Sulawesi Selatan, Katasulsel.com – Seorang perantau mungkin hanya membawa satu tas ketika meninggalkan rumah. Beberapa pakaian. Sedikit uang. Nomor telepon saudara yang tinggal jauh di kota tujuan.

Namun, perjalanan itu jarang sesederhana barang-barang yang ikut di dalam tas.

Ada bahasa yang tetap melekat. Ada cara menyapa orang yang lebih tua. Ada resep makanan yang kelak dicari ketika rindu rumah datang. Ada nama kampung yang terus disebut dalam percakapan. Ada saudara yang menjadi tempat bertanya ketika hidup di tanah baru tidak berjalan seperti yang dibayangkan.

Dan dalam tradisi Bugis, ada satu kata yang sejak lama berkaitan dengan perjalanan itu: sompe’.

Dalam sejumlah kajian, sompe’ merujuk pada aktivitas berlayar atau pergi ke tanah rantau, sementara pasompe’ digunakan untuk menyebut orang yang melakukan perjalanan tersebut. Tradisi itu tidak hanya berkaitan dengan perpindahan tempat, tetapi juga sejarah pelayaran, perdagangan, dan mobilitas masyarakat Bugis ke berbagai wilayah Nusantara.

Lalu, apa yang sebenarnya dibawa seorang Bugis ketika ia meninggalkan tanah kelahirannya?

Mungkin pertanyaan itu lebih menarik daripada sekadar bertanya ke mana ia pergi.

Merantau bukan sekadar meninggalkan rumah

Tidak semua orang Bugis merantau dengan alasan yang sama.

Ada yang berangkat untuk berdagang. Ada yang mencari pekerjaan. Ada yang mengikuti keluarga. Ada yang melihat peluang di tempat lain. Ada pula yang pergi karena keadaan di kampung halaman tidak lagi menyediakan ruang hidup yang cukup.

Kajian mengenai migran Bugis di berbagai daerah menunjukkan bahwa faktor ekonomi, kesempatan, jaringan sosial, serta kondisi di daerah asal dan tujuan ikut memengaruhi keputusan seseorang untuk merantau. Karena itu, sompe’ tidak tepat dipahami hanya sebagai satu dorongan budaya yang berlaku sama bagi semua orang.

Dulu, laut menjadi salah satu jalan penting.

Orang berlayar membawa barang dagangan, mencari pelabuhan baru, bertemu masyarakat lain, lalu membangun kehidupan di tempat yang sebelumnya mungkin hanya dikenal dari cerita.

Kajian tentang masyarakat Bugis mencatat tradisi pelayaran yang panjang dari kawasan Teluk Bone, Selat Makassar, hingga Laut Jawa. Aktivitas berlayar itu dikenal dalam istilah lokal lao sompeq, sedangkan orang yang melakukannya disebut pasompeq.

Hari ini bentuknya berubah.

Orang tidak selalu berangkat dengan kapal kayu.

Pesawat, bus, kendaraan pribadi, bahkan satu pesan singkat di telepon seluler bisa menjadi awal sebuah perantauan.

Yang berubah adalah jalannya.

Keputusan untuk pergi tetap menyisakan pertanyaan yang sama:

Setelah sampai di sana, saya akan menjadi siapa?

Yang ikut berangkat bukan cuma barang

Coba bayangkan seorang anak muda dari Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, atau daerah lain di Sulawesi Selatan yang pertama kali tinggal jauh dari rumah.

Ia mungkin tidak membawa kursi dari ruang tamu.

Tidak membawa pohon mangga di halaman.

Tidak membawa suara tetangga yang setiap pagi terdengar dari depan rumah.

Tetapi ada banyak hal lain yang ikut.

Cara berbicara. Cara menghormati orang tua. Cara menjamu tamu. Cara menyebut kerabat. Cara mengatur hubungan dengan sesama. Pengetahuan tentang pekerjaan. Pengalaman berdagang. Bahkan cara seseorang membaca peluang.

Hal-hal semacam itu tidak membutuhkan tempat di dalam koper.

Ia sudah melekat pada orangnya.

Penelitian mengenai migran Bugis di Kendari, misalnya, menunjukkan bahwa jaringan sosial dan ekonomi ikut berperan dalam kehidupan perantau. Hubungan dengan sesama migran dapat membantu seseorang beradaptasi sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi di tempat tujuan.

Karena itu, seorang perantau yang datang lebih dulu kadang menjadi jalan bagi orang lain.

Ia menemukan tempat tinggal. Mengenal pasar. Mendapat pekerjaan. Membuka usaha. Kemudian mengabari saudara di kampung.

Di sinilah sebuah perjalanan pribadi dapat berubah menjadi jaringan.

Satu orang berangkat. Lalu seorang saudara menyusul. Kemudian kerabat lain.

Nama sebuah kampung dari Sulawesi Selatan pun terdengar di kota yang jaraknya ratusan kilometer.

Kampung halaman ternyata bisa ikut tinggal

Ada hal yang menarik dari kehidupan perantau.

Seseorang bisa tinggal puluhan tahun di tempat baru, tetapi masih menyimpan banyak hal dari tempat asalnya.

Ia mungkin tetap memasak makanan yang dikenalnya sejak kecil.

Tetap menggunakan bahasa Bugis ketika bertemu sesama orang Bugis.

Tetap menghubungi keluarga di kampung.

Tetap pulang ketika ada kesempatan.

Atau sekadar menyimpan cerita tentang rumah lama kepada anak-anaknya.

Penelitian tentang komunitas Bugis di perantauan menunjukkan bahwa identitas budaya tidak selalu hilang ketika seseorang berpindah tempat. Sebagian unsur budaya dapat dipertahankan, sementara unsur lain mengalami perubahan karena pertemuan dengan lingkungan sosial yang baru.

Di sinilah perantauan menjadi menarik.

Identitas tidak selalu dibawa dalam bentuk yang utuh.

Ada yang dipertahankan. Ada yang berubah. Ada yang ditinggalkan.

Ada pula yang justru baru terasa penting setelah seseorang hidup jauh dari rumah.

Barangkali seseorang baru sadar betapa akrabnya suara bahasa daerah ketika ia tidak lagi mendengarnya setiap hari.

Barangkali rasa makanan tertentu baru terasa berbeda ketika dimakan di kota yang jauh.

Atau mungkin sebuah nama kampung tiba-tiba menjadi begitu penting ketika seseorang ditanya:

“Ki dari mana?”

Siri’ tidak berhenti di batas kampung

Dalam pembicaraan mengenai kehidupan Bugis, sulit mengabaikan siri’.

Tetapi siri’ juga tidak tepat disederhanakan sebagai rasa malu.

Dalam berbagai kajian budaya Bugis-Makassar, siri’ berkaitan dengan kehormatan, harga diri, dan martabat. Bersama passe’, ia juga berkaitan dengan solidaritas dan hubungan sosial.

Dalam konteks perantauan, nilai tersebut dapat bertemu dengan kebutuhan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Bukan berarti setiap orang Bugis pergi karena ingin membuktikan sesuatu.

Namun, bagi sebagian perantau, keberhasilan di tanah baru dapat berkaitan dengan harga diri, keluarga, dan tanggung jawab yang mereka bawa dari rumah.

Karena itu, pulang membawa kabar baik kadang terasa penting.

Bukan hanya karena ingin menunjukkan hasil.

Ada keluarga yang ikut menunggu.

Ada orang tua yang ingin tahu bagaimana anaknya hidup.

Ada saudara yang mungkin berharap mendapat jalan untuk menyusul.

Ada nama keluarga yang ikut disebut ketika seseorang memperkenalkan dirinya.

Di tanah rantau, seseorang membawa dirinya sendiri sekaligus membawa hubungan sosial yang tidak sepenuhnya ia tinggalkan.

Perantau pertama bisa menjadi pintu bagi yang berikutnya

Jaringan seperti ini membuat migrasi tidak selalu bergerak sendirian.

Seorang perantau yang sudah lebih dulu tinggal di suatu daerah dapat menjadi penghubung bagi orang-orang dari kampung halaman.

Ia memberi informasi. Menawarkan tempat tinggal sementara. Mengenalkan pekerjaan. Mempertemukan dengan orang lain. Atau sekadar memberi tahu bahwa di kota tersebut ada ruang untuk memulai hidup.

Dalam sejumlah penelitian mengenai migran Bugis, jaringan sosial dan ekonomi memang menjadi bagian penting dari proses adaptasi dan aktivitas ekonomi di daerah tujuan.

Jaringan itu tidak selalu berbentuk organisasi resmi.

Kadang hanya hubungan keluarga. Kadang teman sekampung. Kadang seseorang yang kebetulan bertemu di pasar.

Tetapi dari hubungan kecil semacam itu, seorang pendatang dapat merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Dan mungkin itu pula sebabnya banyak perantau tetap mencari orang yang berasal dari daerah yang sama.

Bukan karena mereka tidak mau bergaul dengan orang lain.

Justru karena ketika hidup sedang terasa asing, menemukan seseorang yang mengerti satu bahasa, satu makanan, atau satu nama kampung dapat membuat percakapan berlangsung lebih mudah.

Tanah rantau juga mengubah orang

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Perantauan tidak hanya mengubah tempat tinggal.

Ia juga mengubah orang yang pergi.

Seseorang belajar menyesuaikan diri.

Belajar memahami kebiasaan masyarakat setempat. Belajar bahasa baru. Belajar menghadapi pekerjaan yang berbeda.

Bisa jadi ia menikah dengan orang dari daerah lain.

Anaknya tumbuh dengan pengalaman yang tidak sama dengan pengalaman orang tuanya.

Rumah yang dibangun di tanah rantau pun mungkin tidak lagi sama dengan rumah di kampung halaman.

Penelitian mengenai komunitas Bugis di berbagai daerah menunjukkan proses adaptasi tersebut. Identitas tetap dapat dipertahankan, tetapi pada saat yang sama terjadi negosiasi dengan lingkungan baru.

Jadi, mempertahankan identitas tidak selalu berarti mempertahankan semuanya persis seperti dahulu.

Ada bagian yang tetap.

Ada bagian yang menyesuaikan.

Ada bagian yang baru muncul setelah bertemu dengan kehidupan lain.

Seorang anak Bugis yang lahir di tanah rantau mungkin tidak tumbuh dengan pengalaman yang sama seperti orang tuanya.

Tetapi ia bisa mengenal nama kampung yang bahkan belum pernah didatanginya.

Ia bisa tahu nama neneknya di Sulawesi Selatan.

Ia bisa mengenali beberapa kata dalam bahasa Bugis.

Ia bisa pulang suatu hari dan merasa bahwa tempat itu asing sekaligus akrab.

Aneh, bukan?

Dari Sulawesi Selatan, perjalanan itu terus bergerak

Jejak orang Bugis di luar Sulawesi Selatan dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.

Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Bali, Jawa, Sumatra, hingga kawasan Asia Tenggara menjadi bagian dari sejarah panjang mobilitas orang Bugis.

Di sejumlah wilayah, mereka datang melalui perdagangan dan pelayaran. Di tempat lain, mereka membangun kehidupan melalui pertanian, perikanan, perdagangan, atau usaha lainnya.

Kisah-kisah itu membuat kata sompe’ tidak cukup diterjemahkan sebagai “pergi”.

Ada proses di dalamnya.

Ada keberangkatan.

Ada pertemuan.

Ada penyesuaian.

Ada usaha untuk bertahan.

Ada hubungan yang dibangun.

Dan kadang ada kepulangan yang tidak lagi sama dengan keberangkatan.

Sebab seseorang yang pulang setelah bertahun-tahun membawa cerita dari tempat lain.

Ia membawa kebiasaan baru.

Mungkin logat baru.

Mungkin keluarga baru.

Mungkin cara pandang yang berbeda.

Kampung halaman pun telah berubah selama ia pergi.

Lalu, apa yang sebenarnya dibawa?

Mungkin tidak ada jawaban tunggal.

Tanyakan kepada orang yang berangkat membawa dagangan. Jawabannya mungkin berbeda dengan orang yang pergi mencari pekerjaan.

Tanyakan kepada anak muda yang pertama kali meninggalkan rumah. Jawabannya mungkin berbeda dengan orang tua yang telah puluhan tahun tinggal di tanah rantau.

Ada yang membawa keberanian.

Ada yang membawa keterampilan.

Ada yang membawa nama keluarga.

Ada yang membawa bahasa.

Ada yang membawa resep masakan.

Ada yang membawa nomor telepon orang sekampung.

Ada pula yang baru menyadari apa yang ia bawa setelah bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah.

Sebab kampung halaman tidak selalu tinggal di belakang ketika seseorang berangkat.

Kadang ia ikut duduk di meja makan.

Ikut masuk dalam cara seseorang berbicara.

Ikut muncul ketika ia memilih nama untuk anaknya.

Ikut hadir ketika ia bertemu seseorang yang berasal dari daerah yang sama.

Lalu percakapan kecil itu dimulai.

“Dari mana ki?”
“Dari Sulsel.”
“Daerah mana?”

Ia menyebut nama kampungnya.

Lawan bicaranya tiba-tiba tersenyum.

“Wah, saya juga orang sana.”

Dan untuk beberapa menit, kota yang jauh itu terasa tidak terlalu jauh.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini