Menjadi Miliarder Dadakan, Daisy Tak Menyangka Kebaikannya Dibalas Warisan Rp14 Miliar
Jakarta — Ada orang yang bekerja demi gaji.
Ada pula yang bekerja dengan hati.
Daisy Bucad-Eng tidak pernah membayangkan bahwa sikap tulusnya sebagai pembantu rumah tangga suatu hari akan mengubah hidupnya secara drastis.
Bukan karena memenangkan lotere.
Bukan pula karena menemukan harta karun.
Wanita asal Filipina itu mendadak menjadi miliuner setelah majikannya meninggal dunia dan meninggalkan warisan bernilai sekitar Rp14 miliar.
Kisahnya kembali ramai diperbincangkan dan menginspirasi banyak orang.
Sebab semuanya berawal dari kehidupan yang jauh dari kata mewah.
Menikah di Usia 16 Tahun
Daisy masih sangat muda ketika hidup memaksanya menjadi dewasa.
Di usia 16 tahun, ia sudah menikah dan harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Saat itu, hidup tidak mudah.
Ia pernah mencoba berjualan garam untuk mencari nafkah.
Namun penghasilannya tidak cukup.
Setiap hari adalah perjuangan.
Setiap rupiah harus dihitung.
Melihat banyak tetangganya bekerja ke luar negeri, Daisy akhirnya mengambil keputusan besar: menjadi tenaga kerja rumah tangga di Hong Kong.
Ia berangkat dengan harapan sederhana.
Bisa membantu keluarga.
Bisa mengubah nasib.
Tidak lebih.
Bertemu Majikan yang Mengubah Hidupnya
Perjalanan sebagai pekerja rumah tangga ternyata tidak selalu indah.
Daisy mengaku pernah bekerja dengan majikan yang memperlakukannya tidak baik.
Namun takdir membawanya bertemu seorang perempuan asal Portugal bernama Marie.
Di rumah itulah hidupnya mulai berubah.
Marie tidak memperlakukan Daisy seperti pembantu.
Ia memperlakukannya seperti keluarga.
Saat banyak pekerja migran hidup dalam keterasingan, Daisy justru menemukan kehangatan.
Hubungan mereka semakin dekat dari tahun ke tahun.
Marie bahkan pernah ikut pulang ke Filipina dan tinggal di rumah Daisy.
Mereka berlibur bersama.
Berziarah bersama.
Berbagi cerita layaknya ibu dan anak.
Padahal saat itu gaji Daisy hanya sekitar HKD 90 atau sekitar Rp2 jutaan per bulan.
Tetapi baginya, penghargaan dan rasa hormat jauh lebih berharga daripada angka di slip gaji.
Surat yang Mengubah Segalanya
Tahun 2002 menjadi tahun yang berat.
Marie jatuh sakit akibat penyakit serius.
Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Daisy kehilangan sosok yang selama ini dianggap keluarga sendiri.
Kesedihan itu belum selesai ketika sebuah kejutan besar datang.
Setelah kematian Marie, ditemukan sebuah surat yang membuat Daisy tak percaya.
Majikannya ternyata meninggalkan warisan dalam jumlah fantastis.
Bukan sekadar kenang-kenangan.
Bukan sekadar hadiah.
Tetapi aset bernilai miliaran rupiah.
Daisy menerima sebuah apartemen senilai 26 juta peso Filipina atau sekitar Rp7,4 miliar.
Ia juga menerima saham di sejumlah perusahaan.
Selain itu, Marie meninggalkan uang tunai sekitar 25 juta peso atau setara Rp7 miliar.
Total nilainya mencapai sekitar Rp14 miliar.
Jumlah yang bahkan mungkin tak pernah terlintas dalam mimpi Daisy ketika pertama kali menjual garam di kampung halamannya.
Bukan Tentang Uang
Banyak orang melihat kisah ini sebagai cerita tentang warisan miliaran rupiah.
Namun bagi Daisy, ada hal yang lebih penting.
Warisan itu bukan muncul begitu saja.
Ia lahir dari hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun dengan kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan.
Daisy tidak pernah bekerja dengan harapan mendapat harta.
Ia hanya berusaha menjadi pekerja yang baik.
Dan mungkin itulah yang membuat kisahnya menyentuh banyak orang hingga hari ini.
Kepada sesama pekerja rumah tangga, Daisy berpesan agar selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan.
āSelalu lakukan yang terbaik dalam pekerjaanmu dan selalu hormati majikanmu. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,ā katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi dari seorang mantan pembantu rumah tangga yang pernah hidup dalam keterbatasan lalu menerima warisan miliaran rupiah, pesannya terasa berbeda.
Sebab terkadang, hidup tidak selalu membalas kebaikan dengan cepat.
Namun ketika balasan itu datang, hasilnya bisa jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan. (*)
Menjadi Miliarder Dadakan, Daisy Tak Menyangka Kebaikannya Dibalas Warisan Rp14 Miliar
Jakarta — Ada orang yang bekerja demi gaji.
Ada pula yang bekerja dengan hati.
Daisy Bucad-Eng tidak pernah membayangkan bahwa sikap tulusnya sebagai pembantu rumah tangga suatu hari akan mengubah hidupnya secara drastis.
Bukan karena memenangkan lotere.
Bukan pula karena menemukan harta karun.
Wanita asal Filipina itu mendadak menjadi miliuner setelah majikannya meninggal dunia dan meninggalkan warisan bernilai sekitar Rp14 miliar.
Kisahnya kembali ramai diperbincangkan dan menginspirasi banyak orang.
Sebab semuanya berawal dari kehidupan yang jauh dari kata mewah.
Menikah di Usia 16 Tahun
Daisy masih sangat muda ketika hidup memaksanya menjadi dewasa.
Di usia 16 tahun, ia sudah menikah dan harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Saat itu, hidup tidak mudah.
Ia pernah mencoba berjualan garam untuk mencari nafkah.
Namun penghasilannya tidak cukup.
Setiap hari adalah perjuangan.
Setiap rupiah harus dihitung.
Melihat banyak tetangganya bekerja ke luar negeri, Daisy akhirnya mengambil keputusan besar: menjadi tenaga kerja rumah tangga di Hong Kong.
Ia berangkat dengan harapan sederhana.
Bisa membantu keluarga.
Bisa mengubah nasib.
Tidak lebih.
Bertemu Majikan yang Mengubah Hidupnya
Perjalanan sebagai pekerja rumah tangga ternyata tidak selalu indah.
Daisy mengaku pernah bekerja dengan majikan yang memperlakukannya tidak baik.
Namun takdir membawanya bertemu seorang perempuan asal Portugal bernama Marie.
Di rumah itulah hidupnya mulai berubah.
Marie tidak memperlakukan Daisy seperti pembantu.
Ia memperlakukannya seperti keluarga.
Saat banyak pekerja migran hidup dalam keterasingan, Daisy justru menemukan kehangatan.
Hubungan mereka semakin dekat dari tahun ke tahun.
Marie bahkan pernah ikut pulang ke Filipina dan tinggal di rumah Daisy.
Mereka berlibur bersama.
Berziarah bersama.
Berbagi cerita layaknya ibu dan anak.
Padahal saat itu gaji Daisy hanya sekitar HKD 90 atau sekitar Rp2 jutaan per bulan.
Tetapi baginya, penghargaan dan rasa hormat jauh lebih berharga daripada angka di slip gaji.
Surat yang Mengubah Segalanya
Tahun 2002 menjadi tahun yang berat.
Marie jatuh sakit akibat penyakit serius.
Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Daisy kehilangan sosok yang selama ini dianggap keluarga sendiri.
Kesedihan itu belum selesai ketika sebuah kejutan besar datang.
Setelah kematian Marie, ditemukan sebuah surat yang membuat Daisy tak percaya.
Majikannya ternyata meninggalkan warisan dalam jumlah fantastis.
Bukan sekadar kenang-kenangan.
Bukan sekadar hadiah.
Tetapi aset bernilai miliaran rupiah.
Daisy menerima sebuah apartemen senilai 26 juta peso Filipina atau sekitar Rp7,4 miliar.
Ia juga menerima saham di sejumlah perusahaan.
Selain itu, Marie meninggalkan uang tunai sekitar 25 juta peso atau setara Rp7 miliar.
Total nilainya mencapai sekitar Rp14 miliar.
Jumlah yang bahkan mungkin tak pernah terlintas dalam mimpi Daisy ketika pertama kali menjual garam di kampung halamannya.
Bukan Tentang Uang
Banyak orang melihat kisah ini sebagai cerita tentang warisan miliaran rupiah.
Namun bagi Daisy, ada hal yang lebih penting.
Warisan itu bukan muncul begitu saja.
Ia lahir dari hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun dengan kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan.
Daisy tidak pernah bekerja dengan harapan mendapat harta.
Ia hanya berusaha menjadi pekerja yang baik.
Dan mungkin itulah yang membuat kisahnya menyentuh banyak orang hingga hari ini.
Kepada sesama pekerja rumah tangga, Daisy berpesan agar selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan.
āSelalu lakukan yang terbaik dalam pekerjaanmu dan selalu hormati majikanmu. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,ā katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi dari seorang mantan pembantu rumah tangga yang pernah hidup dalam keterbatasan lalu menerima warisan miliaran rupiah, pesannya terasa berbeda.
Sebab terkadang, hidup tidak selalu membalas kebaikan dengan cepat.
Namun ketika balasan itu datang, hasilnya bisa jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan. (*)
Jakarta, Katasulsel.com — Ada orang yang bekerja demi gaji.
Ada pula yang bekerja dengan hati.
Daisy Bucad-Eng tidak pernah membayangkan bahwa sikap tulusnya sebagai pembantu rumah tangga suatu hari akan mengubah hidupnya secara drastis.
Bukan karena memenangkan lotere.
Bukan pula karena menemukan harta karun.
Wanita asal Filipina itu mendadak menjadi miliuner setelah majikannya meninggal dunia dan meninggalkan warisan bernilai sekitar Rp14 miliar.
Kisahnya kembali ramai diperbincangkan dan menginspirasi banyak orang.
Sebab semuanya berawal dari kehidupan yang jauh dari kata mewah.
Menikah di Usia 16 Tahun
Daisy masih sangat muda ketika hidup memaksanya menjadi dewasa.
Di usia 16 tahun, ia sudah menikah dan harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Saat itu, hidup tidak mudah.
Ia pernah mencoba berjualan garam untuk mencari nafkah.
Namun penghasilannya tidak cukup.
Setiap hari adalah perjuangan.
Setiap rupiah harus dihitung.
Melihat banyak tetangganya bekerja ke luar negeri, Daisy akhirnya mengambil keputusan besar: menjadi tenaga kerja rumah tangga di Hong Kong.
Ia berangkat dengan harapan sederhana.
Bisa membantu keluarga.
Bisa mengubah nasib.
Tidak lebih.
Bertemu Majikan yang Mengubah Hidupnya
Perjalanan sebagai pekerja rumah tangga ternyata tidak selalu indah.
Daisy mengaku pernah bekerja dengan majikan yang memperlakukannya tidak baik.
Namun takdir membawanya bertemu seorang perempuan asal Portugal bernama Marie.
Di rumah itulah hidupnya mulai berubah.
Marie tidak memperlakukan Daisy seperti pembantu.
Ia memperlakukannya seperti keluarga.
Saat banyak pekerja migran hidup dalam keterasingan, Daisy justru menemukan kehangatan.
Hubungan mereka semakin dekat dari tahun ke tahun.
Marie bahkan pernah ikut pulang ke Filipina dan tinggal di rumah Daisy.
Mereka berlibur bersama.
Berziarah bersama.
Berbagi cerita layaknya ibu dan anak.
Padahal saat itu gaji Daisy hanya sekitar HKD 90 atau sekitar Rp2 jutaan per bulan.
Tetapi baginya, penghargaan dan rasa hormat jauh lebih berharga daripada angka di slip gaji.
Surat yang Mengubah Segalanya
Tahun 2002 menjadi tahun yang berat.
Marie jatuh sakit akibat penyakit serius.
Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Daisy kehilangan sosok yang selama ini dianggap keluarga sendiri.
Kesedihan itu belum selesai ketika sebuah kejutan besar datang.
Setelah kematian Marie, ditemukan sebuah surat yang membuat Daisy tak percaya.
Majikannya ternyata meninggalkan warisan dalam jumlah fantastis.
Bukan sekadar kenang-kenangan.
Bukan sekadar hadiah.
Tetapi aset bernilai miliaran rupiah.
Daisy menerima sebuah apartemen senilai 26 juta peso Filipina atau sekitar Rp7,4 miliar.
Ia juga menerima saham di sejumlah perusahaan.
Selain itu, Marie meninggalkan uang tunai sekitar 25 juta peso atau setara Rp7 miliar.
Total nilainya mencapai sekitar Rp14 miliar.
Jumlah yang bahkan mungkin tak pernah terlintas dalam mimpi Daisy ketika pertama kali menjual garam di kampung halamannya.
Bukan Tentang Uang
Banyak orang melihat kisah ini sebagai cerita tentang warisan miliaran rupiah.
Namun bagi Daisy, ada hal yang lebih penting.
Warisan itu bukan muncul begitu saja.
Ia lahir dari hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun dengan kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan.
Daisy tidak pernah bekerja dengan harapan mendapat harta.
Ia hanya berusaha menjadi pekerja yang baik.
Dan mungkin itulah yang membuat kisahnya menyentuh banyak orang hingga hari ini.
Kepada sesama pekerja rumah tangga, Daisy berpesan agar selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan.
āSelalu lakukan yang terbaik dalam pekerjaanmu dan selalu hormati majikanmu. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,ā katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi dari seorang mantan pembantu rumah tangga yang pernah hidup dalam keterbatasan lalu menerima warisan miliaran rupiah, pesannya terasa berbeda.
Sebab terkadang, hidup tidak selalu membalas kebaikan dengan cepat.
Namun ketika balasan itu datang, hasilnya bisa jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan. (*)
