulai, sebagian peserta sudah mengenal kelor sebagai sayuran. Itu bukan hal baru. Yang menarik adalah ketika mereka mengetahui bahwa daun kecil berwarna hijau itu menyimpan kandungan vitamin, mineral, antioksidan, dan berbagai zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh.
Di sinilah persoalannya.
Banyak masyarakat mengenal kelor. Tetapi belum banyak yang mengenal potensi besarnya.
Kita sering sibuk mencari makanan sehat yang mahal, sementara sumber gizi justru tumbuh di halaman rumah sendiri.
Karena itu, demonstrasi pembuatan puding daun kelor menjadi bagian yang paling dinanti. Warga melihat langsung bagaimana daun yang biasanya masuk panci sayur dapat berubah menjadi pangan fungsional yang lebih menarik, terutama bagi anak-anak yang sering kali enggan mengonsumsi sayuran.
Wajah-wajah penasaran mulai terlihat.
Ada yang bertanya tentang rasa. Ada yang bertanya tentang cara membuatnya. Ada pula yang mulai membayangkan variasi olahan lain yang bisa dicoba di rumah.
Bagi saya, di situlah inti kegiatan ini.
Bukan sekadar membuat puding.
Melainkan mengubah cara pandang.
Bahwa kesehatan keluarga tidak selalu harus datang dari produk mahal atau bahan yang sulit diperoleh. Kadang jawabannya justru tumbuh di pekarangan sendiri.
Kepala Desa Ujung Labuang yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, masyarakat memperoleh pengetahuan baru mengenai potensi daun kelor yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayuran, padahal dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai tambah.
Saya sepakat.
Kelor bukan tanaman baru. Yang baru adalah cara kita memanfaatkannya.
Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting dari kegiatan ini.
Bahwa pembangunan kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari program besar dengan anggaran besar. Kadang ia lahir dari kesadaran sederhana untuk memanfaatkan apa yang sudah tersedia di sekitar kita.
Daun kelor hanyalah contoh.
Tetapi dari contoh kecil itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: potensi lokal tidak akan pernah memberi manfaat maksimal jika hanya dipandang sebelah mata.
Di Ujung Labuang, saya belajar satu hal. Masyarakat sebenarnya memiliki sumber daya yang luar biasa. Yang mereka butuhkan sering kali bukan sesuatu yang baru, melainkan cara baru untuk melihat sesuatu yang sudah lama ada.
Dan hari itu, daun kelor mendapat kesempatan untuk bercerita.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita pinrang Hari Ini .
