Parepare, Katasulsel.com — Peternak ayam petelur di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, menghadapi tekanan biaya produksi di tengah sulitnya menjual telur. Harga bahan pakan melonjak, sementara stok telur menumpuk dan terpaksa dijual di bawah harga normal.

Kondisi itu dialami Jamil, peternak ayam petelur di Jalan Bambu Runcing, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat. Ia mengaku telah merugi selama sekitar satu bulan terakhir dan harus menggunakan uang cadangan untuk membeli pakan.

“Sudah satu bulan mi ini rugi semua, jadi harus pakai uang cadangan untuk beli pakan. Sekitar Rp5 juta per hari karena memang kan ada sekitar tiga ribu ayam sekarang ini,” kata Jamil kepada detikSulsel, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Jamil, harga sejumlah bahan pakan mengalami kenaikan. Jagung kini mencapai Rp8.000 per kilogram, sedangkan dedak dijual Rp6.000 per kilogram.

Kenaikan tersebut menambah beban operasional peternak, terutama ketika hasil produksi tidak terserap pasar dengan baik.

“Kalau normalnya harga pakan itu paling tinggi taruhlah Rp4.500, jagung taruhlah Rp4.000 sampai Rp4.500, dedak itu biasa di bawah Rp3.000 sekarang Rp6.000, dua kali lipat dedaknya,” ujarnya.

Telur Terpaksa Dijual di Bawah Harga Normal

Masalah peternak tidak berhenti pada mahalnya pakan. Jamil mengatakan stok telur yang melimpah justru sulit terserap pasar. Dalam kondisi tersebut, ia terpaksa mengirimkan telur kepada pelanggan dengan harga lebih rendah agar persediaan tidak terus menumpuk.

Ia menyebut telur yang semestinya dijual Rp38.000 dapat dilepas sekitar Rp30.000 per satuan penjualan yang sama.

“Telur itu dikirim paksa saja, biar tidak minta langganan dikirimkan saja tapi harus di bawah harga, umpamanya memang Rp38.000, kasih Rp30.000-an,” tuturnya.

Strategi tersebut menjadi cara untuk mengurangi penumpukan telur. Namun, penjualan dengan harga lebih rendah ketika biaya pakan meningkat membuat ruang keuntungan peternak semakin tertekan.

Jamil berharap hujan segera turun agar petani kembali menanam jagung dan pasokan bahan pakan membaik. Menurutnya, panen jagung dalam beberapa bulan mendatang diharapkan dapat membantu menurunkan harga bahan baku pakan.

“Kalau tidak ada hujan sampai bulan satu, ya terpaksa gulung tikar istilahnya,” kata Jamil.

Kemarau Menambah Tekanan Biaya Produksi

Kenaikan harga pakan yang dikeluhkan peternak terjadi di tengah kemarau panjang. Jamil berharap kondisi cuaca segera berubah sehingga produksi jagung dapat pulih dan harga bahan pakan kembali lebih terjangkau.

Bagi peternak, persoalannya bukan hanya menjaga produksi telur tetap berjalan, melainkan memastikan hasil penjualan cukup untuk membiayai kebutuhan operasional harian.

Jika harga pakan tetap tinggi sementara telur sulit terserap pasar, peternak harus terus menggunakan cadangan dana untuk mempertahankan usahanya.

Kondisi yang dialami Jamil memperlihatkan tekanan di tingkat peternak: produksi tetap berjalan, tetapi biaya untuk memelihara ribuan ayam terus membesar ketika hasilnya tidak mudah dijual.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru