Wajo, Katasulsel.com — Di Pakkana, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, suara alat tenun menjadi bagian dari kehidupan yang sudah berlangsung lintas generasi.

Kain demi kain dibuat dari benang yang disusun dengan teliti. Motif dibentuk. Warna dipadukan. Lalu, selembar kain yang semula hanya berupa benang perlahan berubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya.

Desa ini bahkan dikenal sebagai desa sutera karena menjadi salah satu pusat pengrajin kain sutera di Wajo. Pemerintah Desa Pakkanna mencatat kawasan tersebut sebagai perkampungan sutera.

Namun, ada cerita yang membuat keberadaan kampung ini lebih menarik.

Tradisi menenun di Pakkana tidak tumbuh dalam situasi yang selalu mudah.

Ketika industri sutera Wajo pernah mengalami krisis, keterampilan menenun justru tetap dipertahankan masyarakat.

Di situlah cerita Pakkana sebenarnya bermula: bukan sekadar tentang kain yang dihasilkan, tetapi tentang sebuah keterampilan yang memilih untuk bertahan.

Ketika Sutera Wajo Menghadapi Krisis

Penelitian Universitas Negeri Makassar mengenai Kampung Sutera BNI Pakkana periode 2011–2019 mencatat bahwa industri sutera Wajo mengalami krisis pada dekade 1980-an, antara lain akibat kelangkaan bahan baku. Dalam kondisi tersebut, Pakkana menjadi salah satu wilayah yang masih mempertahankan tradisi menenun secara turun-temurun.

Tradisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan lahirnya Kampung Sutera BNI di Pakkana.

Penelitian yang sama mencatat, setelah kawasan tersebut berkembang, para pengrajin yang sebelumnya berprofesi sebagai penenun mulai memiliki aktivitas ekonomi lain. Sebagian membuka toko dan menjual hasil tenunan langsung di kawasan kampung sutera.

Perubahan itu menarik.

Sebab, tradisi tidak hanya dipertahankan agar tetap ada.

Ia juga berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Penenun tidak berhenti pada alat tenun. Sebagian kemudian masuk ke perdagangan. Produk yang dibuat tidak lagi hanya keluar dari rumah menuju pasar, tetapi dapat dipasarkan di kawasan yang menjadi bagian dari kampung sutera.

Dari Keterampilan Keluarga Menjadi Identitas Kampung

Menenun di Wajo bukan sekadar pekerjaan teknis.

Dalam kajian antropologi ekonomi tentang pertenunan tradisional Wajo, rumah tangga menjadi unit penting dalam kegiatan produksi. Keterampilan menenun juga diwariskan melalui keluarga, termasuk dengan memperkenalkan peralatan tenun kepada anak-anak sejak dini.

Itulah yang membuat sebuah alat tenun di dalam rumah memiliki makna lebih besar daripada sekadar benda kerja.

Di baliknya ada proses belajar.

Anak mengenal alat.

Orang tua mengajarkan keterampilan.

Kemudian, pengetahuan tersebut berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Keterampilan yang semula berada di tangan satu keluarga akhirnya menjadi bagian dari identitas sebuah kampung.

Dan di Pakkana, identitas tersebut begitu kuat hingga wilayahnya dikenal sebagai Kampung Sutera.

Bukan Hanya Tentang Sutera

Kain tenun Wajo juga memiliki tempat dalam kehidupan budaya masyarakat.

Kain sutera digunakan dalam berbagai kegiatan adat, termasuk perkawinan dan pesta adat. Karena itu, kain tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa nilai budaya dan kearifan lokal.

Sejumlah motif tenun Sengkang yang dikenal antara lain Sirsak Coppobola, Ballo Makalu, Ballo Renni, Cabosi, dan Lagosi. Kain tersebut digunakan sebagai bagian dari pakaian adat, hadiah, hingga simbol dalam kehidupan budaya masyarakat.

Di titik ini, sehelai kain memiliki perjalanan yang panjang.

Ia dimulai dari bahan.

Dikerjakan oleh tangan.

Melewati proses produksi.

Kemudian masuk ke pasar.

Dan pada kesempatan tertentu, kembali hadir dalam ruang budaya masyarakat.

Satu kain bisa membawa lebih dari satu cerita.

Ketika Penenun Berubah Menjadi Pedagang

Perkembangan Kampung Sutera BNI juga memperlihatkan perubahan lain dalam kehidupan pengrajin.

Penelitian mengenai Pakkana mencatat bahwa sebagian pengrajin yang sebelumnya hanya menenun kemudian mulai berdagang dengan mendirikan toko di kawasan kampung sutera. Perubahan tersebut membuat pengrajin tidak harus selalu membawa hasil produksinya ke pasar yang jauh.

Di sini, kain sutera memperlihatkan wajah lain.

Ia bukan hanya produk budaya.

Ia menjadi sumber penghidupan.

Penenun menghasilkan.

Pedagang memasarkan.

Pembeli datang.

Dan kawasan kampung berkembang sebagai ruang produksi sekaligus perdagangan.

Bahkan, kajian Universitas Hasanuddin mengenai wisata edukasi Rumah Sutera di Wajo mencatat bahwa pemerintah Kabupaten Wajo telah menetapkan kawasan perkampungan sutera Pakkanna sebagai wilayah khusus pengembangan sutera.

Dari Pakkana, Cerita Itu Terus Berjalan

Hari ini, kain sutera Wajo dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan fungsi.

Ada yang tetap digunakan sebagai sarung.

Ada yang menjadi pakaian.

Ada yang dipasarkan sebagai cendera mata.

Ada pula yang masuk ke pasar yang lebih luas.

Namun, di balik semua bentuk tersebut, masih ada pekerjaan yang sama: menyusun benang menjadi kain.

Itulah yang membuat Pakkana menarik untuk dibicarakan.

Bukan semata karena ia memiliki kampung sutera.

Bukan pula hanya karena kainnya dikenal sebagai produk khas Wajo.

Melainkan karena di tempat itu, sebuah keterampilan lama berhasil melewati perubahan zaman.

Krisis pernah datang.

Pasar berubah.

Cara menjual produk berkembang.

Penenun sebagian menjadi pedagang.

Kawasan produksi kemudian ikut diarahkan menjadi ruang wisata edukasi.

Tetapi tradisi menenun tetap menemukan jalan untuk bertahan.

Mungkin itu sebabnya sehelai kain sutera Wajo tidak pernah benar-benar hanya berbicara tentang kain.

Di dalamnya ada pekerjaan.

Ada keluarga. Ada pasar. Ada kebudayaan.

Dan ada ketekunan orang-orang yang menjaga agar sebuah keterampilan tidak berhenti pada satu generasi.

Di Pakkana, benang-benang itu terus disusun.

Satu demi satu. Sampai menjadi kain.

Dan selama tangan-tangan itu masih menenun, cerita tentang sutera Wajo masih akan terus berjalan.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini