Soppeng, Katasulsel.com — Tidak semua peninggalan sejarah berada di museum.

Sebagian masih tersimpan di rumah-rumah warga, dirawat oleh keluarga yang mewarisinya dari generasi ke generasi.

Salah satunya berada di Cangadi, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng.

Di kediaman Panre Hemma, tersimpan 17 naskah kuno Bugis yang sebagian ditulis di atas daun lontar dan sebagian lainnya menggunakan kertas. Koleksi tersebut merupakan warisan keluarga yang telah diturunkan secara turun-temurun selama tujuh generasi.

Tujuh generasi berarti bukan hanya soal usia sebuah benda.

Ada keluarga yang selama bertahun-tahun mempertahankan tanggung jawab untuk menjaga sesuatu yang diwariskan leluhur.

Di situlah kisah lontara Cangadi menjadi menarik.

Sejarah yang Bertahan di Dalam Rumah

Lontara merupakan bagian dari tradisi literasi masyarakat Bugis.

Melalui naskah, pengetahuan dari masa lalu dapat dicatat dan diwariskan. Isinya tidak selalu berupa satu jenis cerita. Koleksi Panre Hemma disebut memuat berbagai kisah sejarah, sastra, serta pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat Bugis pada zamannya.

Artinya, 17 naskah tersebut bukan sekadar benda lama.

Ia menjadi bagian dari jejak pengetahuan masyarakat pada masa lalu.

Setiap lembar memiliki konteks sejarahnya sendiri. Setiap tulisan menjadi bagian dari cara masyarakat pada zamannya merekam pengetahuan yang mereka anggap penting.

Dan menariknya, sebagian naskah itu masih berada di tempat yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga: rumah.

Tujuh Generasi Menjaga Warisan

Sebuah naskah dapat bertahan selama puluhan atau bahkan ratusan tahun karena bahan dan teknik penyimpanannya.

Namun, keberadaan benda saja tidak cukup.

Harus ada orang yang menjaganya.

Dalam kasus koleksi Panre Hemma, tanggung jawab tersebut berlangsung selama tujuh generasi. Warisan itu berpindah dari satu generasi keluarga kepada generasi berikutnya hingga akhirnya tetap tersimpan sampai sekarang.

Di sinilah warisan budaya memiliki dimensi yang sangat manusiawi.

Sebelum menjadi bahan penelitian, naskah itu lebih dulu menjadi sesuatu yang dianggap penting oleh sebuah keluarga.

Sebelum dikenal sebagai peninggalan sejarah, ia telah menjadi bagian dari proses pewarisan.

Dan sebelum dilihat oleh masyarakat luas, ia terlebih dahulu dijaga di dalam lingkungan keluarga.

17 Naskah dan Jejak Pengetahuan Bugis

Jumlah 17 mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan koleksi perpustakaan atau museum.

Namun, setiap naskah memiliki nilai tersendiri.

Pemkab Soppeng menyebut koleksi tersebut memuat sejarah, sastra, dan pengetahuan masyarakat Bugis pada zamannya. Karena itu, keberadaannya dapat menjadi sumber untuk memahami bagaimana pengetahuan dan pengalaman masyarakat direkam pada masa lalu.

Naskah kuno juga memberikan jenis informasi yang berbeda dari peninggalan berupa bangunan.

Situs sejarah memperlihatkan tempat.

Benda pusaka memperlihatkan material budaya.

Sementara naskah meninggalkan catatan tentang pengetahuan manusia.

Itulah sebabnya keberadaan lontara menjadi penting bagi upaya memahami sejarah dan kebudayaan Bugis.

Tantangannya Bukan Sekadar Menyimpan

Memiliki naskah kuno tidak otomatis berarti persoalannya selesai.

Naskah yang berusia panjang membutuhkan perawatan agar kondisi fisiknya tetap terjaga.

Budayawan Sulawesi Selatan Abdi Mahesa menyebut pelestarian naskah membutuhkan perhatian, mulai dari penyimpanan, keamanan, hingga upaya menjaga ketahanan fisik naskah agar tetap lestari.

Tantangan lainnya adalah memastikan generasi berikutnya tidak hanya mengetahui bahwa naskah itu ada, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Sebab warisan budaya tidak cukup hanya disimpan.

Ia perlu dipelajari.

Perlu didokumentasikan.

Dan, jika memungkinkan, perlu dibuka ruang agar generasi muda dapat mengenalinya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari Rumah Cangadi ke Perhatian Pemerintah

Keberadaan koleksi tersebut mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Soppeng.

Bupati Soppeng Suwardi Haseng mengunjungi kediaman Panre Hemma di Cangadi pada 29 Juni 2026 untuk melihat langsung koleksi naskah kuno tersebut. Dalam kunjungan itu, pemerintah menegaskan perhatian terhadap upaya pelestarian naskah sebagai bagian dari warisan budaya Soppeng.

Abdi Mahesa juga menyebut adanya rencana agar naskah-naskah tersebut ke depan dapat masuk dalam program pemajuan kebudayaan, termasuk kemungkinan pengusulan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional maupun Ingatan Kolektif Nasional. Namun, pengusulan tersebut merupakan langkah yang direncanakan, bukan status yang sudah ditetapkan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian naskah tidak lagi hanya menjadi urusan keluarga.

Ada tanggung jawab yang lebih luas untuk memastikan peninggalan tersebut tetap aman dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan.

Ketika Rumah Menjadi Penjaga Sejarah

Selama tujuh generasi, 17 naskah itu berpindah melalui tangan keluarga.

Zaman berubah.

Cara manusia menyimpan informasi berubah.

Teknologi berkembang jauh melampaui media daun lontar dan kertas.

Namun, ada satu hal yang tetap sama: kebutuhan manusia untuk meninggalkan pengetahuan bagi generasi setelahnya.

Koleksi Panre Hemma memperlihatkan bahwa menjaga sejarah tidak selalu dimulai dari gedung besar atau institusi resmi.

Kadang, ia dimulai dari sebuah rumah.

Dari keluarga yang memilih untuk tidak membuang sesuatu yang diwariskan leluhur.

Dari tangan yang merawat benda lama ketika zaman sudah berubah.

Dan dari kesadaran bahwa apa yang tampak seperti lembaran tua bagi sebagian orang, bisa menjadi sumber pengetahuan yang berharga bagi generasi berikutnya.

Di Cangadi, Soppeng, sejarah tidak hanya diceritakan. Ia masih disimpan.

Sebanyak 17 naskah menjadi pengingat bahwa perjalanan pengetahuan masyarakat Bugis pernah ditulis, diwariskan, dan dijaga.

Selama masih ada yang merawatnya, cerita dari masa lalu itu belum selesai.

Tujuh generasi telah menjaganya. Kini, tantangannya adalah memastikan generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk mengenalnya.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini