Jeneponto, Katasulsel.com – Selama bertahun-tahun, Kopi Rumbia hanya dikenal di kalangan penikmat kopi lokal dan pecinta cita rasa khas Sulawesi Selatan. Namun pada Senin (29/6/2026), sejarah baru akhirnya ditulis dari tanah Jeneponto.
Sebanyak 300 kilogram Kopi Rumbia resmi diberangkatkan menuju Republik Ceko dalam ekspor perdana yang menandai langkah pertama kopi berstatus Indikasi Geografis (IG) itu memasuki pasar Eropa.
Meski jumlahnya belum besar, momentum ini dianggap sebagai lompatan penting bagi petani kopi, pelaku UMKM, dan masyarakat Jeneponto yang selama ini berjuang membangun reputasi Kopi Rumbia dari kebun-kebun di kaki pegunungan hingga dikenal dunia.
Pelepasan ekspor berlangsung di hadapan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Jeneponto, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan, Balai Standardisasi Nasional (BSN) Makassar, Bank Sulselbar, Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis (MPIG), eksportir, hingga para pelaku usaha lokal.
Ketua MPIG Kopi Rumbia, Haji Nasrum, menyebut pengiriman 300 kilogram tersebut masih berupa sampel untuk memperkenalkan karakter dan kualitas Kopi Rumbia kepada pembeli di Eropa.
“Ini memang baru langkah pertama. Namun kami optimistis permintaan akan terus tumbuh seiring semakin dikenalnya Kopi Rumbia di pasar internasional,” katanya.
Di balik keberangkatan kopi itu, tersimpan harapan besar ribuan petani yang selama ini menggantungkan hidup pada komoditas perkebunan. Jika pasar Eropa terbuka lebih luas, maka dampaknya diyakini akan langsung dirasakan hingga ke tingkat kebun.
Direktur PT Arsyam Nusantara Sejahtera, Renaldi, mengatakan perusahaannya telah mengekspor berbagai produk ke delapan negara. Namun ekspor Kopi Rumbia ke Republik Ceko menjadi catatan istimewa karena membuka peluang baru bagi produk khas Jeneponto untuk bersaing di pasar global.
Menurutnya, kualitas Kopi Rumbia tidak kalah dibanding kopi-kopi premium dari daerah lain yang lebih dulu dikenal dunia.
“Kami melihat Kopi Rumbia memiliki karakter dan kualitas yang sangat kompetitif. Tantangannya sekarang adalah menjaga kontinuitas produksi dan kualitas agar pasar internasional semakin percaya,” ujarnya.
Keberhasilan ini juga menjadi bukti nyata manfaat perlindungan Indikasi Geografis yang diperoleh Kopi Rumbia pada tahun 2023.
Kepala Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Sulsel, Andi Haris, mengungkapkan bahwa Jeneponto sebenarnya memiliki banyak potensi lain yang layak mendapatkan perlindungan serupa.
Beberapa di antaranya adalah Tenun Tope, gula aren atau gula lontara, hingga jagung khas Jeneponto yang memiliki karakteristik unik dan berpotensi menjadi identitas ekonomi daerah.
Sementara itu, Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkum Sulsel, Demson Marihot, menegaskan bahwa Kopi Rumbia menjadi salah satu contoh sukses bagaimana perlindungan kekayaan intelektual mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal.
“Hari ini bukan sekadar ekspor kopi. Ini adalah bukti bahwa produk berbasis kekayaan intelektual daerah bisa menjadi kekuatan ekonomi yang nyata,” ujarnya.
Perwakilan Balai Standardisasi Nasional (BSN) Makassar juga mengingatkan bahwa pasar internasional tidak hanya menuntut rasa yang baik, tetapi juga konsistensi mutu. Karena itu, standar produksi harus terus dijaga agar reputasi yang sudah dibangun tidak mudah runtuh.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Jeneponto memastikan dukungannya tidak berhenti pada ekspor perdana ini.
Sekretaris Daerah Jeneponto, Sapa Muji, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas UMKM dan petani melalui berbagai program pemberdayaan.
Sedangkan Bupati Jeneponto, Paris Yasir, menyatakan pihaknya akan mendorong pembangunan fasilitas pascapanen untuk meningkatkan kualitas Kopi Rumbia sehingga mampu menembus lebih banyak negara.
“Kami ingin petani kopi di Jeneponto bangga dengan hasil kebunnya sendiri. Hari ini dunia mulai melihat apa yang selama ini kami yakini, bahwa Kopi Rumbia memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional,” tegasnya.
Momentum bersejarah tersebut semakin bermakna ketika Bank Sulselbar menyerahkan cendera mata kepada para pihak yang terlibat sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan panjang yang mengantarkan Kopi Rumbia dari kebun-kebun di Jeneponto menuju pasar Eropa.
Bagi masyarakat Jeneponto, ekspor 300 kilogram kopi ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para petani, inilah simbol bahwa kerja keras mereka akhirnya berhasil menembus batas geografis dan membawa nama daerah ke panggung dunia.
Dari lereng Rumbia, aroma kopi kini tak lagi berhenti di Sulawesi Selatan. Ia telah berlayar ribuan kilometer menuju Eropa, membawa harapan baru bagi masa depan ekonomi Jeneponto. (din)
