Bone, Katasulsel.com – Di Latekko, Kecamatan Awangpone, gogos bukan sekadar makanan yang dibeli untuk mengganjal lapar. Jajanan berbahan ketan itu telah menjadi bagian dari aktivitas pedagang di jalur poros Bone-Wajo, tempat orang singgah sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Pemerintah Kabupaten Bone kemudian mengembangkan kawasan tersebut sebagai Kawasan Wisata Kuliner Latekko. Pada Juni 2026, kawasan itu diluncurkan dengan identitas Lago Termanis, singkatan dari Latekko Gogos, Telur, dan Tuak Manis. Gogos telur dan tuak manis ditempatkan sebagai potensi kuliner yang dikembangkan bersama masyarakat setempat.

Dari Jajanan Singgah Menjadi Identitas Kawasan

Gogos dibuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang, kemudian dimasak hingga matang. Bentuknya memanjang dan praktis dibawa, sehingga cocok menjadi makanan bagi orang yang sedang melakukan perjalanan.

Di Latekko, karakter itu bertemu dengan posisi kawasan yang berada di jalur Bone-Wajo.

Orang yang melintas dapat berhenti sebentar, membeli gogos, lalu kembali meneruskan perjalanan. Pola tersebut ikut membuat aktivitas jual beli gogos bertahan di kawasan itu.

Pemerintah daerah kemudian melihat aktivitas tersebut sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi kawasan kuliner, bukan hanya tempat pedagang menjajakan makanan di pinggir jalan.

Ada Pedagang yang Bertahan Hampir Satu Dekade

Cerita kawasan Latekko tidak hanya datang dari kebijakan pemerintah. Di baliknya ada pedagang yang setiap hari menjaga agar makanan tersebut tetap tersedia.

Salah satunya Fira, 27 tahun. RRI melaporkan Fira telah berjualan gogos dan tuak manis selama hampir satu dekade.

Ia membuka lapak sejak sekitar pukul 06.00 WITA dan dapat melayani pembeli hingga tengah malam. Pada 31 Agustus 2026, Fira menyiapkan sekitar 150 gogos untuk dijual.

Pembelinya tidak hanya berasal dari Bone. Orang yang melintas dari Makassar, Sinjai, hingga Siwa juga tercatat menjadi pelanggan.

Bagi Fira, berjualan gogos bukan sekadar mempertahankan makanan tradisional. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari usaha untuk membantu perekonomian keluarga.

Gogos, Telur, dan Tuak Manis

Nama Lago Termanis tidak muncul tanpa alasan.

Identitas kawasan tersebut dibangun dari tiga potensi kuliner yang dikenal di Latekko, yakni gogos, telur, dan tuak manis. Ketiganya kemudian dipromosikan sebagai daya tarik kuliner kawasan.

Gogos menjadi makanan berbahan ketan. Telur melengkapi sajian, sedangkan tuak manis menjadi minuman yang turut dikenal di kawasan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Bone menempatkan pengembangan kuliner itu dalam upaya menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membangun daya tarik wisata berbasis potensi lokal.

Dengan begitu, makanan yang sebelumnya hadir sebagai dagangan harian mulai memperoleh ruang dalam promosi pariwisata daerah.

Kenapa Gogos Bertahan di Jalur Bone-Wajo?

Ada faktor sederhana yang membantu menjelaskan keberadaannya: gogos mudah dibawa dan mudah dimakan dalam perjalanan.

Bungkus daun pisang membuat makanan tidak memerlukan wadah tambahan ketika dibeli. Pembeli dapat membawanya di kendaraan dan menyantapnya kemudian.

Karakter tersebut cocok dengan kawasan Latekko yang berada di jalur perjalanan antardaerah.

Kehadiran pedagang yang bertahan bertahun-tahun kemudian memperkuat posisi gogos sebagai bagian dari aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Dari Lapak Pedagang ke Wisata Kuliner

Peluncuran Kawasan Wisata Kuliner Latekko pada 29 Juni 2026 menjadi babak baru bagi kuliner di kawasan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Bone tidak hanya mempromosikan makanan, tetapi juga mencoba membangun ruang yang dapat menghubungkan kuliner dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, para pedagang tetap menjalankan rutinitas yang sudah mereka kenal: menyiapkan gogos, membuka lapak, menunggu kendaraan berhenti, lalu melayani pembeli.

Di sepanjang jalur Bone-Wajo itu, makanan berbahan ketan yang dibungkus daun pisang akhirnya memiliki cerita yang lebih panjang. Gogos tetap menjadi makanan singgah, tetapi kini Latekko sedang menjadikannya alasan untuk berhenti.