Pangkep, Katasulsel.com — Sirene itu berbunyi seperti biasa.

Panggilan tugas datang.

Ada kebakaran lahan di wilayah Gentung, Kecamatan Labakkang.

Seperti hari-hari sebelumnya, para petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) bergerak cepat.

Mereka berangkat untuk menyelamatkan.

Bukan untuk berpamitan.

Namun takdir ternyata menulis cerita yang berbeda.

Tiga personel Damkar Pangkep gugur dalam perjalanan menuju lokasi kebakaran setelah armada yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di Jalan Poros Trans Sulawesi, Kampung Ujung-Ujung Batu, Kecamatan Labakkang, Selasa (29/9/2026).

Mereka adalah Ince Irwan, Komandan Peleton (Danton) Damkar Pangkep, Rusman Hadi, dan Jamaluddin.

Ketiganya tidak meninggal saat menghadapi kobaran api.

Mereka gugur sebelum sempat tiba di lokasi yang hendak mereka selamatkan.

Berangkat untuk Menolong

Profesi petugas pemadam kebakaran sering kali hanya terlihat ketika asap membumbung ke langit.

Ketika rumah terbakar.

Ketika lahan dilalap api.

Ketika warga panik.

Saat itulah mereka datang.

Cepat.

Tanpa banyak bertanya.

Dan hampir selalu mempertaruhkan keselamatan sendiri.

Begitu pula pada Selasa siang itu.

Armada Damkar bergerak meninggalkan markas menuju Labakkang setelah menerima laporan kebakaran lahan.

Di dalam mobil itu ada orang-orang yang sedang menjalankan tugas negara.

Ada ayah.

Ada suami.

Ada sahabat.

Ada rekan kerja.

Mereka berangkat dengan satu tujuan: memadamkan api.

Tidak ada yang menyangka perjalanan itu menjadi perjalanan terakhir bagi tiga di antara mereka.

Beberapa Detik yang Mengubah Segalanya

Menurut Kanit Laka Satlantas Polres Pangkep, Ipda Usman, armada Damkar saat itu melaju di lajur kanan ketika hendak menuju lokasi kebakaran.

Kendaraan tersebut berupaya mendahului kendaraan yang berada di depannya.

Namun situasi berubah dalam hitungan detik.

ā€œTadinya mobil pemadam bergerak di lajur kanan. Terus di lajur kanan, pas dia mau lewati mobil di depannya bergerak ke kiri,ā€ ujar Usman.

Pengemudi kemudian berusaha menyesuaikan arah kendaraan.

Tetapi saat kembali mengambil lajur kanan, armada tidak dapat lagi dikuasai.

ā€œTerus kembali mengambil jalur kanan, tidak bisa dikuasai, oleng dan terbalik sendiri,ā€ lanjutnya.

Mobil terguling.

Misi penyelamatan berubah menjadi tragedi.

Jamaluddin Sempat Bertahan

Kabar duka pertama datang dari Ince Irwan dan Rusman Hadi.

Keduanya dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.

Namun perjuangan belum selesai bagi Jamaluddin.

Ia masih sempat mendapatkan pertolongan.

Dirujuk ke rumah sakit.

Dirawat.

Keluarga dan rekan-rekannya tentu berharap keajaiban datang.

Bahwa salah satu dari mereka masih bisa pulang.

Masih bisa kembali mengenakan seragam kebanggaan itu.

Tetapi harapan tersebut akhirnya harus mengalah pada kenyataan.

Setelah menjalani perawatan medis, Jamaluddin dinyatakan meninggal dunia.

Saat itulah jumlah korban meninggal bertambah menjadi tiga orang.

Tiga petugas.

Tiga pejuang kemanusiaan.

Tiga nama yang pagi itu berangkat untuk bekerja dan tidak pernah kembali.

Pahlawan yang Jarang Masuk Cerita

Petugas pemadam kebakaran sering disebut ketika ada kebakaran.

Tetapi jarang dibicarakan ketika mempertaruhkan nyawa di jalan.

Padahal setiap panggilan darurat selalu menuntut kecepatan.

Mereka harus tiba secepat mungkin sebelum api membesar.

Mereka harus bergerak ketika orang lain menjauh dari bahaya.

Mereka harus masuk ketika banyak orang memilih keluar.

Itulah risiko yang melekat pada profesi tersebut.

Dan Selasa itu, risiko itu mengambil harga yang sangat mahal.

Kepergian Ince Irwan, Rusman Hadi, dan Jamaluddin meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan Damkar, serta masyarakat Kabupaten Pangkep.

Mereka dikenang bukan karena bagaimana mereka meninggal.

Tetapi karena bagaimana mereka hidup.

Menjawab panggilan tugas.

Melayani masyarakat.

Dan berangkat setiap hari dengan kesadaran bahwa pekerjaan mereka selalu bersentuhan dengan risiko.

Hari itu, mereka berangkat untuk memadamkan api.

Namun yang tersisa kini adalah air mata.

Sirene yang biasanya membawa harapan, kali ini justru mengantar kabar duka.

Dan di markas Damkar Pangkep, tiga kursi mungkin akan terasa kosong lebih lama dari biasanya.

Sebab pemiliknya tidak sedang bertugas.

Mereka telah menyelesaikan tugas terakhirnya. (*)

Baca Berita Menarik Lainnya di Katasulsel.com