Pinrang, Katasulsel.com — Sebuah sekolah bisa berubah berkali-kali. Gedungnya diperbarui, ruang kelas bertambah, fasilitas semakin lengkap, dan teknologi masuk ke ruang belajar.
Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah berubah: jejak generasi yang pernah belajar di dalamnya.
Di Pinrang, salah satu sekolah yang memiliki perjalanan panjang itu adalah SMP Negeri 1 Pinrang.
Dokumen resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sekolah ini memiliki SK pendirian Nomor 4349/B/III/56 dengan tanggal 23 Agustus 1956. Sekolah tersebut kini berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 56, Kecamatan Watang Sawitto.
Artinya, perjalanan sekolah ini sudah berlangsung selama sekitar tujuh dekade.
Selama itu pula, wajah pendidikan dan kehidupan masyarakat Pinrang ikut berubah.
Dari 1956 hingga generasi hari ini
Sebuah penelitian yang tersimpan di repository IAIN Parepare mencatat sejarah singkat SMP Negeri 1 Pinrang dan menyebut sekolah tersebut berdiri pada 23 Agustus 1956.
Penelitian itu juga mencatat sejumlah kepala sekolah yang pernah memimpin sekolah tersebut sejak awal berdiri, mulai dari H. Husain pada 1956 hingga para kepala sekolah pada periode berikutnya.
Bagi sebuah sekolah, pergantian kepala sekolah mungkin merupakan bagian dari administrasi.
Namun jika dilihat dalam rentang puluhan tahun, pergantian itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar.
Ada generasi guru yang datang dan kemudian pensiun.
Ada siswa yang masuk sebagai anak-anak dan meninggalkan sekolah sebagai remaja.
Ada pula alumni yang setelah bertahun-tahun mungkin kembali melewati halaman sekolah yang pernah menjadi bagian dari masa mudanya.
Sekolah akhirnya bukan hanya tempat belajar.
Ia menjadi bagian dari ingatan sebuah kota.
Bangunan boleh berubah, kenangan tetap tinggal
Sekolah yang berdiri sejak 1956 tentu tidak berada dalam kondisi yang sama seperti ketika pertama kali berdiri.
Data resmi saat ini menunjukkan SMP Negeri 1 Pinrang telah berkembang dengan lahan sekitar 11.330 meter persegi dan memiliki berbagai fasilitas pendidikan. Sekolah tersebut juga tercatat berakreditasi A.
Perubahan semacam itu sebenarnya menggambarkan perjalanan pendidikan itu sendiri.
Dulu, kebutuhan sekolah tentu berbeda.
Hari ini, siswa belajar dengan dukungan internet, laboratorium, perpustakaan, dan fasilitas yang jauh lebih beragam.
Tetapi di balik perubahan tersebut ada satu hal yang tetap sama: anak-anak datang ke sekolah untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.
Bedanya, setiap generasi menjalani proses itu dalam zamannya masing-masing.
Dari papan tulis hingga teknologi
Perubahan sekolah juga mencerminkan perubahan kehidupan masyarakat.
Generasi yang belajar pada dekade 1950-an tentu tidak mengenal telepon pintar, internet, atau pembelajaran berbasis teknologi seperti yang dikenal siswa sekarang.
Hari ini, akses internet bahkan tercatat sebagai bagian dari sarana pendidikan SMP Negeri 1 Pinrang.
Perubahan tersebut bukan sekadar soal fasilitas.
Cara anak memperoleh informasi juga berubah.
Jika dahulu buku dan penjelasan guru menjadi sumber utama pembelajaran, siswa sekarang dapat mengakses begitu banyak informasi dalam waktu singkat.
Namun tantangannya pun ikut berubah.
Sekolah harus tetap menjadi tempat bagi siswa untuk belajar memilah informasi, berpikir kritis, berinteraksi, dan membangun karakter.
Cerita sekolah sebenarnya adalah cerita manusia
Menariknya, usia sebuah sekolah tidak hanya bisa dihitung dari tahun berdirinya.
Ada ukuran lain yang jauh lebih manusiawi: berapa banyak generasi yang pernah melewati gerbangnya.
Ada siswa yang mungkin datang dengan seragam baru dan rasa gugup.
Ada yang kemudian menemukan sahabat.
Ada yang pertama kali mengikuti upacara.
Ada yang mendapat nilai buruk, lalu belajar lagi.
Ada yang aktif dalam organisasi atau kegiatan sekolah.
Dan ada yang bertahun-tahun kemudian masih mengingat nama gurunya.
Cerita-cerita semacam itu mungkin tidak tercatat dalam dokumen pendirian sekolah.
Tetapi justru di situlah nilai sebuah sekolah tua.
Dokumen memberi tahu kapan sekolah berdiri.
Alumni dan para gurulah yang menyimpan cerita tentang bagaimana sekolah itu hidup.
Pendidikan Pinrang terus berubah
SMP Negeri 1 Pinrang hanyalah salah satu bagian dari perjalanan pendidikan di Kabupaten Pinrang.
BPS Kabupaten Pinrang secara berkala menerbitkan statistik pendidikan yang menggambarkan kondisi pendidikan daerah. Publikasi Statistik Pendidikan Kabupaten Pinrang 2024, misalnya, disusun berdasarkan data yang dikumpulkan BPS melalui Susenas Maret 2024.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Pinrang terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat.
Sekolah bertambah.
Fasilitas berkembang.
Akses pendidikan berubah.
Dan generasi baru terus datang.
Di tengah perubahan itu, sekolah-sekolah yang telah berdiri puluhan tahun memiliki posisi yang menarik.
Mereka bukan hanya bagian dari sistem pendidikan.
Mereka juga menjadi penanda waktu.
Ketika sebuah sekolah masih berdiri setelah puluhan tahun, kita sebenarnya sedang melihat perjalanan beberapa generasi dalam satu tempat.
Gerbang yang terus dilewati generasi
Hampir tujuh dekade setelah tanggal pendiriannya, SMP Negeri 1 Pinrang masih menjadi tempat berlangsungnya proses belajar.
Nama sekolahnya tetap.
Lokasinya tetap menjadi bagian dari Pinrang.
Tetapi anak-anak yang datang ke sana terus berganti.
Itulah mungkin cerita paling menarik dari sebuah sekolah tua.
Bukan sekadar soal bangunan yang bertahan.
Bukan pula hanya soal angka tahun pendirian.
Melainkan tentang generasi yang datang silih berganti dan meninggalkan sebagian kecil cerita hidupnya di tempat yang sama.
Pada akhirnya, sejarah sebuah sekolah bukan hanya tercatat pada SK pendirian.
Ia juga tersimpan dalam ingatan guru, cerita alumni, foto-foto lama, buku rapor, catatan kegiatan, dan kenangan sederhana yang mungkin masih dibawa seseorang hingga puluhan tahun kemudian.
Dan di Pinrang, jejak itu masih bisa ditemukan.
Di balik sebuah gerbang sekolah yang setiap pagi kembali dibuka untuk generasi berikutnya.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Parepare Hari Ini .
