Barru, Katasulsel.com – Sejarah masuknya Islam di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, tidak dapat dilepaskan dari sosok Petta Palase Lase’e, raja kesembilan Kerajaan Tanete yang memerintah pada 1603–1625. Selain dikenal sebagai penguasa, ia tercatat berperan dalam penyebaran Islam di Tanete dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.

Catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan menyebut Petta Palase Lase’e juga dikenal dengan gelar Petta Sugi’e. Pada masa pemerintahannya, Tanete berkembang melalui perdagangan, sementara hubungan dengan pedagang Muslim dari berbagai wilayah ikut membuka jalan bagi penerimaan Islam di lingkungan kerajaan.

Kajian Abdul Hafid yang diterbitkan pada 2018 menjelaskan bahwa proses Islamisasi Tanete berlangsung melalui hubungan perdagangan dan peran penguasa. Sebelum Islam diterima secara resmi oleh kerajaan, sejumlah pedagang Muslim dari Melayu, termasuk Johor, telah datang dan menetap di kawasan tersebut.

Perdagangan Membuka Jalan bagi Islam

Pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, kawasan Tanete terhubung dengan jaringan perdagangan antarkerajaan di Sulawesi Selatan. Pedagang dari berbagai daerah datang membawa komoditas sekaligus membangun hubungan sosial dengan masyarakat setempat.

Menurut kajian Abdul Hafid, pedagang dari Jawa, Portugis, Minangkabau, dan Johor telah hadir di kawasan tersebut sebelum Petta Palase Lase’e memerintah. Di antara para pedagang itu terdapat pemeluk Islam yang menjalankan aktivitas keagamaan.

Hubungan perdagangan tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam memahami perkembangan Islam di Tanete. Agama ini tidak hadir dalam ruang yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan berinteraksi dengan aktivitas ekonomi dan hubungan antarkelompok.

Kerajaan Tanete juga memiliki hubungan dengan Kerajaan Gowa, yang menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17. Hubungan politik dan keagamaan antarkerajaan ikut memengaruhi proses penerimaan Islam di Tanete.

Petta Palase Lase’e Menerima Islam

Kajian Abdul Hafid menyebut Petta Palase Lase’e menerima Islam setelah memenuhi panggilan Kerajaan Gowa pada 1608. Di sana, ia mempelajari ajaran Islam sebelum kembali ke Tanete untuk menyebarkannya kepada masyarakat.

Dalam proses tersebut, Daeng Mattepu disebut sebagai ulama yang membantu pengajaran agama. Penyebaran Islam di Tanete berlangsung melalui pendekatan persuasif, dengan mengajak masyarakat memahami ajaran baru tanpa memaksakan perubahan secara serta-merta.

Kajian itu mencatat bahwa Islam kemudian diterima sebagai agama resmi Kerajaan Tanete pada 1610. Peran Petta Palase Lase’e tidak berhenti pada penerimaan pribadi, tetapi berlanjut pada penyebaran Islam ke wilayah lain yang memiliki hubungan dengan Tanete.

Catatan tersebut menempatkan Tanete sebagai salah satu kerajaan yang berperan dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, berdampingan dengan peran Kerajaan Gowa.

Makam Raja Tanete IX di Lalabata

Jejak Petta Palase Lase’e masih dapat ditemukan melalui kompleks makamnya di Laponcing, Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat makam tersebut sebagai makam Raja Tanete IX. Bentuknya berupa jirat semu bertingkat tiga dengan tinggi sekitar 320 sentimeter. Pada bagian selatan terdapat pintu berukuran sekitar 55 sentimeter lebar dan 80 sentimeter tinggi.

Makam ini menjadi lokasi ziarah bagi masyarakat dari berbagai daerah. Kajian Abdul Hafid juga membahas perilaku dan motivasi peziarah, termasuk penghormatan kepada Petta Palase Lase’e sebagai tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam. Keyakinan tertentu yang berkembang di kalangan peziarah merupakan bagian dari praktik spiritual masyarakat dan perlu dibedakan dari fakta sejarah mengenai masa pemerintahannya.

Tidak jauh dari kompleks makam tersebut, Desa Lalabata juga memiliki Masjid Lailatul Qadri. Sejumlah sumber pariwisata dan pemberitaan lokal menyebut masjid itu berdiri sekitar 1625 dan dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Barru. Informasi mengenai tahun pendirian tersebut bersumber dari catatan lokal, sehingga perlu dibedakan dari kronologi pemerintahan Petta Palase Lase’e yang tercatat dalam kajian sejarah. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru