Soppeng, Katasulsel.com — Di tengah berbagai isu pembangunan yang menyita perhatian pemerintah daerah, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, memilih fokus pada persoalan yang tak selalu terlihat mata, tetapi menentukan masa depan sebuah daerah: stunting.
Saat mengunjungi UPTD Puskesmas Sewo, Kabupaten Soppeng, Fatmawati tidak datang sekadar mendengar laporan atau menerima paparan angka di atas kertas. Ia justru menyoroti satu hal mendasar yang sering menjadi penentu keberhasilan program pemerintah: keakuratan data.
Bagi Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Sulsel itu, data yang keliru dapat membuat bantuan salah sasaran dan intervensi menjadi tidak efektif.
Karena itu, ia meminta jajaran kesehatan di Soppeng tidak ragu melaporkan jika terdapat kendala alat antropometri yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan anak.
“Kalau alat antropometrinya kurang atau ada kendala di masing-masing puskesmas, segera laporkan. Kita bantu. Saya ingin melihat data yang benar-benar akurat,” tegas Fatmawati.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Pemprov Sulsel tidak ingin perang melawan stunting dilakukan dengan asumsi atau perkiraan.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis pada 2025 menunjukkan angka stunting Kabupaten Soppeng masih berada di level 26,6 persen. Angka itu berada di atas target yang diharapkan pemerintah.
Bagi Fatmawati, angka tersebut bukan sekadar statistik.
Di balik setiap persentase terdapat anak-anak yang masa tumbuh kembangnya berisiko terganggu apabila tidak mendapat perhatian sejak dini.
Karena itu, kunjungan ke Soppeng bukan hanya agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi memperkuat koordinasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Soppeng.
Menariknya, pendekatan yang dibangun tidak semata-mata berfokus pada sektor kesehatan.
Fatmawati menilai persoalan stunting merupakan isu lintas sektor yang membutuhkan keterlibatan keluarga, pendidikan, ketahanan pangan, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Target kita harus berada di bawah rata-rata nasional,” ujarnya.
Di wilayah kerja Puskesmas Sewo sendiri, tercatat terdapat 110 balita stunting atau sekitar 15,7 persen dari total balita yang dipantau. Selain itu, terdapat 32 balita wasting atau sekitar 4,5 persen.
Angka tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat intervensi secara lebih terukur.
Dalam kunjungannya, Fatmawati juga memberikan perhatian khusus kepada kader Posyandu yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak akan tercapai tanpa keterlibatan aktif para kader yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat.
Ia mendorong kader Posyandu terus mengedukasi keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi, pola asuh yang tepat, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin.
Bagi Kabupaten Soppeng, kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa isu kesehatan masyarakat mendapat perhatian langsung dari tingkat provinsi.
Sementara bagi Fatmawati Rusdi, langkah itu sekaligus menunjukkan gaya kepemimpinannya yang menekankan kerja berbasis data dan penyelesaian masalah hingga ke tingkat layanan dasar.
Sebab dalam perang melawan stunting, kemenangan tidak diukur dari banyaknya rapat atau dokumen yang dihasilkan.
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak anak Sulawesi Selatan tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
