Pangkep, Katasulsel.comPangkep dikenal sebagai kabupaten dengan wilayah pesisir, kepulauan, pertanian, dan kawasan karst. Namun, di daratan Pangkep terdapat lanskap lain yang tidak kalah kuat: kawasan industri semen yang telah berkembang selama lebih dari setengah abad.

PT Semen Tonasa menjadi salah satu industri yang paling lekat dengan perubahan tersebut. Pabriknya berada di Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, dan telah berkembang dari proyek industri pada 1960-an menjadi salah satu produsen semen terbesar di kawasan timur Indonesia.

Kehadiran industri itu tidak hanya menghasilkan semen. Di sekitar kawasan pabrik, perubahan juga terjadi pada pekerjaan masyarakat, infrastruktur, pendidikan, pertumbuhan penduduk, hingga hubungan warga dengan lahan dan lingkungan.

Dari Daerah Penghasil Bahan Baku Menjadi Kawasan Industri

Gagasan membangun pabrik semen di Pangkep sebenarnya sudah muncul sejak awal 1960-an. Rencana pembangunan Tonasa I tercatat dalam TAP MPRS Nomor II/MPRS/1960.

Proyek tersebut kemudian berkembang hingga Tonasa I diresmikan pada 1968. Lokasinya dipilih karena Pangkep memiliki sumber bahan baku semen, terutama batu kapur dan tanah liat.

Perkembangan industri berlangsung bertahap. Tonasa II mulai beroperasi pada 1980, disusul Tonasa III pada 1985. Setelah itu, pembangunan terus berlanjut hingga hadirnya Tonasa IV dan V.

Hari ini, PT Semen Tonasa memiliki empat unit pabrik, yaitu Tonasa II, III, IV, dan V. Laporan perusahaan mencatat kapasitas terpasangnya mencapai 7,4 juta ton semen per tahun.

Perubahan skala industri tersebut ikut mengubah kawasan di sekitarnya.

Biring Ere Sebelum dan Sesudah Industri

Perubahan paling mudah dibaca dari masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik.

Sebuah penelitian Universitas Negeri Makassar mengenai Desa Biring Ere menggambarkan kondisi masyarakat sebelum perkembangan industri. Penduduk relatif homogen, mata pencaharian banyak bertumpu pada pertanian dan perkebunan, sementara sarana pendidikan serta infrastruktur masih terbatas.

Ketika industri berkembang, situasinya berubah.

Pembangunan sarana dan prasarana meningkat. Penduduk dari luar daerah mulai datang. Kesempatan kerja juga semakin beragam.

Masyarakat yang sebelumnya lebih banyak bekerja sebagai petani dan pekebun mulai mengenal pekerjaan yang berkaitan dengan sektor industri.

Perubahan tersebut membuat desa yang sebelumnya didominasi aktivitas agraris perlahan menjadi bagian dari kawasan industri Pangkep.

Pekerjaan Warga Ikut Berubah

Industrialisasi membawa jenis pekerjaan baru.

Kehadiran pabrik membutuhkan tenaga kerja dalam berbagai bidang, mulai dari produksi, teknis, administrasi, transportasi, hingga pekerjaan pendukung lainnya.

Perubahan itu kemudian memengaruhi pilihan ekonomi masyarakat sekitar.

Penelitian tentang dampak sosial ekonomi industri Semen Tonasa di Biring Ere menemukan adanya perubahan pola mata pencaharian dari sektor pertanian menuju sektor industri. Penelitian tersebut juga mencatat perubahan pendapatan masyarakat dan bertambahnya penduduk dari luar wilayah.

Dengan demikian, pengaruh industri tidak hanya terlihat dari bangunan pabrik yang besar. Perubahannya juga masuk ke rumah-rumah warga melalui pekerjaan dan sumber pendapatan.

Ketika Infrastruktur Mengikuti Pertumbuhan Industri

Industri berskala besar membutuhkan infrastruktur yang juga besar.

Jalan, fasilitas produksi, jaringan distribusi, listrik, hingga fasilitas pendukung industri berkembang mengikuti kebutuhan perusahaan.

PT Semen Tonasa sendiri memiliki kawasan pabrik seluas sekitar 1.571 hektare di Biring Ere. Operasionalnya didukung fasilitas lain, termasuk pelabuhan khusus, unit pembangkit listrik, dan jaringan packing plant di sejumlah wilayah Indonesia timur.

Pertumbuhan tersebut membuat kawasan sekitar pabrik memiliki karakter yang berbeda dibandingkan desa agraris pada masa sebelumnya.

Ruang yang semula lebih banyak digunakan untuk pertanian perlahan berdampingan dengan kawasan industri.

Ada Harga yang Harus Dibayar

Perubahan tidak selalu berarti keuntungan ekonomi.

Penelitian mengenai masyarakat Biring Ere juga mencatat sejumlah konsekuensi dari perkembangan industri, seperti menyempitnya lahan pertanian, perubahan pola hubungan sosial, pergeseran budaya gotong royong, serta persoalan pencemaran lingkungan.

Di sinilah industrialisasi Pangkep menjadi menarik untuk dibaca.

Pabrik memang menciptakan pekerjaan dan mendorong pembangunan. Namun, pada saat yang sama, keberadaannya mengubah cara masyarakat menggunakan ruang dan mencari penghidupan.

Masyarakat tidak lagi hidup dalam lanskap yang sepenuhnya agraris.

Pangkep Memiliki Dua Wajah

Perkembangan industri semen juga memperlihatkan kompleksitas Pangkep sebagai sebuah kabupaten.

Di satu sisi terdapat kawasan karst dan pegunungan batu kapur yang menjadi bagian penting dari bentang alam Pangkep. Di sisi lain, sumber daya geologi tersebut juga menjadi bahan baku industri semen.

Dokumen Pemerintah Kabupaten Pangkep mencatat sektor pertambangan semen sebagai salah satu aktivitas pertambangan penting di wilayah daratan. Kawasan pengembangan industri juga mencakup Bungoro, Labakkang, dan Minasatene.

Karena itu, hubungan antara alam dan industri di Pangkep tidak sederhana.

Bahan yang terbentuk secara geologis selama jutaan tahun menjadi sumber daya ekonomi ketika masuk ke dalam rantai industri.

Industri Mulai Berhadapan dengan Tuntutan Lingkungan

Perubahan industri juga membawa tuntutan baru mengenai pengelolaan lingkungan.

PT Semen Tonasa saat ini tidak hanya berbicara mengenai produksi semen, tetapi juga menjalankan berbagai program lingkungan. Salah satu perkembangan terbaru di Pangkep adalah pengoperasian fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) dengan kapasitas 7 ton per hari yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan PT Semen Tonasa.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana kawasan industri juga mulai berhadapan dengan agenda ekonomi sirkular dan pengurangan persoalan sampah.

Namun, perubahan lingkungan akibat industrialisasi tetap perlu dilihat dalam jangka panjang, termasuk dampaknya terhadap lahan, kualitas lingkungan, dan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Lebih dari Setengah Abad Mengubah Pangkep

Semen Tonasa telah menjadi bagian dari sejarah pembangunan Pangkep sejak proyeknya dimulai pada era 1960-an.

Dalam perjalanan lebih dari lima dekade, yang berubah bukan hanya kapasitas pabrik.

Masyarakat di sekitar kawasan industri mengalami perubahan pekerjaan, pendapatan, pendidikan, jumlah penduduk, infrastruktur, dan pola hubungan sosial. Pada saat yang sama, muncul persoalan baru terkait lahan dan lingkungan.

Karena itu, cerita Semen Tonasa sebenarnya bukan semata cerita tentang sebuah pabrik semen.

Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah industri besar masuk ke ruang hidup masyarakat, lalu perlahan ikut mengubah wajah sebuah kabupaten.