WAJO, Katasulsel.com — Ada satu malam yang selalu terasa berbeda menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bukan karena pesta rakyat atau gemerlap panggung hiburan. Melainkan karena pada malam itulah puluhan remaja terbaik daerah menerima amanah yang tidak semua orang mendapatkannya: mengawal Sang Saka Merah Putih.
Minggu (16/8/2026), suasana khidmat menyelimuti Ruang Pola Kantor Bupati Wajo saat Bupati Wajo, Andi Rosman, mengukuhkan 70 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Wajo Tahun 2026.
Mereka terdiri dari 35 siswi dan 35 siswa yang telah melewati proses seleksi, pembinaan, serta pelatihan yang tidak ringan. Di balik seragam putih yang tampak rapi itu, tersimpan berjam-jam latihan fisik, disiplin, ketahanan mental, hingga pengorbanan waktu bersama keluarga dan teman-teman mereka.
Dalam tradisi Paskibraka, pengukuhan bukan sekadar seremoni administratif.
Ia adalah momen transisi.
Dari pelajar biasa menjadi simbol kepercayaan negara.
Dari peserta latihan menjadi pelaksana upacara yang akan disaksikan ribuan pasang mata.
Prosesi pengukuhan ditandai dengan penyematan lencana dan pemasangan sabuk Paskibraka oleh Bupati Wajo, yang kemudian diikuti jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Turut hadir Ketua TP PKK Kabupaten Wajo Fatmawati Amin, Wakil Bupati Wajo dr. Baso Rahmanuddin, unsur TNI-Polri, pimpinan DPRD, Kejaksaan, Pengadilan, hingga jajaran pemerintah daerah.
Menariknya, selain 70 anggota Paskibraka, turut dikukuhkan empat personel pengapit yang berasal dari Polres Wajo dan Kodim 1406 Wajo. Kehadiran mereka menjadi simbol kolaborasi lintas institusi dalam menjaga kehormatan prosesi pengibaran bendera.
Dalam amanatnya, Bupati Andi Rosman menekankan bahwa tugas Paskibraka bukan hanya mengibarkan bendera, melainkan membawa nilai-nilai kebangsaan yang harus tertanam dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjadi pasukan pengibar bendera adalah tugas mulia. Tidak mudah berada di posisi ini. Butuh kerja keras, perjuangan dan semangat. Apa yang menjadi amanah dan tanggung jawab besar harus diselesaikan,” ujarnya.
Pesan tersebut memiliki makna yang dalam.
Dalam dunia kepemimpinan, Paskibraka sering disebut sebagai sekolah karakter mini. Di sana para pelajar belajar tentang disiplin, kepatuhan terhadap aturan, kerja sama tim, hingga kemampuan mengendalikan diri dalam tekanan.
Nilai-nilai itulah yang membuat Paskibraka berbeda dari sekadar pasukan upacara.
Mereka adalah representasi generasi muda yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan.
Karena itu, tugas mereka sesungguhnya tidak berakhir setelah bendera diturunkan pada sore hari tanggal 17 Agustus.
Justru setelah upacara usai, tantangan sesungguhnya dimulai: menjaga nilai-nilai yang telah mereka pelajari selama proses pembinaan.
Bupati Wajo juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembina, pelatih, personel TNI-Polri, serta Purna Paskibraka Indonesia (PPI) yang selama ini mendampingi para peserta.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pasukan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan banyak pihak.
Senin pagi (17/8/2026), 70 putra-putri terbaik Wajo itu akan berdiri tegak di Lapangan Merdeka Sengkang.
Di hadapan masyarakat, mereka akan menjalankan tugas yang hanya berlangsung beberapa menit.
Namun di balik beberapa menit itu, tersimpan berbulan-bulan latihan, disiplin, dan pengorbanan.
Sebab bagi seorang anggota Paskibraka, mengibarkan Merah Putih bukan sekadar mengangkat selembar kain ke puncak tiang.
Itu adalah cara mereka menghormati sejarah, menjaga kehormatan bangsa, dan membuktikan bahwa semangat kemerdekaan masih hidup di dada generasi muda Wajo. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
