Bone, Katasulsel.com – Sebuah rangka manusia ditemukan di Gua Balang Metti, Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Kondisinya sangat rapuh ketika ditemukan dalam penelitian arkeologi yang berlangsung di kawasan karst tersebut.

Temuan ini dipublikasikan oleh Fakhri, peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, dalam jurnal Walennae edisi November 2017. Penelitian itu mengidentifikasi rangka sebagai Homo sapiens dan menghubungkannya dengan kebudayaan penutur bahasa Austronesia yang diperkirakan berkembang kurang dari 3.000 tahun lalu. Perkiraan tersebut didasarkan pada konteks temuan arkeologis, bukan hasil penanggalan langsung terhadap rangka.

Yang menarik, meski ditemukan rangka manusia, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa Gua Balang Metti merupakan situs pemakaman. Hubungan antara rangka, artefak, dan lapisan budaya justru menjadi persoalan penting untuk memahami bagaimana gua itu digunakan pada masa prasejarah.

Rangka Ditemukan dalam Penelitian Gua Prasejarah

Penelitian arkeologi di kawasan Bontocani dimulai melalui survei pada awal 2010 dan dilanjutkan dengan penelitian serta penggalian pada tahun-tahun berikutnya. Survei intensif pada 2014 mengidentifikasi Gua Balang Metti sebagai salah satu lokasi yang memiliki potensi arkeologi.

Di sekitar mulut gua ditemukan sejumlah tinggalan, antara lain alat batu, pecahan gerabah, tulang, dan kulit kerang. Kepadatan temuan tersebut mendorong peneliti melakukan kajian lebih mendalam.

Rangka manusia ditemukan dalam penelitian pada 2015. Penggalian lanjutan hingga 2016 membantu peneliti merekam konteks temuan dan mengidentifikasi bagian-bagian tulang yang masih dapat dikenali.

Dalam artikel ilmiahnya, Fakhri menjelaskan bahwa rangka berada dalam kondisi rapuh sehingga proses pencatatan, pemotretan, dan penghitungan fragmen tulang dilakukan secara hati-hati.

Artefak Batu dan Gerabah Membantu Menjelaskan Konteks

Gua Balang Metti tidak hanya menghasilkan rangka manusia. Peneliti juga mencatat artefak batu, fragmen tembikar, tulang fauna, serta sisa aktivitas yang ditemukan di kawasan gua.

Temuan tersebut digunakan untuk membaca konteks kehidupan manusia pada masa lampau. Artefak batu menjadi petunjuk mengenai teknologi perkakas, sedangkan gerabah dan sisa fauna membantu peneliti mengkaji aktivitas manusia serta lingkungan tempat mereka hidup.

Dalam penelitian tersebut, rangka ditemukan berasosiasi dengan temuan lain pada lapisan budaya. Namun, asosiasi arkeologis tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh benda digunakan atau dibuat pada waktu yang persis sama.

Karena itu, peneliti menilai hubungan antartemuan perlu diuji lebih lanjut. Penanggalan yang sistematis dibutuhkan untuk memperjelas kronologi rangka dan tinggalan budaya di situs tersebut.

Mengapa Gua Balang Metti Tidak Disebut Situs Pemakaman?

Rangka manusia yang ditemukan di dalam gua tidak serta-merta menjadikan seluruh lokasi sebagai tempat pemakaman. Dalam kesimpulan penelitiannya, Fakhri menyatakan bahwa berdasarkan asosiasi temuan, Gua Balang Metti bukan merupakan situs yang secara khusus dikategorikan sebagai situs penguburan.

Temuan rangka tetap memberikan informasi penting mengenai praktik penguburan manusia pada masa lalu. Penelitian mengidentifikasi bentuk penguburan primer, yakni jenazah dikuburkan secara langsung tanpa melalui tahap pemindahan tulang setelah proses penguraian.

Akan tetapi, konteks rangka bersama temuan lain menimbulkan pertanyaan tentang fungsi utama gua. Apakah gua terutama digunakan untuk aktivitas hunian, sementara penguburan berlangsung sebagai salah satu kegiatan di dalamnya? Pertanyaan ini memerlukan pengujian lebih lanjut terhadap konteks lapisan tanah dan hubungan antartemuan.

Peneliti juga merekomendasikan pengujian penanggalan, termasuk melalui sampel arang dan gigi manusia, untuk memperjelas kronologi situs. Dengan demikian, usia rangka dan fungsi Gua Balang Metti tidak semestinya dinyatakan lebih pasti daripada yang didukung data penelitian.

Bagian dari Kawasan Karst Bontocani

Gua Balang Metti berada di Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, pada ketinggian sekitar 511 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat Desa Pattuku dan berada di kawasan karst dengan permukaan berbatu kapur.

Survei arkeologi di kawasan Bontocani menemukan sejumlah gua dan ceruk dengan potensi tinggalan yang berbeda-beda. Sebaran situs tersebut menjadikan kawasan ini penting untuk penelitian tentang kehidupan manusia prasejarah di Sulawesi Selatan.

Publikasi Fakhri pada 2017 memberikan data awal mengenai rangka manusia yang ditemukan dalam konteks gua prasejarah di Pattuku. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memperjelas kronologi dan hubungan antara rangka, artefak batu, gerabah, serta tinggalan lainnya.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru