Wajo, Katasulsel.com — Kalau ada kabupaten yang bisa membuat orang bingung ketika ditanya, “Wajo itu daerah apa?”
Jawabannya jangan buru-buru.
Bukan hanya kabupaten pertanian.
Bukan hanya kabupaten danau.
Dan bukan pula sekadar daerah pesisir.
Wajo punya dua dunia air.
Di sebelah barat ada Danau Tempe.
Di sebelah timur ada laut.
Lautnya bukan laut dalam cerita.
Itu pesisir Teluk Bone.
Garis pantainya sekitar 103 kilometer.
Jadi, dari danau ke laut, keduanya berada dalam satu wilayah administratif Kabupaten Wajo. Pemerintah Kabupaten Wajo sendiri menggambarkan Danau Tempe berada di bagian barat, sementara pesisirnya membentang di sebelah timur menghadap Teluk Bone.
Ini yang membuat Wajo menarik.
Air tawar di satu sisi. Air asin di sisi lainnya.
Seolah-olah Tuhan memberikan Wajo dua halaman dalam satu buku.
Dari nelayan danau ke nelayan laut
Pagi hari, perahu nelayan bisa bergerak di Danau Tempe.
Jaring ditebar.
Ikan dicari.
Kehidupan berjalan mengikuti naik-turunnya air danau.
Tetapi di sisi lain Wajo, kehidupan masyarakat pesisir berhadapan dengan Teluk Bone.
Lautnya berbeda.
Ikan berbeda.
Cara menangkapnya berbeda.
Tantangannya berbeda.
Namun semuanya bernama Wajo.
Dan di situlah keunikannya.
Kabupaten ini tidak perlu memilih antara menjadi daerah danau atau daerah laut.
Wajo mendapatkan keduanya.
Wajo sebenarnya sudah lama tahu siapa dirinya
Yang menarik, keunikan itu bukan sekadar istilah promosi pariwisata zaman sekarang.
Dalam khasanah Lontara Wajo ada ungkapan:
“Mangkalungu ribulue, massulappE ripottanangngE, mattodang ritasi/tappareng.”
Secara sederhana menggambarkan tiga dimensi wilayah Wajo: perbukitan, hamparan daratan, serta danau dan laut.
Jadi Wajo sebenarnya sudah mengenali dirinya sejak lama.
Bukan satu wajah.
Tetapi beberapa wajah.
Ada bukit.
Ada sawah.
Ada danau.
Ada laut.
Kalau mau dibuat lebih sederhana:
Wajo punya daratan untuk bertani, danau untuk menangkap ikan, laut untuk mencari penghidupan.
Yang menarik justru jaraknya
Bayangkan sebuah kabupaten.
Di barat, Danau Tempe.
Di timur, Teluk Bone.
Di tengahnya?
Sawah.
Permukiman.
Jalan.
Pasar.
Kecamatan.
Kehidupan masyarakat.
Sehingga air seperti menjadi dua tangan yang memeluk Wajo dari dua arah.
Danau di barat.
Laut di timur.
Wajo berada di tengahnya.
Dokumen perencanaan Pemkab Wajo bahkan menyebut keberadaan Danau Tempe dan pesisir Teluk Bone sebagai potensi pengembangan perikanan dan budidaya tambak.
Artinya, keunikan geografis itu bukan cuma bagus untuk diceritakan.
Ada ekonominya.
Ada perut masyarakat yang bergantung padanya.
Ada nelayan.
Ada pembudidaya.
Ada perdagangan.
Ada peluang wisata.
Ada masa depan ekonomi biru.
Tetapi Wajo juga punya pekerjaan rumah
Dua jenis perairan berarti dua jenis tantangan.
Danau memiliki persoalan sendiri.
Laut memiliki persoalan sendiri.
Danau Tempe menghadapi dinamika ekosistem, sedimentasi, perubahan luas genangan, hingga persoalan pengelolaan sumber daya.
Laut pun punya tantangan.
Abrasi.
Perubahan iklim.
Kualitas lingkungan.
Tekanan terhadap sumber daya ikan.
Jadi memiliki laut dan danau bukan otomatis berarti kaya.
Kekayaan itu baru menjadi kekuatan kalau dikelola.
Inilah yang membuat Wajo sebenarnya mempunyai posisi unik.
Banyak daerah punya danau.
Banyak daerah punya laut.
Tetapi Wajo mempunyai keduanya dalam satu bentang wilayah.
Dan mungkin inilah identitas Wajo yang belum selesai dijual
Orang mengenal Wajo karena sutera.
Orang mengenal Wajo karena Danau Tempe.
Orang mengenal Wajo karena pertanian.
Tetapi ada satu cerita yang sebenarnya lebih besar:
Wajo adalah kabupaten yang hidup di antara dua air.
Air tawar.
Air asin.
Danau.
Laut.
Nelayan danau.
Nelayan pesisir.
Sawah di tengahnya.
Ini bukan sekadar keunikan geografis.
Ini adalah modal ekonomi.
Modal budaya.
Modal pariwisata.
Bahkan modal untuk membangun identitas daerah.
Sebab tidak semua kabupaten bisa berkata:
“Kalau ingin melihat danau, ada. Kalau ingin melihat laut, juga ada.”
Dan keduanya bukan harus dicari ke kabupaten tetangga.
Masih di Wajo.
Mungkin karena itu, Wajo tidak tepat kalau hanya diperkenalkan sebagai daerah yang punya Danau Tempe.
Juga tidak cukup disebut sebagai daerah pesisir Teluk Bone.
Wajo lebih menarik dari itu.
Ia adalah kabupaten yang memiliki dua wajah air.
Di barat, danau memberi kehidupan.
Di timur, laut membuka jalan.
Dan di antara keduanya, masyarakat Wajo menjalani kehidupan.
Barangkali inilah cara paling sederhana menjelaskan Wajo:
Tidak semua daerah punya laut.
Tidak semua daerah punya danau.
Wajo punya keduanya.
Tinggal satu pertanyaan:
Sudahkah keunikan sebesar itu benar-benar dijadikan kekuatan Wajo? (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
