Jeneponto, Katasulsel.com β Sebuah batu nisan di Jeneponto tidak sekadar menandai makam seorang raja. Batu itu memahat sosok manusia yang mengenakan songkok, duduk tegak di atas singgasana berhias bunga dan sulur-suluran. Sosok tersebut diidentifikasi sebagai Karaeng Palengkei Daeng Lagu, Raja Binamu ke-18.
Nisan berbentuk arca itu menjadi salah satu jejak yang memperlihatkan bagaimana masyarakat di Sulawesi Selatan mengabadikan tokoh yang telah meninggal. Bentuknya juga menyimpan petunjuk tentang pertemuan tradisi budaya setempat dengan Islam.
Temuan tersebut tercatat dalam penelitian arkeologi Nurul Adliyah Purnamasari yang terbit di jurnal Naditira Widya. Penelitian itu mengkaji penggunaan nisan arca pada kompleks makam Islam di Bantaeng, Jeneponto, dan Maros.
Di Jeneponto, nisan arca ditemukan di empat kompleks makam Islam, yakni Kompleks Makam Raja-Raja Binamu, Joko, Syekh ri Poko Bulo, dan Karaeng Sengge. Masing-masing menyimpan bentuk pahatan yang berbeda, mulai dari sosok manusia dengan tubuh lengkap hingga arca yang hanya menyisakan bagian tertentu.
Nisan yang menggambarkan kedudukan seorang raja
Di Kompleks Makam Raja-Raja Binamu, sosok pada nisan digambarkan mengenakan songkok dan duduk di atas singgasana. Kursinya dihiasi motif flora berupa bunga mekar, sulur-suluran, dan dedaunan yang dipahat pada bagian samping serta punggung singgasana.
Nisan tersebut memiliki tinggi sekitar 90 sentimeter dengan lebar bahu sekitar 35 sentimeter. Bentuk kepala, wajah, badan, tangan, dan kakinya masih dapat dikenali dari pahatan yang ada.
Penelitian Purnamasari mengidentifikasi sosok itu sebagai Karaeng Palengkei Daeng Lagu, Raja Binamu ke-18. Angka tahun yang tercatat pada makam adalah 1486 Hijriah.
Singgasana menjadi detail yang menonjol dalam pahatan tersebut. Dalam pembacaan arkeologis, atribut itu berkaitan dengan kedudukan sosial tokoh yang dimakamkan. Nisan tersebut bukan sekadar penanda kubur, melainkan juga representasi visual tentang seseorang yang memiliki posisi penting dalam masyarakatnya.
Jejak serupa ditemukan di Kompleks Makam Joko. Salah satu nisan arca di sana diidentifikasi sebagai milik Karaeng Cappia Matanna, yang dalam penelitian disebut sebagai orang pertama yang memeluk Islam di wilayah Joko.
Sosoknya dipahat dengan tubuh lengkap, mengenakan songkok, dan duduk di atas singgasana berhias motif flora. Nisan itu memiliki tinggi sekitar 84 sentimeter dengan lebar bahu sekitar 35 sentimeter.
Dua temuan tersebut memperlihatkan kemiripan dalam cara sosok manusia digambarkan pada nisan. Namun, setiap identifikasi tetap perlu merujuk pada keterangan penelitian dan konteks makamnya.
Dari sosok bersinggasana hingga pahatan wajah
Bentuk nisan arca di Jeneponto tidak seluruhnya menggambarkan manusia dalam posisi duduk di singgasana.
Di Kompleks Makam Syekh ri Poko Bulo, arca yang ditemukan hanya menyisakan bagian tubuh dan kaki dalam posisi duduk. Adapun nisan di Kompleks Makam Karaeng Sengge menampilkan sosok dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan mengenakan songkok haji.
Perbedaan bentuk itu menunjukkan bahwa nisan arca memiliki variasi visual. Tidak semua menampilkan anatomi tubuh secara lengkap, dan tidak setiap pahatan dapat langsung dihubungkan dengan identitas tokoh tertentu.
Jejak serupa ditemukan di Kabupaten Bantaeng. Di Kompleks Makam La Tenri Ruwa, penelitian mencatat tiga nisan arca yang hanya menampilkan wajah. Unsur mata, alis, hidung, mulut, dan telinga masih dapat dikenali pada pahatan tersebut.
Bentuk wajahnya beragam, mulai dari bulat dan lonjong hingga memiliki dagu ganda. Tinggi nisan berkisar 47β60 sentimeter, dengan lebar sekitar 15 sentimeter.
Sementara itu, nisan arca di Lampporo dan Lanynying, yang secara lokal dikenal sebagai Makam Cinayya, menampilkan bagian kepala hingga tubuh. Identitas sosok pada sejumlah pahatan tersebut belum dapat dipastikan.
Di Kabupaten Maros, empat nisan arca yang tercatat di Kompleks Makam Matakko memiliki bentuk berbeda lagi. Nisan-nisannya cenderung pipih, dengan lingkaran menyerupai mata, garis vertikal di bagian tengah, serta bagian atas yang menyerupai mahkota atau atap.
Penelitian itu juga mencatat bahwa kronologi kemunculan nisan arca di Matakko belum dapat dipastikan. Hubungannya dengan temuan di kompleks makam lain masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Jejak tradisi sebelum Islam
Dalam kajiannya, Purnamasari menyimpulkan bahwa penggunaan nisan arca di kawasan etnik Makassar berkaitan dengan tradisi pra-Islam yang bertahan dan berbaur dengan budaya Islam.
Sejumlah unsur pada nisan ditafsirkan berkaitan dengan kebangsawanan atau stratifikasi sosial, religiusitas, pengharapan, penghormatan, kebanggaan, serta intelektualitas. Penggambaran tokoh yang duduk di singgasana, misalnya, dapat dibaca dalam kaitannya dengan kedudukan sosial orang yang dimakamkan.
Meski demikian, makna tersebut tidak dapat diterapkan secara seragam pada seluruh nisan. Penafsirannya perlu mempertimbangkan bentuk pahatan, atribut yang menyertainya, konteks makam, dan bukti sejarah yang tersedia.
Kajian mengenai nisan arca juga menjangkau wilayah etnik Bugis. Penelitian lain yang terbit dalam jurnal AMERTA pada 2024 membahas temuan nisan arca di Barru, Bone, Pinrang, Sidrap, Enrekang, dan Luwu Timur.
Kehadiran temuan di sejumlah wilayah tersebut memperluas pembahasan tentang bagaimana unsur budaya pra-Islam berhubungan dengan tradisi pemakaman Islam di Sulawesi Selatan. Namun, hubungan antara setiap situs tetap perlu ditelaah berdasarkan bukti arkeologis masing-masing.
Ketika batu menjadi jejak sejarah
Nisan di Jeneponto memperlihatkan bahwa sejarah Islam di Sulawesi Selatan tidak hanya dapat dibaca melalui nama tokoh, catatan kerajaan, atau bangunan makam. Bentuk pahatan juga menyimpan petunjuk tentang cara masyarakat masa lalu merepresentasikan orang yang meninggal dan kedudukan sosialnya.
Sosok Karaeng Palengkei Daeng Lagu yang duduk di singgasana menjadi salah satu contoh paling jelas. Identitasnya dapat ditelusuri melalui penelitian, sementara bentuk arca dan hiasannya menyediakan bahan untuk memahami tradisi visual yang berkembang pada masa itu.
Namun, masih ada pertanyaan yang membutuhkan penelitian lebih jauh: bagaimana tradisi memahat sosok manusia pada nisan dipertahankan ketika Islam berkembang, dan sejauh mana bentuk-bentuk tersebut mencerminkan perubahan maupun kesinambungan budaya masyarakat setempat?
Di Jeneponto, sebagian jawabannya masih terpahat pada batuβdalam sosok seorang raja yang duduk di singgasana, mengenakan songkok, dan tetap hadir dalam ingatan sejarah melalui nisan makamnya.
