Soppeng, Katasulsel.com – Nama Leppe-Leppe mungkin tidak sepopuler kuliner Soppeng yang lebih sering muncul dalam daftar makanan khas Sulawesi Selatan. Namun, makanan berbahan beras ketan ini masih tercatat dalam khazanah pangan tradisional Soppeng.
Leppe-Leppe masuk dalam penelitian mengenai makanan tradisional empat etnis di Sulawesi Selatan sebagai salah satu makanan tradisional masyarakat Soppeng. Pencatatan tersebut menempatkannya dalam ragam kuliner Bugis yang menggunakan beras ketan sebagai salah satu bahan pangan penting.
Dibungkus Sebelum Dimasak
Ada satu ciri yang melekat pada Leppe-Leppe, yakni penggunaan pembungkus dalam proses pengolahannya.
Beras ketan tidak langsung dimasak dan disajikan seperti nasi. Bahan tersebut terlebih dahulu disiapkan dan dibungkus, kemudian dimasak hingga matang.
Cara ini membuat Leppe-Leppe memiliki bentuk yang berbeda dari olahan ketan yang disajikan secara lepas. Pembungkus sekaligus menjadi bagian dari proses memasak makanan.
Teknik membungkus pangan dengan daun sendiri bukan hal asing dalam dapur tradisional Sulawesi Selatan. Cara tersebut memungkinkan makanan dimasak dalam bentuk yang lebih padat dan mudah dibawa atau disajikan.
Tercatat sebagai Makanan Tradisional Soppeng
Leppe-Leppe menarik bukan karena bahan yang sulit ditemukan. Justru beras ketan merupakan bahan yang telah lama digunakan dalam berbagai makanan masyarakat Bugis.
Yang membuatnya penting untuk dicatat adalah keberadaannya dalam dokumentasi kuliner Soppeng.
Dalam penelitian Pengembangan dan Penerapan Resep Makanan Tradisional Empat Etnis pada Upacara Adat dan Wisata Kuliner Nusantara di Sulawesi Selatan, Leppe-Leppe tercantum sebagai salah satu makanan tradisional Soppeng.
Pencatatan tersebut juga menunjukkan bahwa kuliner tradisional Sulawesi Selatan tidak selalu berhenti pada makanan yang sudah populer secara komersial. Sejumlah makanan masih dikenal melalui lingkungan keluarga dan masyarakat yang mempertahankan cara pengolahannya.
Ketan dalam Dapur Bugis
Beras ketan memiliki posisi penting dalam berbagai pangan tradisional Bugis. Bahan ini dapat diolah menjadi makanan dengan bentuk dan teknik memasak yang berbeda sesuai kebiasaan masing-masing daerah.
Leppe-Leppe menjadi salah satu contohnya.
Karena memiliki kesamaan budaya dan bahan pangan, makanan berbahan ketan juga dapat ditemukan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dengan nama atau bentuk yang berbeda. Karena itu, Leppe-Leppe tidak perlu diposisikan sebagai makanan yang hanya dimiliki Soppeng.
Yang lebih penting adalah jejaknya di Soppeng dan keberadaannya dalam catatan makanan tradisional daerah tersebut.
Tidak Semua Makanan Tradisional Menjadi Kuliner Populer
Popularitas sebuah makanan tidak selalu menentukan apakah makanan tersebut penting dalam kebudayaan pangan suatu daerah.
Ada makanan yang mudah ditemukan di pasar dan rumah makan. Ada pula yang keberadaannya lebih dekat dengan rumah tangga dan pengetahuan memasak yang diwariskan di lingkungan masyarakat.
Leppe-Leppe berada pada kelompok kedua.
Namanya mungkin tidak sepopuler makanan yang sudah menjadi ikon kuliner Soppeng. Namun, pencatatannya dalam kajian makanan tradisional menunjukkan bahwa hidangan tersebut merupakan bagian dari ragam pangan yang pernah dan masih dikenal masyarakat Soppeng.
Bagi kuliner daerah, catatan semacam ini penting. Sebab, makanan tradisional tidak hanya dibentuk oleh apa yang paling sering dijual, tetapi juga oleh makanan yang tetap diingat dan dikenali ketika generasi berikutnya mencari kembali jejak dapur daerahnya.
