Pangkep, Katasulsel.com – Ada pulau kecil di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, yang lebih dikenal dengan nama Pulau Cinta. Nama tersebut merujuk pada Pulau Cangke, sebuah pulau kecil di gugusan Spermonde yang menyimpan perpaduan antara pasir putih, vegetasi pantai, perairan dangkal, dan cerita kehidupan masyarakat yang pernah tinggal di sana.

Pulau Cangke tidak memiliki bentang daratan luas. Justru ukurannya yang kecil menjadi salah satu karakter kawasan ini. Data penelitian Universitas Hasanuddin mencatat luas daratannya sekitar 1,8 hektare dan hanya terdapat sedikit penduduk.

Dari kejauhan, pulau ini tampak seperti hamparan hijau yang dikelilingi laut.

Mengapa Pulau Cangke Disebut Pulau Cinta?

Julukan Pulau Cinta tidak muncul karena bentuk pulaunya menyerupai hati.

Nama tersebut berkaitan dengan kisah Daeng Abu dan Maidah, pasangan suami istri yang pernah tinggal di pulau tersebut selama puluhan tahun.

Daeng Abu dikisahkan meninggalkan kampung halamannya setelah mengalami kusta. Pada masa itu, penyakit tersebut masih mendapat stigma kuat di tengah masyarakat. Maidah kemudian memilih mendampingi suaminya hingga keduanya menjalani kehidupan di Pulau Cangke.

Kisah mereka kemudian melekat dengan identitas pulau.

Sejumlah pemberitaan mengenai Pulau Cangke menyebut pasangan tersebut tinggal di sana selama puluhan tahun dan turut merawat kawasan pulau.

Karena itu, sebutan Pulau Cinta lebih tepat dipahami sebagai julukan yang lahir dari kisah kehidupan Daeng Abu dan Maidah, bukan nama administratif pulau.

Pulau yang Pernah Tandus

Salah satu bagian menarik dari cerita Pulau Cangke justru berada di daratannya.

Pulau ini tidak selalu terlihat hijau seperti sekarang. Berbagai sumber mencatat Daeng Abu ikut menanam dan merawat pepohonan di kawasan tersebut hingga pulau yang sebelumnya lebih tandus berubah menjadi lebih rindang.

Pohon-pohon kemudian membentuk vegetasi yang cukup rapat di bagian tengah pulau.

Penelitian Universitas Hasanuddin juga mencatat keberadaan vegetasi pantai, termasuk pohon pinus dan tumbuhan lainnya, sebagai salah satu karakter Pulau Cangke.

Dari laut, pepohonan tersebut membuat Pulau Cangke terlihat seperti sebuah kawasan hijau kecil yang muncul di tengah gugusan Spermonde.

Pantai Putih dan Laut yang Dangkal

Daya tarik Pulau Cangke tidak berhenti pada ceritanya.

Garis pantainya didominasi pasir putih dengan perairan yang relatif dangkal dan jernih. Ketika kondisi laut memungkinkan, terumbu karang dan ikan di perairan sekitar pulau dapat terlihat dari permukaan.

Karakter tersebut membuat kawasan sekitar pulau cocok untuk aktivitas wisata bahari seperti berenang dan snorkeling.

Penelitian tentang Pulau Cangke juga mencatat kawasan perairannya memiliki tutupan karang yang beragam. Kajian Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengenai pengembangan wilayah berbasis kemaritiman menempatkan Pulau Cangke sebagai salah satu objek wisata di Pangkep dengan pasir putih, perairan jernih, dan keanekaragaman tutupan karang.

Jadi, pengalaman di Pulau Cangke tidak hanya berlangsung di garis pantai.

Laut di sekeliling pulau menjadi bagian utama dari lanskapnya.

Pulau Cangke dan Penyu yang Datang Bertelur

Ada alasan lain mengapa Pulau Cangke memiliki nilai ekologis.

Pulau ini menjadi salah satu lokasi yang didatangi penyu untuk bertelur pada musim tertentu.

Kajian terbaru Universitas Hasanuddin menyebut penyu datang ke pantai Pulau Cangke sekitar dua bulan dalam setahun untuk bertelur. Kondisi tersebut menjadi salah satu potensi ekowisata kawasan.

Catatan pemberitaan sebelumnya juga menunjukkan Pulau Cangke pernah digunakan untuk kegiatan konservasi penyu. Pada 2015, misalnya, dilakukan pelepasan tukik di kawasan tersebut.

Kehadiran penyu membuat pulau kecil ini memiliki fungsi ekologis yang lebih penting daripada sekadar tempat berlibur.

Pantai menjadi tempat persinggahan satwa laut untuk melanjutkan siklus hidupnya.

Ketika Pulau Kecil Menjadi Ruang Konservasi

Pulau Cangke juga pernah menjadi perhatian dalam kegiatan konservasi karena keberadaan penyu dan ekosistem pesisirnya.

Pemberitaan Mongabay pada 2017 mencatat adanya upaya konservasi penyu di pulau tersebut. Saat itu, ancaman terhadap penyu antara lain penangkapan satwa dan pengambilan telur masih menjadi persoalan di sejumlah kawasan pesisir.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa keindahan pulau kecil tidak dapat dilepaskan dari persoalan perlindungan lingkungan.

Pasir putih dan air jernih memang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun, bagi ekosistem, pantai tersebut merupakan tempat hidup dan berkembang biak berbagai organisme.

Tidak Dibangun Seperti Destinasi Wisata Besar

Karakter Pulau Cangke juga berbeda dari destinasi wisata pantai yang telah dipenuhi fasilitas.

Kajian Universitas Hasanuddin yang terbit pada 2026 mencatat Pulau Cangke belum memiliki fasilitas wisata permanen seperti homestay, warung, atau fasilitas umum yang dibangun pemerintah. Akses ke pulau umumnya menggunakan perahu dari Pelabuhan Paotere di Makassar atau Pelabuhan Maccini Baji di Pangkep.

Keterbatasan fasilitas tersebut justru mempertahankan karakter pulau sebagai kawasan kecil yang relatif tenang.

Pengunjung datang untuk menikmati pantai, laut, pepohonan, dan suasana pulau tanpa konstruksi wisata berskala besar.

Pulau Kecil dengan Cerita yang Panjang

Pulau Cangke menunjukkan bahwa sebuah destinasi bahari tidak selalu harus memiliki daratan luas atau fasilitas wisata yang lengkap untuk menarik perhatian.

Ada cerita manusia yang melekat di dalamnya. Ada pasangan yang pernah menjalani hidup di pulau tersebut. Ada pepohonan yang tumbuh dari upaya manusia menghijaukan daratan. Ada terumbu karang di bawah permukaan laut dan penyu yang datang pada musim tertentu.

Karena itu, ketika orang menyebut Pulau Cinta Pangkep, yang dimaksud bukan sekadar pulau dengan pantai indah.

Nama tersebut membawa ingatan tentang Pulau Cangke, sebuah pulau kecil di gugusan Spermonde yang mempertemukan kisah manusia, lanskap pesisir, dan kehidupan laut dalam satu ruang yang terbatas.