Wajo, Katasulsel.com – Sebelum jalan raya menghubungkan kampung dengan kampung, air lebih dulu membuka jalur perjalanan.
Di Wajo, Sungai Walanae pernah menjadi bagian penting dari pergerakan orang dan barang. Perahu membawa hasil bumi, menghubungkan permukiman, dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang alirannya.
Sungai bukan sekadar bentang alam.
Ia pernah menjadi jalan.
Ketika Perahu Membawa Hasil Bumi
Sungai Walanae melintasi wilayah Bone, Soppeng, dan Wajo. Dalam kajian sejarah dan tata ruang, sungai ini tercatat memiliki fungsi transportasi dan ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Kajian mengenai permukiman di tepian Sungai Walanae mencatat bahwa masyarakat di sejumlah wilayah memanfaatkan perahu tradisional, termasuk katinting, untuk mengangkut hasil bumi dan menjalankan aktivitas sosial. Dermaga sederhana bahkan dibangun di sekitar rumah penduduk.
Bayangkan sebuah kampung ketika jalan darat belum menjadi pilihan utama.
Barang yang hendak dipindahkan tidak selalu diangkut menggunakan kendaraan.
Perahu mengambil peran itu.
Hasil bumi dibawa menuju titik perdagangan. Orang bergerak mengikuti aliran air. Rumah-rumah di tepi sungai memiliki hubungan langsung dengan jalur yang ada di depan mereka.
Air menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Walanae dan Jalur yang Menghubungkan Wilayah
Peran Sungai Walanae tidak hanya muncul dalam cerita masyarakat masa kini.
Sumber sejarah mencatat bahwa pada masa lalu sungai tersebut dapat dilayari perahu-perahu besar. Sebuah kajian yang diterbitkan melalui repositori Kemendikdasmen menyebut perahu berukuran besar pernah berlayar di sepanjang Walanae, sementara perahu yang lebih kecil dapat mencapai kawasan hulu hingga Kampiri di Wajo.
Pemerintah Kabupaten Bone juga mencatat bahwa Walanae dan Cenrana memiliki peran sebagai jalur transportasi dan perekonomian. Hasil pertanian, termasuk beras dari wilayah Bone, Soppeng, dan Wajo, pernah diangkut melalui jalur sungai untuk kemudian diperdagangkan ke wilayah lain.
Jalur air itu membuat sungai tidak berdiri sendiri.
Ia terhubung dengan kehidupan ekonomi yang lebih luas.
Dari wilayah penghasil, barang bergerak.
Dari sungai, perjalanan berlanjut.
Dari satu wilayah, barang dapat mencapai wilayah lain.
Danau Tempe Bukan Ujung Cerita
Kalau membicarakan jalur air Wajo, Sungai Walanae tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Danau Tempe dan Sungai Cenranae.
Ketiganya membentuk jaringan perairan yang memiliki hubungan dengan pergerakan manusia dan barang.
Kajian sejarah menunjukkan bahwa kawasan Danau Tempe pada masa lalu menjadi bagian dari jalur pelayaran yang menghubungkan kawasan Selat Makassar dengan Teluk Bone. Jalur lain menghubungkan Teluk Bone menuju hulu Walanae melalui Sungai Cenranae. Jalur tersebut penting pada masa ketika jaringan jalan darat belum menghubungkan wilayah-wilayah tersebut.
Itu membuat air memiliki posisi yang jauh lebih penting daripada sekadar sumber kehidupan.
Air menjadi penghubung.
Seseorang tidak hanya melihat sungai sebagai tempat air mengalir. Di sana ada jalur yang dapat membawa manusia keluar dari satu wilayah menuju wilayah lain.
Ketika Jalan Darat Mengambil Alih
Perubahan datang perlahan.
Jalan darat berkembang. Kendaraan bermotor semakin mudah digunakan. Perjalanan yang sebelumnya bergantung pada kondisi sungai mulai berpindah ke jalan raya.
Sungai yang dulu menjadi jalur utama kemudian menghadapi fungsi yang berbeda.
Perahu tetap ada.
Aktivitas masyarakat di tepian sungai tetap berlangsung.
Namun, posisi sungai dalam sistem transportasi berubah.
Pemerintah Kabupaten Wajo sendiri masih memasukkan Sungai Walanae, Sungai Cenranae, Sungai Siwa, dan Danau Tempe dalam sistem jaringan transportasi sungai dan danau daerah.
Artinya, jalur air itu tidak benar-benar hilang.
Hanya saja, cara manusia menggunakannya telah berubah.
Sungai yang Masih Membawa Kehidupan
Hari ini, Sungai Walanae tetap memiliki fungsi bagi masyarakat.
Penelitian tentang kawasan permukiman di sepanjang sungai mencatat pemanfaatannya untuk transportasi, aktivitas ekonomi, sumber kehidupan, hingga fungsi sosial dan ekologis.
Di sisi lain, sungai juga menghadapi persoalan lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Bone pernah menyebut pendangkalan Walanae sebagai salah satu persoalan yang berkaitan dengan banjir di wilayah utara Bone.
Sungai yang dahulu menjadi jalan kini juga harus berhadapan dengan perubahan lingkungan dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Ada masa ketika kedalaman sungai menentukan apakah sebuah perahu dapat lewat.
Ada masa ketika orang menunggu air naik agar perjalanan bisa dilakukan.
Dan ada masa ketika kendaraan bermotor membuat orang tidak lagi harus menunggu sungai.
Dulu Jalan, Sekarang Apa?
Perubahan fungsi sungai tidak berarti sejarahnya ikut menghilang.
Di tepian Walanae, jejak hubungan manusia dengan air masih dapat dibaca dari permukiman, perahu, aktivitas ekonomi, dan ingatan masyarakat.
Kajian tentang aktivitas marrai di Sungai Walanae, misalnya, mencatat bahwa pada 1970-an hingga 1980-an sungai pernah digunakan sebagai sarana transportasi air sebelum aktivitas tersebut berkembang ke fungsi ekonomi lainnya.
Ada sesuatu yang menarik dari perubahan itu.
Sebuah sungai tidak pernah memilih apakah ia akan menjadi jalan atau bukan.
Manusialah yang memberi fungsi kepadanya.
Ketika perahu menjadi alat transportasi utama, sungai menjadi jalan.
Ketika kendaraan mengambil alih, jalan raya menjadi pilihan.
Namun, air tetap mengalir melewati tempat yang sama.
Mungkin hari ini seseorang melintasi jalan di Wajo tanpa lagi memikirkan jalur air di dekatnya.
Padahal di bawah sana, Walanae masih membawa arusnya sendiri.
Dan jika dahulu orang menyeberangi wilayah itu dengan perahu, hari ini kita hanya perlu berhenti sebentar di tepi sungai untuk membayangkan bagaimana perjalanan pernah dimulai dari sana.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
