Barru, Katasulsel.com β€” Mengapa tujuh rumah panggung di pesisir Barru dibangun dengan bentuk serupa dan berjejer menghadap laut? Di balik deretan rumah yang dikenal sebagai Bola Pitue itu, masyarakat setempat mewariskan kisah tentang seorang raja dan tujuh putrinya.

Bola Pitue berada di kawasan Pantai Padongko, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Dalam bahasa Bugis, bola pitue berarti tujuh rumah. Kompleks ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di Barru.

Menurut cerita yang berkembang turun-temurun, tujuh rumah tersebut dibangun atas perintah seorang Raja Barru untuk tempat tinggal ketujuh putrinya. Sang raja konon menginginkan setiap putrinya memperoleh rumah dengan bentuk dan ukuran yang sama agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari.

Kisah itu menjadi bagian dari daya tarik Bola Pitue. Namun, cerita mengenai asal-usul bangunannya perlu dibedakan dari catatan sejarah yang dapat dibuktikan melalui dokumen atau penelitian arkeologis.

Tujuh rumah, satu cerita

Keunikan Bola Pitue terletak pada susunan rumah panggung yang tampak serupa. Deretan bangunan tersebut menghadirkan gambaran arsitektur tradisional Bugis di kawasan pesisir.

Kesamaan bentuk rumah dalam legenda itu bukan sekadar detail arsitektur. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, bentuk yang serupa dikaitkan dengan keinginan sang raja untuk memperlakukan ketujuh putrinya secara setara.

Meski demikian, belum ada bukti yang cukup untuk memastikan bahwa seluruh detail legenda tersebut benar-benar mencerminkan peristiwa sejarah. Kisah tujuh putri lebih tepat dipahami sebagai tradisi lisan yang melekat pada identitas tempat itu.

Bagi sejarah lokal, tradisi lisan tetap penting. Cerita yang diwariskan antargenerasi dapat menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna pada bangunan, ruang, dan peninggalan masa lalu. Namun, penelusuran sejarah tetap membutuhkan pembandingan dengan sumber tertulis, bukti material, serta keterangan yang dapat diverifikasi.

Jejak arsitektur Bugis di pesisir Padongko

Sebagai rumah panggung, Bola Pitue juga memperlihatkan bentuk hunian tradisional yang dikenal dalam kebudayaan Bugis. Rumah tradisional Bugis umumnya memiliki pembagian ruang vertikal yang dikenal sebagai rakkeang atau bagian atas, alle bola atau ruang utama, dan awa bola atau bagian bawah rumah.

Pembagian tersebut dibahas dalam penelitian mengenai makna dan nilai kearifan lokal arsitektur rumah tradisional Bugis. Namun, penerapannya pada setiap bangunan perlu diperiksa berdasarkan kondisi fisik rumah yang bersangkutan.

Bola Pitue juga mengalami perubahan seiring waktu. Informasi pada laman pariwisata Pemerintah Kabupaten Barru menyebutkan bahwa beberapa rumah mungkin telah direnovasi atau beralih fungsi. Karena itu, kondisi bangunan yang terlihat sekarang tidak serta-merta dapat dianggap sama dengan bentuk aslinya ketika pertama kali didirikan.

Perubahan tersebut menjadi persoalan penting dalam pelestarian bangunan tradisional. Rumah bersejarah bukan hanya dinilai dari kemampuannya bertahan secara fisik, tetapi juga dari sejauh mana bentuk, fungsi, dan cerita yang menyertainya masih dapat ditelusuri.

Ketika legenda menjadi ingatan sebuah tempat

Bola Pitue mempertemukan dua hal yang tidak selalu mudah dipisahkan: bangunan yang dapat diamati secara langsung dan cerita yang diwariskan masyarakat untuk menjelaskan keberadaannya.

Deretan rumah panggung itu menjadi penanda visual kawasan Padongko. Sementara itu, legenda tujuh putri memberikan lapisan makna yang membuat tempat tersebut tidak sekadar dipandang sebagai kumpulan bangunan tua.

Pertanyaan tentang siapa yang pertama kali membangun Bola Pitue, kapan rumah-rumah itu didirikan, dan bagaimana bentuk aslinya masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut. Keterangan mengenai status cagar budaya, riwayat renovasi, dan dokumentasi bangunan lama juga penting untuk melengkapi kisahnya.

Sebab, tujuh rumah itu menyimpan dua jenis warisan sekaligus: bangunan yang masih bisa dilihat dan cerita yang terus dituturkan. Yang pertama dapat diperiksa melalui jejak fisik; yang kedua perlu ditelusuri melalui ingatan masyarakat.

Di pesisir Padongko, tujuh rumah itu tetap membawa nama yang sama. Legenda tentang tujuh putri raja terus menyertainya, sementara pertanyaan tentang sejarah sebenarnya masih menunggu jawaban dari bukti-bukti yang lebih lengkap.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru