Kuantan, Malaysia, Katasulsel.com — Kerja sama perguruan tinggi tak cukup hanya dibangun lewat kunjungan dan foto bersama. Ia perlu berlanjut menjadi penelitian, pertukaran akademisi, serta program pendidikan yang memberi manfaat nyata.
Semangat itulah yang mewarnai Southeast Asia Symposium in Islamic Civilization 2026 di kampus utama UCYP University, Malaysia, Senin (26/10/2026).
Simposium yang diselenggarakan Institut Peradaban Islam Antarabangsa (IIIC), UCYP University, ini mempertemukan delegasi sejumlah perguruan tinggi Indonesia dalam rangka inisiatif Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM).
Pesertanya datang dari berbagai daerah dan latar belakang institusi. Di antaranya, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan, Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam Al Muhsin Yogyakarta, serta Institut Agama Islam Darud Dakwah wal Irsyad (IAI DDI) Sidenreng Rappang dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Bangsa Majene.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa ruang akademik Asia Tenggara dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan peluang kolaborasi lintas negara.
Simposium ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan tentang peradaban Islam, tetapi juga membuka ruang untuk memperkuat hubungan kelembagaan antara UCYP University dan perguruan tinggi Indonesia, khususnya IAIN Parepare.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan Letter of Intent (LoI) atau Surat Hasrat dari UCYP University kepada IAIN Parepare.
Dokumen itu menjadi langkah awal untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama, mulai dari penelitian bersama, penyelenggaraan konferensi, pengembangan program akademik hingga mobilitas dosen dan mahasiswa.
Bagi perguruan tinggi, peluang semacam ini penting. Hubungan internasional tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang terukur dan berkelanjutan.
Penelitian kolaboratif, misalnya, dapat mempertemukan perspektif akademisi Malaysia dan Indonesia dalam mengkaji sejarah, pemikiran, serta dinamika peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara.
Sementara mobilitas akademik memungkinkan dosen dan mahasiswa memperluas pengalaman belajar melalui interaksi langsung dengan lingkungan pendidikan yang berbeda.
