Pangkep, Katasulsel.com — Ada pulau kecil di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang menyambut Muharram dengan cara berbeda.

Ketika tahun baru Islam tiba, warga Pulau Pajenekang tidak hanya menandainya dengan pergantian kalender Hijriah. Mereka kembali berkumpul, menyiapkan makanan, menyalakan suasana kebersamaan, berzikir, berziarah, dan menghidupkan kembali ingatan tentang sejarah pulau mereka.

Namanya Tammu Taung.

Tradisi tahunan itu berlangsung selama tiga pekan pada bulan Muharram. Setiap pekan memiliki rangkaian kegiatan tersendiri hingga mencapai puncaknya pada Jumat ketiga. Bagi masyarakat Pajenekang, Tammu Taung telah menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sinilah menariknya Pajenekang.

Sebuah tradisi yang terlihat seperti perayaan tahunan ternyata menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih panjang: tentang agama, adat, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan ingatan terhadap tokoh yang pernah berhadapan dengan kekuasaan kolonial.

Tiga Jumat, Tiga Rangkaian

Tammu Taung tidak selesai dalam satu malam.

Pada Jumat pertama Muharram, warga menjalankan rangkaian yang disebut Akkaluku Lolo. Masyarakat menyiapkan hidangan tradisional berbahan kelapa muda dan gula aren untuk disantap bersama setelah salat Jumat.

Pekan berikutnya berlanjut dengan Pecah Surah atau Ajjepe. Bubur manis menjadi salah satu makanan yang hadir dalam rangkaian tersebut.

Kemudian memasuki pekan ketiga, suasana berubah menjadi lebih khidmat sekaligus meriah.

Sehari sebelum puncak acara, tepatnya Kamis, lembaga adat menaikkan bendera Merah Putih secara adat di depan gallarrang. Malam harinya, warga berkumpul setelah salat Isya untuk berzikir dan melantunkan lagu-lagu tasawuf dengan iringan rebana.

Esok paginya, Jumat ketiga, rangkaian puncak dimulai.

Lembaga adat berkumpul di Balla Lompoa. Setelah prosesi adat, rombongan yang dipimpin gallarrang mengelilingi pulau sebelum melanjutkan ziarah ke makam yang menjadi bagian penting dari rangkaian tradisi tersebut.

Setelah salat Jumat, acara berlanjut dengan pembacaan Al-Qur’an, pembacaan sejarah Pulau Pajenekang, serta penyampaian pesan dari pemangku adat dan pihak lain yang hadir.

Dengan demikian, Tammu Taung bukan sekadar satu ritual tunggal. Ia merupakan rangkaian panjang yang mempertemukan masyarakat dalam ruang agama, adat, sejarah, dan kebersamaan.

Ketika Tradisi Menyimpan Ingatan Perjuangan

Ada bagian lain yang membuat Tammu Taung berbeda.

Sejumlah penelitian mengenai tradisi tersebut mencatat adanya hubungan kuat antara perayaan Tammu Taung dan ingatan masyarakat Pajenekang terhadap perjuangan tokoh lokal pada masa kolonial Belanda.

Salah satu tokoh yang terus disebut dalam ingatan masyarakat adalah Bantang Harun Rasyid, yang dalam sejumlah kajian disebut sebagai pemimpin Pulau Pajenekang dan tokoh yang menentang kekuasaan kolonial. Syekh Naiman Petta Rabbu juga disebut dalam penelitian mengenai sejarah dan nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Karena itu, sejarah tidak ditempatkan jauh dari kehidupan warga.

Ia dibacakan kembali.

Ia diingat melalui ziarah.

Ia hadir dalam pertemuan warga.

Dan ia diteruskan melalui tradisi yang masih dijalankan hingga sekarang.

Dalam konteks itulah Tammu Taung menjadi menarik. Masyarakat tidak hanya merayakan datangnya tahun baru Islam, tetapi juga menggunakan momentum tersebut untuk kembali mengingat dari mana mereka berasal.

Islam dan Adat Bertemu di Sebuah Pulau

Pajenekang juga memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan keagamaan masyarakat.

Zikir, pembacaan Al-Qur’an, pembacaan Barzanji, doa, salat Jumat, serta penggunaan rebana menjadi bagian dari rangkaian yang hidup bersama dengan prosesi adat. Penelitian yang diterbitkan pada 2025 menyebut Tammu Taung mengandung nilai ilahiyah, sosial, dan patriotisme sekaligus memperkuat identitas keislaman masyarakat pesisir Pajenekang.

Makanan manis yang disiapkan warga pun tidak sekadar menjadi hidangan.

Dalam kajian tentang tradisi tersebut, makanan manis dikaitkan dengan simbol rasa syukur, harapan akan kehidupan yang baik, serta solidaritas masyarakat.

Semua dilakukan secara bersama.

Ada warga yang menyiapkan makanan. Ada yang mengikuti rangkaian adat. Ada yang berkumpul untuk berzikir. Ada yang mengikuti ziarah. Ada pula warga yang tinggal di luar pulau dan pulang ketika Tammu Taung digelar.

Tradisi itu akhirnya menjadi semacam titik temu.

Orang-orang yang sehari-hari berada di tempat berbeda kembali bertemu di pulau yang sama.

Mengapa Tammu Taung Tetap Bertahan?

Di tengah perubahan zaman, sebuah tradisi hanya akan bertahan jika masih memiliki arti bagi orang-orang yang menjalaninya.

Tammu Taung tampaknya menemukan ruang itu melalui kebersamaan.

Penelitian mengenai tradisi Pajenekang mencatat tingginya partisipasi masyarakat dalam persiapan dan pelaksanaan acara. Pada puncak perayaan, jumlah pengunjung bahkan disebut dapat mencapai lebih dari seribu orang.

Bagi masyarakat pulau, kerja bersama tersebut bukan sekadar persiapan sebuah acara.

Ada hubungan sosial yang ikut dirawat di dalamnya.

Orang-orang berkumpul. Makanan dibuat bersama. Sejarah diceritakan kembali. Anak-anak melihat bagaimana orang yang lebih tua menjalankan adat. Dan warga yang merantau memiliki alasan untuk kembali.

Itulah mungkin sebabnya sebuah tradisi bisa bertahan lebih lama daripada satu generasi.

Bukan karena semua detailnya selalu sama, melainkan karena masyarakat terus menemukan alasan untuk mengulanginya.

Tammu Taung kemudian menjadi semacam kalender sosial bagi warga Pajenekang. Muharram datang, masyarakat berkumpul. Tiga pekan berjalan, sejarah kembali diceritakan. Setelah itu kehidupan sehari-hari berlanjut.

Namun ingatan yang dirawat melalui tradisi tidak ikut hilang.

Di sebuah pulau kecil di Pangkep, pergantian tahun Islam akhirnya memiliki cara sendiri untuk dikenang.

Bukan hanya dengan melihat tanggal berganti.

Tetapi dengan kembali pulang, duduk bersama, berdoa, menziarahi makam, mendengar sejarah, dan menghidupkan adat yang telah diwariskan.

Tammu Taung membuat Muharram di Pajenekang bukan sekadar tentang tahun yang baru. Ia juga tentang ingatan lama yang sengaja tidak dibiarkan pergi.