Pangkep, Katasulsel.com — Sebuah cap tangan menempel pada dinding gua di kawasan karst Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Bukan gambar baru, bukan pula tanda tangan pengunjung. Jejak itu merupakan bagian dari tinggalan arkeologis di Leang Kassi, situs prasejarah di Kabupaten Pangkep.
Leang Kassi berada di gugusan Bulu Matojeng dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten melalui Surat Keputusan Nomor 727 Tahun 2019.
Di dalam dan sekitar situs, ditemukan sejumlah tinggalan arkeologis, antara lain cangkang kerang, artefak batu, serta lukisan pada dinding gua. Lukisan tersebut berupa cap tangan dan coretan berwarna hitam.
Jejak Tangan di Dinding Gua
Cap tangan menjadi salah satu bentuk seni cadas yang banyak ditemukan di kawasan karst Maros-Pangkep.
Penelitian arkeologi di Pangkep telah mendokumentasikan ratusan gambar telapak tangan pada sejumlah gua prasejarah. Salah satu penelitian terhadap 12 gua di Pangkep mencatat 326 gambar telapak tangan dan menganalisis bentuk, ukuran, orientasi, warna, serta konteks kemunculannya.
Namun, keberadaan cap tangan di Leang Kassi tidak berarti setiap gambar tersebut dapat langsung diberi umur tertentu.
Untuk menentukan usia sebuah lukisan cadas, peneliti membutuhkan metode pertanggalan dan bukti ilmiah yang sesuai. Karena itu, angka usia yang pernah ditemukan pada situs-situs lain di kawasan Maros-Pangkep tidak boleh begitu saja dilekatkan kepada Leang Kassi.
Yang dapat dipastikan dari data cagar budaya adalah bahwa Leang Kassi menyimpan lukisan dinding berupa cap tangan dan coretan hitam bersama berbagai tinggalan arkeologis lainnya.
Bukan Sekadar Coretan
Seni cadas berupa cap tangan memiliki persebaran luas di Sulawesi Selatan.
Penelitian etnoarkeologi menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan juga mengenal tradisi membuat cap tangan dalam ritual mabedda bola, yaitu rangkaian upacara yang berkaitan dengan pendirian atau peresmian rumah tradisional.
Penelitian tersebut melihat adanya kemiripan bentuk antara cap tangan pada rumah tradisional dan cap tangan pada dinding gua prasejarah. Para peneliti mengajukan kemungkinan bahwa cap tangan pada masa lalu berkaitan dengan penandaan kelompok atau ruang serta perlindungan dari bahaya, tetapi interpretasi tersebut merupakan kajian etnoarkeologi dan tidak dapat langsung dianggap sebagai kepastian mengenai fungsi setiap cap tangan di Leang Kassi.
Hal itu memperlihatkan bahwa sebuah gambar tangan pada dinding gua tidak selalu dapat dibaca hanya sebagai gambar.
Di baliknya bisa terdapat persoalan tentang siapa yang membuatnya, untuk apa dibuat, dan bagaimana manusia masa lalu memaknai ruang tempat mereka tinggal atau beraktivitas.
Ada Artefak Batu dan Cangkang Kerang
Leang Kassi juga tidak hanya menyimpan lukisan.
Data cagar budaya mencatat adanya artefak batu berupa serpih, bilah, dan tatal pada pelataran gua. Selain itu, ditemukan pula cangkang kerang yang menjadi bagian dari tinggalan arkeologis di situs tersebut.
Temuan-temuan itu membuat Leang Kassi memiliki nilai lebih dari sekadar tempat dengan gambar pada dinding.
Gua dan ceruk prasejarah di kawasan Maros-Pangkep merupakan bagian dari rekaman kehidupan manusia masa lalu. Penelitian terhadap situs-situs tersebut terus digunakan untuk memahami teknologi, pola kehidupan, serta perkembangan budaya manusia di Sulawesi.
Kawasan karst Maros-Pangkep sendiri telah menjadi salah satu wilayah penting dalam penelitian seni cadas prasejarah. Sejumlah situs di dalamnya bahkan memiliki lukisan yang telah mendapatkan pertanggalan ilmiah sangat tua. Namun, usia tersebut harus dilekatkan pada situs dan lukisan yang memang telah diteliti, bukan digeneralisasi kepada seluruh gua di kawasan tersebut.
Sudah Berstatus Cagar Budaya
Leang Kassi secara resmi tercatat sebagai situs cagar budaya di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Surat Keputusan Nomor 727 Tahun 2019 menetapkan Leang Kassi sebagai cagar budaya tingkat kabupaten. Data resmi juga mencatat lokasinya berada di kawasan Bulu Matojeng dengan ketinggian sekitar 15 meter di atas permukaan laut. Mulut gua memiliki lebar sekitar 24 meter dan tinggi sekitar 30 meter.
Status tersebut menunjukkan bahwa nilai Leang Kassi bukan hanya berada pada keindahan bentang alam karstnya.
Cap tangan, coretan pada dinding, artefak batu, dan cangkang kerang menjadi bagian dari rekaman kehidupan manusia yang tersimpan di kawasan tersebut.
Di dinding Leang Kassi, sebuah gambar tangan mungkin tampak sederhana. Namun, jejak itu menjadi bagian dari bukti bahwa manusia telah meninggalkan tanda di kawasan karst Sulawesi Selatan jauh sebelum wilayah tersebut menjadi Pangkep seperti yang dikenal sekarang.
Dan selama jejak itu masih bertahan, Leang Kassi tetap menjadi salah satu ruang penting untuk membaca kembali cerita manusia dari masa prasejarah.(*)
