Sulawesi Selatan, Katasulsel.com – Pindah rumah biasanya berarti mengemas pakaian, mengangkat lemari, memindahkan kasur, lalu meninggalkan bangunan lama.
Di sejumlah masyarakat Bugis, pengertiannya bisa berbeda sama sekali.
Rumahnya justru ikut pergi.
Warga berdiri di bawah rumah panggung, memegang palang yang sudah disiapkan, lalu mengangkat bangunan itu bersama-sama. Rumah yang selama ini berdiri di satu halaman perlahan bergerak menuju tempat baru, sementara puluhan hingga ratusan orang menjaga langkah agar tetap serempak.
Tradisi itu dikenal sebagai Mappalette’ Bola, atau Marakka’ Bola. Pemerintah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Sulawesi Selatan melalui SK Nomor 372/M/2021. Dalam pencatatan resmi kebudayaan, tradisi tersebut tercatat sebagai proses mengangkat atau memindahkan rumah di Kabupaten Barru.
Namun, memindahkan rumah bukan perkara tenaga semata.
Ada alasan mengapa rumah tidak dibongkar. Ada cara tertentu untuk mengangkatnya. Ada warga yang datang membantu. Dan ada hubungan sosial yang membuat pekerjaan sebesar itu dapat dilakukan bersama.
Rumahnya yang bergerak, bukan kenangannya yang ditinggalkan
Rumah yang dipindahkan umumnya merupakan rumah panggung berbahan kayu. Struktur semacam ini memungkinkan bangunan diangkat dan digeser tanpa harus dibongkar seluruhnya.
Dalam pencatatan Warisan Budaya Takbenda, Mappalette’ Bola di Barru antara lain dilakukan ketika pemilik menjual tanah tetapi tetap mempertahankan rumahnya, atau ketika pemilik ingin memindahkan rumah ke lokasi lain yang dianggap lebih sesuai. Ada dua cara yang dikenal, yakni didorong untuk jarak yang relatif dekat dan diangkat untuk pemindahan tertentu.
Jadi, ketika orang Bugis mengatakan hendak pindah rumah, yang berpindah memang bisa benar-benar rumahnya.
Bukan hanya isi lemari.
Bukan hanya kasur.
Bukan hanya perabot yang dimasukkan ke dalam mobil.
Bangunannya ikut dipindahkan.
Dari mana datangnya orang sebanyak itu?
Bagian paling menarik dari Mappalette’ Bola justru bukan rumah yang bergerak.
Melainkan orang-orang yang membuatnya bergerak.
Pada 24 Oktober 2025, ratusan warga Desa Ongkoe, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, datang membantu memindahkan rumah panggung milik seorang warga sejauh sekitar empat meter. Menurut laporan RRI, warga datang secara sukarela tanpa upah. Pengumuman bantuan bahkan dapat disampaikan melalui pengeras suara masjid sehingga warga mengetahui waktu pelaksanaan.
Bayangkan situasinya.
Sebuah rumah hendak dipindahkan.
Pemiliknya tidak menghubungi perusahaan pindahan.
Tidak ada truk derek yang masuk ke halaman.
Yang datang justru warga.
Mereka mengambil posisi.
Mencari bagian rumah yang harus diangkat.
Menunggu aba-aba.
Lalu bergerak bersama.
Di titik itu, sebuah pekerjaan yang tampak mustahil bagi satu orang menjadi mungkin karena dikerjakan banyak orang.
Rumah tidak boleh diangkat sembarangan
Tentu saja rumah sebesar itu tidak dapat dipindahkan hanya dengan mengandalkan semangat gotong royong.
Ada persiapan teknis.
Sebelum pemindahan, benda-benda yang mudah pecah atau bergerak perlu diamankan. Struktur rumah juga harus dipersiapkan agar dapat diangkat dengan aman. Dalam sejumlah praktik, bambu atau kayu digunakan sebagai alat bantu untuk mengangkat dan membawa rumah.
Ketika jaraknya dekat, rumah dapat digeser. Jika perlu dipindahkan lebih jauh, warga mengangkat bangunan secara bersama-sama. Tekniknya bergantung pada kondisi rumah, medan, dan jarak yang harus ditempuh.
Karena itu, Mappalette’ Bola bukan sekadar adegan ramai-ramai mengangkat rumah.
Ada pengetahuan mengenai konstruksi.
Ada pembagian posisi.
Ada koordinasi.
Dan ada orang yang mengatur ritme agar ratusan tenaga tidak bergerak sendiri-sendiri.
Sebab satu orang yang mengangkat terlalu cepat dapat mengganggu keseimbangan seluruh bangunan.
Yang diangkat bukan cuma kayu
Di sinilah tradisi tersebut memiliki dimensi sosial yang lebih dalam.
Penelitian mengenai Marakka’ Bola melihat praktik ini sebagai tradisi gotong royong masyarakat Bugis yang membutuhkan bantuan lingkungan sekitar. Pemindahan rumah tidak dapat dilakukan secara individual karena membutuhkan tenaga, peralatan, dan perencanaan bersama.
Laporan RRI dari Wajo memperlihatkan bentuk praktik itu secara konkret. Warga datang membantu tanpa meminta bayaran. Mereka bergerak karena ada kebutuhan seorang tetangga yang kemudian menjadi urusan bersama.
Di sini, rumah seseorang tidak sepenuhnya menjadi urusan orang itu sendiri.
Ketika rumah harus dipindahkan, lingkungan ikut bergerak.
Ada yang mengangkat.
Ada yang mengatur.
Ada yang menyiapkan kebutuhan selama proses berlangsung.
Ada pula keluarga dan warga yang memastikan seluruh rangkaian berjalan dengan baik.
Mappalette’ Bola memperlihatkan bahwa gotong royong tidak selalu hadir dalam pekerjaan kecil. Ia bisa muncul ketika yang harus dipindahkan adalah sebuah rumah.
Mengapa tidak dibongkar saja?
Pertanyaan itu mungkin muncul dari orang yang terbiasa dengan rumah modern.
Kalau ingin pindah, bongkar rumah lama. Angkut bagian-bagiannya. Bangun kembali di tempat baru.
Selesai.
Namun, rumah panggung Bugis memiliki konstruksi yang membuat pemindahan utuh memungkinkan dalam kondisi tertentu. Rumah bukan sekadar bangunan yang berdiri di atas tanah, tetapi juga bagian dari perjalanan keluarga.
Pencatatan kebudayaan pemerintah menyebut rumah bagi masyarakat Bugis sebagai warisan yang dijaga. Karena itu, ketika pemilik hendak berpindah, rumah dapat ikut dibawa ke lokasi baru alih-alih ditinggalkan begitu saja.
Di sinilah alasan praktis dan nilai budaya bertemu.
Rumah tetap menjadi rumah.
Tanahnya boleh berganti.
Tetapi bangunannya tidak harus berakhir di tempat lama.
Tradisi ini masih ada, tetapi tidak bisa dianggap tidak berubah
Mappalette’ Bola memang masih ditemukan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Namun, tidak tepat jika tradisi ini digambarkan seolah-olah seluruh masyarakat Bugis masih melakukannya dengan cara yang sama.
Perubahan bentuk rumah, bahan bangunan, kepemilikan tanah, kondisi jalan, serta kebutuhan masyarakat turut memengaruhi praktik pemindahan rumah.
Rumah panggung kayu yang dapat diangkat tentu berbeda dengan bangunan beton.
Rumah yang hanya perlu digeser beberapa meter juga berbeda dengan rumah yang harus dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh.
Karena itu, Mappalette’ Bola lebih tepat dilihat sebagai praktik budaya yang bertahan dalam kondisi tertentu, bukan sebagai kebiasaan yang setiap saat dilakukan semua orang Bugis.
Justru perubahan itulah yang menarik untuk dilihat.
Sebab tradisi tidak selalu bertahan dengan bentuk yang persis sama.
Kadang ia bertahan karena masih dibutuhkan.
Kadang karena dianggap penting.
Kadang karena sebuah komunitas masih merasa bahwa pekerjaan tertentu memang lebih baik dikerjakan bersama.
Ketika satu rumah membuat satu kampung bergerak
Di kota, pindah rumah bisa selesai dalam beberapa jam.
Barang dimasukkan ke kendaraan.
Alamat diganti.
Kunci diserahkan.
Orang-orang kembali pada urusan masing-masing.
Mappalette’ Bola memperlihatkan gambaran yang berbeda.
Ketika satu keluarga membutuhkan bantuan, orang lain datang.
Mereka mungkin bukan pemilik rumah.
Mereka mungkin tidak mendapat upah.
Bahkan rumah yang dipindahkan bukan milik mereka.
Tetapi untuk beberapa saat, rumah itu menjadi pekerjaan bersama.
Ada sesuatu yang menarik di sana.
Bukan semata-mata karena manusia mampu mengangkat bangunan yang berat.
Melainkan karena sebuah rumah dapat membuat banyak orang berhenti dari urusan masing-masing, berdiri di tempat yang sama, memegang beban yang sama, lalu bergerak mengikuti satu aba-aba.
Rumah itu perlahan meninggalkan halaman lama.
Orang-orang tetap memikulnya.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Sampai bangunan itu berdiri di tempat yang baru.
Dan ketika semua selesai, yang tersisa bukan hanya sebuah rumah yang sudah berpindah posisi.
Ada nama-nama orang yang datang membantu.
Ada tenaga yang pernah dibagi.
Ada cerita yang akan diceritakan kembali ketika suatu hari orang bertanya bagaimana rumah itu bisa sampai ke sana.
Mungkin jawabannya sederhana: karena waktu itu, satu rumah tidak dipindahkan oleh satu orang.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
