Parepare, Katasulsel.com – Ada sebuah kue tradisional yang pernah dicari BJ Habibie ketika kembali ke Parepare. Namanya Sanggara Bandang.

Habibie mengenal kue tersebut sejak kecil. Ketika kembali ke kota kelahirannya, ia sempat menanyakan apakah Sanggara Bandang masih dibuat. Kue itu kemudian disajikan untuknya.

Namun, ada satu hal yang membuat cerita tersebut menarik. Habibie disebut tidak menemukan rasa yang sama seperti yang ia ingat dari masa kecilnya.

Cerita itu bukan sekadar soal selera. Sanggara Bandang memang termasuk kue tradisional yang keberadaannya semakin sulit ditemukan.

Kue Pisang dengan Isi Kelapa

Sanggara Bandang menggunakan pisang sebagai bahan utama. Pisang dibelah atau diolah sedemikian rupa, kemudian diberi isian kelapa yang telah dicampur gula.

Kue tersebut selanjutnya dibungkus dan dimasak hingga matang.

Perpaduan pisang dan kelapa menghasilkan rasa manis dengan tekstur yang lembut. Bentuknya pun berbeda dari olahan pisang yang lebih umum ditemukan dalam jajanan pasar.

Nama Sanggara Bandang sendiri dikenal dalam kuliner Bugis-Makassar. Karena itu, makanan ini tidak tepat disebut sebagai makanan yang hanya dimiliki Parepare.

Namun, keberadaannya memiliki hubungan kuat dengan kota tersebut, termasuk melalui ingatan kuliner Habibie yang tumbuh di Parepare.

Rasa Masa Kecil Habibie

Kisah Sanggara Bandang dan Habibie pernah diberitakan media kuliner ketika mantan presiden tersebut kembali ke Parepare.

Saat itu, ia menanyakan makanan yang pernah dikenalnya sejak kecil. Sanggara Bandang kemudian dibuatkan untuknya.

Kue tersebut ternyata tidak sepenuhnya menghadirkan rasa yang sama dengan ingatan masa kecilnya.

Perbedaan itu dapat terjadi karena makanan rumahan sangat bergantung pada bahan, teknik, dan cara memasak yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam kasus Sanggara Bandang, cerita Habibie justru memperlihatkan bahwa makanan dapat menjadi bagian dari ingatan seseorang terhadap sebuah kota.

Kini Sulit Ditemukan

Sanggara Bandang tidak termasuk kue yang mudah ditemukan di setiap toko makanan.

Sejumlah laporan kuliner menyebut keberadaannya semakin jarang dan biasanya masih dapat ditemukan di pasar tradisional.

Kondisi tersebut membuat Sanggara Bandang berada dalam posisi berbeda dibandingkan jajanan yang telah berkembang menjadi produk komersial.

Ketika makanan semakin jarang dibuat, pengetahuan mengenai cara mengolahnya juga semakin bergantung pada orang-orang yang masih mempertahankan resep dan teknik pembuatannya.

Parepare dan Ingatan tentang Kuliner Lama

Sanggara Bandang memberi gambaran bahwa identitas kuliner sebuah kota tidak selalu dibangun oleh makanan yang paling terkenal.

Ada pula makanan yang bertahan melalui ingatan orang-orang yang pernah tumbuh bersamanya.

Bagi Parepare, Sanggara Bandang memiliki cerita yang semakin kuat karena pernah menjadi bagian dari pengalaman masa kecil Habibie. Ketika kue itu kembali dicari bertahun-tahun kemudian, yang dicari bukan sekadar makanan, melainkan rasa yang pernah melekat dalam ingatan.

Kini, Sanggara Bandang masih menjadi bagian dari khazanah kuliner tradisional Parepare, meski keberadaannya tidak semudah dulu untuk ditemukan.