Pangkep, Katasulsel.com ā Ada makanan yang sekadar mengenyangkan. Ada pula makanan yang kemudian berubah menjadi identitas sebuah daerah.
Sop Saudara termasuk yang kedua.
Namanya sudah akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan. Dari Pangkep, Makassar hingga berbagai daerah di Indonesia, menu berkuah dengan irisan daging itu terus dicari. Bahkan, Sop Saudara telah ikut menyeberang keluar Sulsel dan dikenal hingga Jakarta serta sejumlah daerah di kawasan Indonesia Timur.
Di balik nama yang kini begitu populer itu, tersimpan kisah seorang lelaki asal Pangkep bernama Haji Dollahi.
Kini, sang perintis telah berpulang.
Kepergian Haji Dollahi meninggalkan bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga sebuah jejak panjang dalam sejarah kuliner Sulawesi Selatan.
Dialah sosok yang selama ini dikenal sebagai orang yang meracik sekaligus memperkenalkan nama Sop Saudara.
Kisahnya bermula pada era 1950-an.
Saat itu, Haji Dollahi merantau ke Makassar untuk mencari penghidupan. Ia kemudian bekerja sebagai pelayan pada usaha makanan milik Haji Subair, yang juga berasal dari Pangkep.
Haji Subair ketika itu dikenal memiliki tempat makan yang menyajikan sop daging dan cukup digemari masyarakat Makassar.
Dari pekerjaan sederhana sebagai pelayan, Haji Dollahi justru mendapatkan pengalaman yang kelak mengubah perjalanan hidupnya.
Selama kurang lebih tiga tahun bekerja bersama Haji Subair, ia belajar banyak tentang dunia kuliner. Bukan hanya bagaimana melayani pembeli, tetapi juga bagaimana mengolah makanan dan membaca selera orang yang datang menikmati hidangan.
Sampai akhirnya, Haji Dollahi mengambil keputusan besar.
Ia membuka warung makan sendiri.
Keputusan itu ternyata menjadi awal lahirnya sebuah nama yang puluhan tahun kemudian justru menjadi bagian dari identitas kuliner Sulsel.
Masakan Haji Dollahi perlahan mendapatkan tempat di hati pelanggan. Warungnya didatangi masyarakat Makassar maupun orang-orang dari luar daerah.
Dari tempat sederhana itulah, Sop Saudara mulai dikenal.
Namun, nama tersebut bukan muncul tanpa cerita.
Haji Dollahi disebut terinspirasi dari nama Coto Paraikatte, yang dalam pemaknaannya merujuk pada coto untuk saudara atau sesama.
Ia kemudian memilih nama Sop Saudara.
Nama sederhana itu ternyata memiliki umur yang panjang.
Dari sebuah warung makan, Sop Saudara berkembang menjadi kuliner yang melekat dengan Sulawesi Selatan. Nama Pangkep pun ikut terbawa dalam perjalanan sejarahnya.
Kini, setiap kali semangkuk Sop Saudara tersaji di meja, mungkin tak banyak orang yang mengetahui siapa sosok di balik nama tersebut.
Kuahnya dinikmati.
Dagingnya disantap.
Pelengkapnya menambah selera.
Tetapi ada sejarah panjang yang ikut tersaji di dalamnya.
Haji Dollahi telah pergi. Namun, nama yang pernah ia pilih puluhan tahun lalu masih hidup di tengah masyarakat.
Begitulah terkadang sejarah bekerja.
Seseorang mungkin pergi dan dilupakan oleh waktu. Tetapi karya yang lahir dari tangannya justru terus disebut dari generasi ke generasi.
Haji Dollahi meninggalkan sebuah warisan yang tidak terbuat dari batu atau bangunan megah.
Warisan itu hadir dalam bentuk semangkuk Sop Saudara.
Dan setiap kali nama itu disebut, ada jejak seorang lelaki asal Pangkep yang pernah merantau ke Makassar, bekerja dari bawah, kemudian memberanikan diri membuka usaha sendiri hingga melahirkan salah satu nama kuliner yang paling lekat dengan Sulawesi Selatan.
Selamat jalan, Haji Dollahi.
Sop Saudara akan terus mengepul, sementara nama penciptanya menjadi bagian dari cerita panjang kuliner Sulsel. (*)
