Jeneponto, Katasulsel.com — Di Jeneponto, kuda memiliki cerita yang panjang.
Hewan yang di banyak tempat identik dengan tunggangan itu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Butta Turatea. Ia dipelihara, diperjualbelikan, dan pada momen tertentu justru berakhir di atas meja makan.
Dari sana lahir satu hidangan yang sulit dipisahkan dari identitas Jeneponto: Gantala Jarang.
Namanya terdengar sederhana. Gantala merujuk pada kuah bening, sementara jarang dalam bahasa Makassar berarti kuda. Hidangan ini berbahan utama daging kuda yang dimasak dengan kuah sederhana.
Tidak banyak bumbu yang digunakan. Garam menjadi salah satu unsur penting dalam racikannya. Daging dimasak hingga matang dan empuk sehingga menghasilkan kuah dengan cita rasa khas yang berbeda dari olahan daging pada umumnya.
Namun, cerita Gantala Jarang sebenarnya tidak berhenti di dapur.
Seporsi Gantala dan Sebuah Hajatan
Bagi sebagian masyarakat Jeneponto, Gantala Jarang memiliki tempat tersendiri dalam hajatan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan mencatat Gantala Jarang sebagai bagian dari jamuan dalam pesta pernikahan masyarakat Jeneponto. Hidangan serupa juga disebut hadir dalam acara khitanan, aqiqah, serta sejumlah perayaan keagamaan.
Di pesta pernikahan, keberadaan Gantala Jarang bahkan berkaitan dengan cara tuan rumah menjamu tamu.
Daging kuda diolah untuk kemudian disuguhkan kepada orang-orang yang datang. Dengan demikian, sepiring makanan di tengah pesta membawa makna yang lebih panjang: ada kegembiraan, penghormatan kepada tamu, dan kebersamaan yang sedang dirayakan.
Kajian sosial-budaya yang terbit pada 2026 juga melihat Gantala Jarang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Jeneponto. Hidangan tersebut dikaitkan dengan nilai kebersamaan dan penghormatan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Itulah sebabnya Gantala Jarang menarik jika dilihat bukan sekadar sebagai makanan khas.
Ia adalah salah satu cara masyarakat Jeneponto memperkenalkan daerahnya melalui sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.
Ketika Kuda Menjadi Bagian dari Identitas Daerah
Kuatnya hubungan Jeneponto dengan kuda juga tercermin dalam dokumen kebijakan pariwisata daerah.
Dalam dokumen Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Jeneponto 2018–2033, Gantala Jarang atau coto kuda ditempatkan sebagai salah satu kuliner yang melekat dengan identitas daerah. Dokumen tersebut menyebut olahan daging kuda sebagai bagian dari gambaran Jeneponto yang identik dengan kuda.
Hubungan itu tidak muncul tiba-tiba.
Kuda telah lama hadir dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Jeneponto. Perdagangan kuda juga menjadi salah satu aktivitas ekonomi yang berkembang di daerah tersebut.
Di tengah hubungan yang panjang itu, Gantala Jarang menjadi salah satu bentuk bagaimana kuda masuk ke ruang yang berbeda: bukan lagi sekadar hewan yang dipelihara atau diperdagangkan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi makan bersama.
Ada sesuatu yang menarik dari cara sebuah daerah mempertahankan identitasnya.
Kadang ia tidak disimpan di museum. Tidak pula selalu hadir dalam bentuk bangunan tua atau benda pusaka.
Ia bisa berada di dalam sebuah panci besar, direbus perlahan, lalu dibagikan kepada orang-orang yang datang ke sebuah pesta.
Tradisi yang Masih Menemukan Tempat
Gantala Jarang juga masih dapat ditemukan di pasar-pasar tradisional Jeneponto.
Pada Januari 2026, KabarMakassar melaporkan keberadaan penjual Gantala Jarang di pasar tradisional setempat. Salah seorang pedagang yang diwawancarai menyebut telah menjalankan usaha tersebut selama lebih dari 13 tahun dan masih mempertahankan proses pengolahan secara tradisional.
Fakta itu menunjukkan bahwa Gantala Jarang tidak hanya bertahan sebagai cerita tentang masa lalu.
Ia masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat sekarang.
Di satu sisi, hidangan ini menjadi makanan yang dicari dalam hajatan. Di sisi lain, ia tetap menjadi komoditas yang dijual di pasar dan menjadi bagian dari mata pencaharian sebagian warga.
Di situlah kekuatan sebuah kuliner tradisional terlihat.
Ia bertahan bukan hanya karena orang mengingat namanya, tetapi karena masih ada orang yang memasaknya, menjualnya, menyuguhkannya, dan menikmatinya.
Gantala Jarang akhirnya menjadi semacam pintu masuk untuk memahami Jeneponto dengan cara yang lebih sederhana.
Tentang daerah yang lekat dengan kuda.
Tentang pesta yang mempertemukan keluarga dan tamu.
Tentang makanan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan tentang bagaimana identitas sebuah daerah kadang terasa paling kuat justru ketika seseorang duduk di depan sepiring makanan, lalu menyadari bahwa yang sedang disantapnya membawa cerita panjang tentang tempat asalnya.
Di Jeneponto, cerita tentang kuda ternyata tidak selalu dimulai dari pelana.
Kadang, ia bermula dari dapur—dari kuah bening yang mengepul, daging yang dimasak perlahan, dan Gantala Jarang yang disajikan di tengah sebuah hajatan.
