Sidrap, Katasulsel.com — Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (HIMPOSIP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) akan menggelar Malam Puncak September Kelam dan HIMPOSIP Bazaar. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mahasiswa untuk mengenang sejumlah peristiwa yang terjadi dalam perjalanan bangsa.

Kegiatan dijadwalkan berlangsung di Auditorium H. Zaini Razak UMS Rappang, Rabu (30/9/2026) malam, mulai pukul 20.00 WITA hingga selesai. Panitia mengundang seluruh mahasiswa UMS Rappang untuk menghadiri kegiatan tersebut dengan mengenakan pakaian berwarna hitam.

Ketua HIMPOSIP UMS Rappang periode 2026–2027, Usman, mengatakan kegiatan September Kelam dirancang sebagai ruang untuk mengingat berbagai peristiwa yang pernah terjadi, khususnya sejumlah tragedi yang berlangsung pada September.

“Ini untuk mengenang dan menolak lupa terhadap tragedi yang pernah terjadi di bulan September. Kami ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ruang refleksi agar mahasiswa dapat mengingat, belajar, dan mengambil pelajaran dari sejarah,” kata Usman.

Menurutnya, konsep kegiatan dikemas melalui persembahan puisi dan orasi. Sejumlah pengurus HIMPOSIP akan mengambil peran berbeda dalam membawakan setiap persembahan yang mengangkat peristiwa-peristiwa tersebut.

“Puisi dan orasi akan dibawakan oleh pengurus HIMPOSIP. Masing-masing memiliki peran yang berbeda dan persembahan yang ditampilkan merujuk pada tragedi yang pernah terjadi,” ujarnya.

Adapun sejumlah peristiwa yang akan diangkat dalam persembahan September Kelam HIMPOSIP UMS Rappang antara lain Gerakan 30 September 1965, Tragedi Tanjung Priok 1984, Tragedi Semanggi II 1999, kasus pembunuhan Munir 2004, gerakan Reformasi Dikorupsi 2019, Tragedi Rempang 2023, serta kekerasan dalam aksi massa pada periode Agustus-September 2025-2026.

Dalam rangkaian tersebut, setiap peristiwa akan dibawakan melalui format orasi atau puisi oleh pengurus HIMPOSIP. Di antaranya, Gerakan 30 September akan dibawakan melalui orasi oleh Humaira, Tragedi Tanjung Priok melalui puisi oleh Al Akhfiya, dan Tragedi Semanggi II melalui orasi oleh Asrul.

Selanjutnya, kasus pembunuhan Munir akan disampaikan melalui puisi oleh Rezky, Reformasi Dikorupsi melalui orasi oleh Risman, kerusakan Masjid Ahmadiyah Sintang melalui puisi oleh Fadhel, Tragedi Rempang melalui puisi oleh Darman, serta kekerasan dalam aksi massa melalui orasi oleh Saphia.

Usman berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum bagi mahasiswa untuk tidak sekadar mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga memahami pentingnya menjaga ingatan sejarah.

“Menolak lupa, merawat ingatan, dan belajar dari sejarah,” demikian pesan yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Selain agenda refleksi September Kelam, kegiatan juga dirangkaikan dengan HIMPOSIP Bazaar sebagai wadah partisipasi dan kebersamaan mahasiswa.

HIMPOSIP mengajak mahasiswa UMS Rappang untuk hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama melalui refleksi sejarah. (*)