Makassar, Katasulsel.com β Dari tepi Pantai Losari, Masjid Amirul Mukminin terlihat seperti sedang mengapung.
Kubah birunya menghadap laut. Dua menaranya berdiri di atas bangunan yang seolah tidak memiliki tanah. Ketika air pasang menutup bagian bawah tiang, kesan itu semakin kuat.
Karena itu, warga lebih akrab menyebutnya Masjid Terapung Makassar.
Tetapi masjid ini sebenarnya tidak mengambang.
Bangunannya berdiri di atas struktur penyangga yang ditanam ke dasar laut. Data Kementerian Perhubungan mencatat Masjid Amirul Mukminin berdiri di atas area laut sekitar 1.608 meter persegi dengan 164 tiang dan memiliki dua kubah berdiameter sekitar 9 meter.
Lalu, pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi bagaimana masjid itu terlihat seperti mengapung.
Mengapa sebuah masjid dibangun di atas laut?
Bukan Sekadar Membuat Bangunan yang Berbeda
Masjid Amirul Mukminin berada di kawasan Pantai Losari, tepatnya di Jalan Penghibur, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar.
Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama mencatatnya sebagai masjid di tempat publik dengan tahun berdiri 2012. Masjid tersebut digunakan untuk salat fardu, salat Jumat, kegiatan hari besar Islam, dakwah, pengajian, pendidikan, hingga kegiatan pemberdayaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Jadi, keberadaannya bukan semata-mata untuk membuat Pantai Losari memiliki bangunan yang menarik perhatian.
Ada kebutuhan yang lebih sederhana di baliknya.
Ketika orang datang ke Pantai Losari, mereka tidak hanya datang untuk melihat laut. Mereka datang untuk berjalan, berkumpul, menikmati sore, dan menunggu matahari terbenam.
Sebelum masjid ini ada, pengunjung muslim yang ingin melaksanakan salat harus menuju masjid lain yang lokasinya lebih jauh dari kawasan utama Pantai Losari. Sumber yang mengutip perancangnya, Muhammad Ramdhan Pomanto, menyebut kebutuhan menyediakan tempat salat bagi pengunjung Pantai Losari menjadi salah satu alasan pembangunan masjid tersebut. Pembangunannya dimulai pada 8 Mei 2009.
Dengan begitu, posisi masjid di atas laut bukan sekadar keputusan estetika.
Ia ditempatkan di kawasan yang memang sedang digunakan masyarakat.
Laut Menjadi Bagian dari Ruang Ibadah
Masjid biasanya memiliki batas yang jelas dengan lingkungan di sekitarnya.
Ada halaman.
Ada pagar.
Ada jalan.
Lalu ada bangunan.
Masjid Amirul Mukminin menawarkan pengalaman ruang yang berbeda.
Di satu sisi, jamaah berada di dalam bangunan. Di sisi lain, laut terbuka hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.
Angin pesisir masuk ke ruang masjid. Permukaan air terlihat dari sekitar bangunan. Ketika air pasang, tiang-tiang penyangga semakin tertutup air sehingga bangunan tampak benar-benar berada di atas laut.
Di situlah istilah βterapungβ menjadi masuk akal.
Bukan karena masjid bergerak mengikuti ombak.
Justru karena struktur penyangganya dibuat sedemikian rupa sehingga batas antara bangunan dan laut dari kejauhan hampir tidak terlihat.
164 Tiang yang Tidak Terlihat dari Foto
Foto masjid biasanya memperlihatkan kubah, menara, laut, dan langit.
Bagian yang paling menentukan justru berada di bawahnya.
164 tiang.
Sumber Kementerian Perhubungan mencatat jumlah tersebut sebagai bagian dari struktur Masjid Amirul Mukminin. DetikSulsel juga mencatat masjid seluas sekitar 1.683 meter persegi itu ditopang 164 tiang pancang.
Pengunjung yang berdiri di atasnya mungkin tidak memikirkan struktur tersebut.
Mereka hanya melihat lantai yang kokoh.
Namun, setiap langkah di atas bangunan itu bertumpu pada konstruksi yang bekerja jauh di bawah pandangan.
Itulah bagian dari masjid yang tidak pernah masuk ke dalam foto.
Kubah menjadi identitasnya.
Laut menjadi latarnya.
Tetapi tiang-tiang di bawahnyalah yang membuat semuanya tetap berdiri.
Bentuknya Membawa Jejak Rumah Panggung
Masjid ini juga tidak sepenuhnya tampil dengan wajah arsitektur Timur Tengah.
Sejumlah sumber mencatat bentuk bangunannya memiliki kemiripan dengan rumah panggung tradisional Bugis-Makassar. Bangunan utama berada di atas tiang, sementara ruang ibadah berada di bagian atas.
Pilihan tersebut terasa relevan dengan konteks tempatnya.
Sulawesi Selatan memiliki tradisi arsitektur rumah panggung yang kuat. Membangun sebuah bangunan di atas tiang bukan sesuatu yang asing dalam kebudayaan setempat.
Di Masjid Amirul Mukminin, logika tersebut bertemu dengan kebutuhan yang berbeda.
Rumah panggung berada di daratan.
Masjid ini berdiri di atas laut.
Bentuknya tidak hanya menjadi persoalan visual. Ia juga membantu menjelaskan mengapa bangunan tersebut terasa begitu dekat dengan karakter ruang Sulawesi Selatan.
Dari Tempat Salat Menjadi Penanda Makassar
Seiring waktu, Masjid Amirul Mukminin memperoleh kehidupan sosial yang lebih luas.
Orang datang untuk beribadah. Pengunjung juga datang karena ingin melihat bangunan yang berdiri di atas laut. Kawasan di sekitarnya menjadi salah satu ruang publik yang ramai ketika sore hingga malam.
Masjid akhirnya tidak hanya dikenal oleh jamaahnya.
Ia masuk ke foto wisatawan.
Masuk ke berita tentang Pantai Losari.
Masuk ke ingatan orang yang pernah berkunjung ke Makassar.
Dan masuk ke gambaran tentang kota itu sendiri.
Data Kementerian Agama tetap menempatkannya sebagai masjid dengan fungsi ibadah dan kegiatan keagamaan. Jadi, daya tarik visualnya tidak mengubah fungsi dasarnya sebagai rumah ibadah.
Yang berubah adalah cara orang menemukan masjid tersebut.
Ada yang datang karena ingin salat.
Ada yang awalnya datang melihat Pantai Losari, lalu menemukan masjid.
Ada pula yang mengenalnya pertama kali justru melalui foto.
Sebuah Masjid, Sebuah Kota, dan Laut yang Sama
Makassar adalah kota yang tidak bisa dipisahkan dari pesisirnya.
Pantai Losari menjadi salah satu ruang yang paling mudah mengingatkan orang pada hubungan tersebut. Di sana, kota dan laut bertemu dalam satu kawasan.
Masjid Amirul Mukminin kemudian mengambil tempat yang tidak biasa di dalam pertemuan itu.
Ia tidak dibangun jauh dari laut.
Ia tidak hanya menghadap laut.
Ia dibangun di atas laut.
Itulah yang membuat foto seperti ini mudah dikenali bahkan sebelum nama masjidnya disebut.
Kita melihat kubah.
Kita melihat air.
Kita melihat tiang yang muncul ketika permukaan laut surut.
Namun, di bawah semua itu ada keputusan yang jauh lebih sederhana: orang yang datang ke Pantai Losari tetap membutuhkan tempat untuk berhenti, beribadah, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
Sore datang.
Air bergerak naik.
Lampu-lampu kota mulai menyala.
Dan bangunan itu tetap berada di tempatnya.
Bukan mengambang.
Bukan pula terpisah dari kota.
Ia berdiri di atas laut, sementara Makassar terus bergerak di belakangnya.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
