Parepare, Katasulsel.com β Dapur berhenti memasak. Pesanan bahan pangan sudah telanjur datang. Buncis menumpuk, tempe sudah tersedia, jagung menunggu diolah. Sementara itu, kabut asap membuat anak-anak harus belajar dari rumah.
Di tengah situasi serba mendadak itu, pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lapadde, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, mengambil keputusan: daripada bahan pangan terbuang, lebih baik dibagikan gratis.
Bukan sedikit. Sekitar 80 kilogram buncis, lebih dari 300 potong tempe, dan 60β70 kilogram jagung disalurkan kepada panti asuhan serta relawan.
Ada pula mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membagikan sekitar 20 buah melon kuning.
Bahan pangan yang semula disiapkan untuk kebutuhan dapur MBG itu akhirnya menemukan jalan lain. Bukan masuk ke panci, melainkan sampai ke tangan orang-orang yang bisa memanfaatkannya.
Dapur berhenti, bahan pangan jangan sampai mubazir.
Koordinator Persiapan SPPG Lapadde, Anika, menjelaskan bahan-bahan tersebut sudah dipesan sebelum keputusan penghentian operasional diberlakukan.
Ketika kegiatan dapur ternyata tidak berjalan, pengelola menghadapi persoalan sederhana tetapi tidak ringan: bahan pangan segar tidak bisa disimpan terlalu lama.
βKemarin itu sudah telanjur pesan bahan baku, terus tidak tahu operasional atau tidak. Ternyata tidak operasional, jadi dibawa ke panti asuhan sebagian, sebagian dikasih relawan,β kata Anika, Jumat (16/10/2026).
Pilihan itu sekaligus menjadi upaya menyelamatkan bahan makanan yang mudah rusak. Sebab, jika hanya disimpan terlalu lama, bahan yang semestinya bermanfaat justru berisiko terbuang.
Namun, membagikan bahan pangan bukan berarti persoalan selesai. Penghentian operasional mendadak juga membawa konsekuensi bagi mitra yang sudah mengeluarkan biaya untuk persiapan dapur.
Anika mengakui kerugian harus ditanggung pihak mitra. Meski begitu, pengelola memilih menerima keadaan dan menyalurkan bahan yang masih bisa dimanfaatkan.
βBukan apanya, banyak kerugiannya ditanggung bos toh. Namun, kami pasrah dan memilih mencari keberkahan dengan membagikan bahan baku secara gratis,β ujarnya.
Tidak semua persediaan dibagikan. Bahan pangan yang masih bisa disimpan diamankan agar tetap layak digunakan ketika operasional kembali berjalan.
Daging ayam dimasukkan ke lemari pembeku. Bumbu marinasi disimpan di gudang kering, sedangkan tomat dan bawang ditempatkan di lemari pendingin.
Mitra SPPG lainnya, Ikhsan, juga melakukan langkah serupa. Sekitar 20 melon kuning dibagikan secara gratis oleh asisten lapangan pada malam hari. Sementara bahan pangan lain yang belum dikirim masih sempat dibatalkan pesanannya sehingga kerugian bisa ditekan.
Di balik pembagian bahan pangan itu, ada persoalan yang lebih besar: kabut asap telah mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk layanan yang berkaitan dengan pemenuhan gizi anak sekolah.
Pemerintah Kota Parepare sebelumnya memutuskan mengalihkan pembelajaran murid TK, SD, dan SMP ke sistem daring selama dua hari sebagai respons terhadap kondisi udara yang dinilai tidak sehat.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parepare, Adriani Idrus, mengatakan keputusan tersebut merupakan perintah Wali Kota.
βPimpinan dalam hal ini Bapak Wali Kota memerintahkan saya selaku Kadis Pendidikan untuk mendaringkan anak-anak selama dua hari dulu,β ujarnya.
Keputusan setelah masa dua hari itu belum ditetapkan. Pemerintah akan melihat perkembangan kondisi kabut asap pada Sabtu dan Minggu sebelum menentukan langkah selanjutnya.
βNanti kita lihat lagi kondisi Sabtu-Minggu, apakah malah makin memburuk atau malah makin membaik,β tambahnya.
Bagi dapur MBG, perubahan situasi itu berarti operasional harus menyesuaikan keadaan. Bahan pangan sudah dibeli, tetapi kegiatan memasak terpaksa dihentikan sementara.
Bagi para mitra, ada biaya yang harus ditanggung. Bagi penerima bantuan, bahan pangan yang dibagikan bisa menjadi sesuatu yang berguna.
Dan bagi Parepare, ada satu persoalan yang belum selesai: bagaimana memastikan kegiatan masyarakat dapat kembali berjalan dengan aman ketika kondisi udara membaik.
Untuk sementara, dapur MBG Lapadde memang tak memasak seperti biasa. Tetapi bahan pangan yang telanjur disiapkan tidak dibiarkan sia-sia. Di tengah kabut asap, sebagian justru berubah menjadi bantuan gratis bagi orang lain. (*)
