Soppeng, Katasulsel.com– Ada tempat di Soppeng yang membuat orang datang bukan hanya untuk melihat alam. Mereka datang untuk merendam tubuh, mencari udara yang lebih sejuk, atau sekadar ingin tahu mengapa air di tengah kawasan hutan bisa terus mengalir dalam keadaan panas.

Tempat itu bernama Lejja.

Pemandian Air Panas Lejja berada di Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Kawasan ini termasuk Taman Wisata Alam (TWA) Lejja dan berada dalam kawasan hutan. Sumber air panasnya merupakan mata air alami dengan suhu yang disebut dapat mencapai 60 derajat Celsius.

Tetapi Lejja tidak hanya menawarkan kolam untuk berendam.

Di kawasan itu, pengunjung dapat menyusuri jalan setapak menuju sumber air panas. Ada aliran sungai kecil, bebatuan yang dialiri air panas, hingga uap yang terlihat dari permukaan tanah. Di ujung jalur tersebut terdapat sebuah pohon dengan lubang di bawah akarnya. Dari kawasan itulah sumber air panas Lejja berada.

Pertanyaannya kemudian sederhana: mengapa airnya panas?

Menurut informasi yang dihimpun melalui Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, sumber air panas Lejja berkaitan dengan aktivitas geotermal. Air hujan meresap melalui celah bebatuan ke dalam tanah, kemudian mengalami pemanasan sebelum kembali muncul sebagai mata air panas. Kawasan tersebut disebut pernah menjadi wilayah gunung api yang kini sudah tidak aktif.

Karena itu, Lejja sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada kolam-kolam tempat wisata yang sekarang digunakan pengunjung.

Sumber air panasnya sudah ada sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata. Pemerintah daerah kemudian melakukan penataan dan membangun sejumlah kolam agar sumber mata air tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi.

Namun ada satu hal lain yang membuat Lejja menarik.

Di sekitar sumber air panas terdapat botol dan kaleng yang sengaja diikatkan pengunjung pada pohon. Pemerintah Kabupaten Soppeng mencatat kebiasaan tersebut sebagai simbol pengharapan. Ada masyarakat yang meyakini ikatan itu sebagai penanda harapan yang suatu saat akan diwujudkan, lalu mereka kembali untuk melepaskannya. Ada pula yang memaknainya sebagai simbol ikatan pasangan.

Di titik itu, Lejja tidak lagi hanya bercerita tentang air.

Ada orang yang datang membawa tubuh yang ingin beristirahat. Ada yang membawa keluarga. Ada pula yang datang membawa harapan, lalu meninggalkan sebotol kecil yang terikat di antara pepohonan.

Cerita semacam itu tumbuh berdampingan dengan alam.

Lejja juga berada dalam kawasan konservasi. Taman Wisata Alam ini merupakan bagian dari kawasan yang dikelola dalam konteks konservasi sumber daya alam. Keberadaan hutan di sekelilingnya membuat pengalaman berkunjung ke Lejja tidak berhenti pada kolam air panas. Pengunjung juga dapat menikmati bentang alam yang mengitarinya.

Itulah yang membuat Lejja punya cerita berlapis. Ada air yang keluar dari perut bumi, hutan yang menjaga kawasan, manusia yang datang untuk berendam, dan harapan yang sengaja ditinggalkan dalam bentuk botol atau kaleng yang terikat pada pohon.

Mungkin itu sebabnya Lejja tidak pernah benar-benar hanya menjadi tempat untuk mandi air panas.

Sebab ketika pengunjung pulang, airnya tetap mengalir.

Yang tertinggal justru cerita siapa yang pernah datang, apa yang ia harapkan, dan apakah suatu hari ia akan kembali untuk melepaskan ikatannya.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini