Pinrang, Katasulsel.com — Ada sejarah yang tersimpan di dalam buku. Ada pula yang justru bertahan di sebuah masjid tua, kompleks makam, rumah adat, naskah lontaraq, hingga tradisi yang masih dijalankan masyarakat.

Pinrang memiliki semuanya.

Karena itu, mengenal Pinrang tidak cukup hanya dengan melihat perkembangannya hari ini. Sesekali, kita perlu menoleh ke belakang dan membaca kembali jejak yang masih tersisa.

Sebab di balik tempat-tempat yang mungkin setiap hari dilewati warga, ada cerita tentang kerajaan, tokoh, masyarakat dan kebudayaan yang membentuk perjalanan daerah ini.

Sebagian telah terdokumentasi.

Sebagian lainnya masih hidup melalui ingatan masyarakat.

Satu nama, sebuah pintu menuju masa lalu

Suppa menjadi salah satu pintu untuk melihat panjangnya jejak sejarah di wilayah Pinrang.

Dalam tradisi tulis Bugis, terdapat naskah Toloqna Iyarega Minruranna Suppa atau Alkisah Suppa.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat naskah tersebut mengisahkan peperangan antara Raja Suppa dan pihak Kompeni Belanda yang berusaha menguasai wilayah Suppa.

Bagi pembaca masa kini, lontaraq mungkin terlihat seperti naskah lama.

Tetapi bagi sejarah lokal, ia adalah jejak penting.

Dari sana, kita bisa melihat bagaimana sebuah peristiwa masa lalu direkam dan diwariskan dalam tradisi masyarakat.

Yang menarik, sumber kebudayaan tersebut juga mencatat bahwa naskah lontaraq yang secara khusus menceritakan Suppa masih terbatas.

Dengan kata lain, masih ada ruang untuk menggali sejarah Suppa lebih jauh.

Ketika bangunan tua menjadi saksi

Cerita masa lalu Pinrang juga meninggalkan jejak dalam bentuk bangunan dan situs.

Pemerintah Kabupaten Pinrang mencatat sejumlah objek budaya dan sejarah, antara lain Masjid Tua Raja-Raja Kaballang, Masjid Tua At Taqwa Jampue, Saoraja Datu Lanrisang, Masjid Tua Tondo Bunga, Istana Datu Suppa, Istana Addatuang Sawitto, Kompleks Makam Raja-Raja Sawitto dan Makam Lasinrang.

Bagi sebagian orang, tempat-tempat tersebut mungkin hanya terlihat sebagai bangunan lama atau kompleks makam.

Tetapi bagi sebuah daerah, keberadaannya memiliki arti lebih besar.

Ia menjadi penanda bahwa pernah ada kehidupan sosial, pemerintahan, kekuasaan dan kebudayaan yang berkembang pada masanya.

Jejak itu masih berada di tengah masyarakat Pinrang hingga sekarang.

Tidak semua sejarah berbentuk batu dan bangunan

Ada warisan yang jauh lebih sulit dilihat.

Namanya tradisi.

Di Desa Alitta, Kecamatan Mattiro Bulu, masyarakat mengenal Maccera Siwanua.

Penelitian mengenai tradisi tersebut mendokumentasikannya sebagai tradisi menyucikan kampung sekaligus pesta rakyat masyarakat Desa Alitta.

Di sinilah sejarah lokal mengambil bentuk yang berbeda.

Tidak ada halaman buku yang harus dibuka untuk melihatnya.

Tradisi itu hadir ketika masyarakat melaksanakannya.

Pengetahuan diwariskan.

Nilai-nilai diteruskan.

Dan sebuah cerita kampung tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Dari cerita kampung sampai lembaga adat

Warisan tersebut juga berkaitan dengan keberadaan lembaga adat di Pinrang.

Dalam dokumen pemerintah daerah tercatat sejumlah lembaga adat, di antaranya Lembaga Adat Addatuang Sawitto, Lembaga Adat Kedatuan Suppa dan Lembaga Adat Datu Lanrisang.

Keberadaan lembaga-lembaga itu menjadi pengingat bahwa sejarah dan kebudayaan bukan sesuatu yang sepenuhnya berhenti pada masa lalu.

Ada masyarakat yang masih membawa sebagian warisan tersebut ke masa sekarang.

Maka sebuah cerita tentang Pinrang tidak selalu harus dimulai dari tanggal dan tahun.

Kadang ia bisa dimulai dari satu tempat.

Dari sebuah makam.

Dari rumah tua.

Dari nama sebuah kampung.

Atau dari cerita seorang warga yang masih mengingat apa yang pernah diceritakan orang tuanya.

Sejarah yang belum selesai

Di sinilah kekayaan cerita lokal Pinrang berada.

Tidak semuanya sudah tersusun rapi dalam buku sejarah.

Ada yang berada dalam arsip.

Ada yang tersimpan dalam naskah.

Ada yang melekat pada situs dan bangunan.

Dan ada yang hidup dalam ingatan masyarakat.

Namun satu hal perlu dibedakan: cerita lisan tidak otomatis menjadi fakta sejarah sebelum dapat diverifikasi.

Justru karena itu, setiap kisah lokal membutuhkan penelusuran.

Dokumen perlu diperiksa.

Naskah perlu dibaca.

Situs perlu didata.

Dan kesaksian masyarakat perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.

Dengan cara itulah cerita lokal tidak sekadar menjadi legenda, tetapi dapat menjadi pengetahuan yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pinrang masih memiliki banyak ruang untuk ditelusuri.

Bukan karena sejarahnya tidak pernah ditulis.

Melainkan karena setiap generasi bisa menemukan kembali cerita yang sebelumnya luput diperhatikan.

Mungkin sebuah makam tua.

Mungkin sebuah naskah yang lama tersimpan.

Mungkin sebuah tradisi yang masih dijalankan.

Atau mungkin cerita sederhana dari sebuah kampung yang selama ini dianggap biasa.

Di situlah sejarah Pinrang terus hidup.

Dan cerita itu belum selesai.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita pinrang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar pinrang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita pinrang terbaru di sini