Sinjai, Katasulsel.com — Ada sebuah alasan mengapa sejarah Sinjai tidak cukup diceritakan hanya dengan menyebut satu kerajaan.

Jauh sebelum menjadi sebuah kabupaten seperti sekarang, kawasan ini telah memiliki sejumlah kerajaan yang menjalankan pemerintahan di wilayah masing-masing. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, tiga di antaranya membentuk sebuah persekutuan yang dikenal sebagai Tellulimpoe.

Ketiganya adalah Kerajaan Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo.

Nama Tellulimpoe sendiri kemudian menjadi bagian penting dalam ingatan sejarah Sinjai. Bahkan hingga kini, Tellulimpoe tetap hidup sebagai nama salah satu kecamatan di Kabupaten Sinjai.

Tetapi yang menarik bukan hanya namanya.

Ada cerita tentang bagaimana tiga kerajaan yang memiliki wilayah pemerintahan masing-masing membangun ikatan di tengah dinamika politik Sulawesi Selatan pada masa lalu.

Tiga Kerajaan, Satu Persekutuan

Penelitian arkeologi mengenai situs bekas Kerajaan Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo mencatat bahwa ketiganya tergabung dalam federasi yang disebut Tellu Limpoe.

Sementara itu, kerajaan-kerajaan yang berada di kawasan dataran tinggi tergabung dalam persekutuan yang dikenal sebagai Pitu Limpoe.

Menariknya, bergabung dalam sebuah persekutuan tidak berarti ketiga kerajaan Tellu Limpoe kehilangan pemerintahan masing-masing.

Penelitian yang diterbitkan Balai Arkeologi menjelaskan bahwa Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo tetap menjalankan roda pemerintahan di wilayahnya masing-masing. Hubungan di antara ketiganya justru memperlihatkan adanya ikatan yang memungkinkan mereka berada dalam satu persekutuan tanpa harus melebur menjadi satu kerajaan.

Model seperti ini membuat sejarah Sinjai memiliki warna tersendiri.

Bukan hanya tentang perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana sejumlah kekuatan politik lokal membangun hubungan dan mempertahankan wilayahnya.

Jejaknya Tidak Hilang Begitu Saja

Sejarah tersebut bukan sekadar cerita yang tersimpan dalam naskah.

Jejaknya masih dapat ditelusuri melalui sejumlah situs.

Pemerintah Kabupaten Sinjai, misalnya, memasukkan sejumlah peninggalan kerajaan dan situs sejarah dalam kawasan strategis pariwisata daerah. Di Sinjai Utara terdapat Benteng Balangnipa, makam Raja Lamatti, batu pelantikan Raja Lamatti, hingga Istana Raja Bulo-Bulo.

Benteng Balangnipa sendiri memiliki cerita panjang.

Menurut kajian sejarah dan arkeologi, benteng tersebut mulai dibangun oleh Kerajaan Lamatti sekitar pertengahan abad ke-16, kemudian dikembangkan oleh Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo yang tergabung dalam Tellulimpoe.

Hari ini, bentuk kawasan Sinjai tentu sudah berubah.

Tetapi nama, situs, dan peninggalannya masih menjadi pengingat bahwa wilayah yang sekarang terlihat sebagai satu daerah administratif dahulu memiliki susunan politik yang jauh lebih kompleks.

Bahkan Batu dan Keramik Ikut Bercerita

Salah satu hal menarik dari penelitian arkeologi adalah cara para peneliti membaca masa lalu bukan hanya melalui cerita tertulis, tetapi juga melalui benda-benda yang tertinggal.

Dalam penelitian terhadap situs Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo, ditemukan antara lain fragmen keramik dari Vietnam, Thailand, Dinasti Ming, Dinasti Qing, serta keramik Eropa.

Berdasarkan kronologi keramik tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa ketiga wilayah bekas kerajaan Tellu Limpoe telah eksis setidaknya sejak abad ke-15 Masehi, bahkan terdapat kemungkinan lebih awal. Namun, penelitian tersebut juga memberi catatan bahwa kronologi itu masih bersifat relatif dan masih membutuhkan penanggalan absolut untuk memastikan usia secara lebih tepat.

Dengan kata lain, tanah Sinjai menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat di permukaan.

Dari Persekutuan Kerajaan hingga Nama yang Bertahan

Ada satu hal yang membuat sejarah Tellulimpoe terasa dekat dengan kehidupan Sinjai sekarang.

Namanya tidak hilang.

Tellulimpoe tetap menjadi nama wilayah administratif di Sinjai.

Bagi masyarakat yang tinggal di sana, nama tersebut mungkin terdengar sebagai nama kecamatan biasa. Namun di baliknya terdapat ingatan tentang tiga kerajaan: Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo.

Sejarah semacam ini menunjukkan bahwa nama tempat sering kali bukan sekadar penanda lokasi.

Di dalamnya bisa tersimpan perjalanan panjang sebuah masyarakat.

Begitu pula dengan Sinjai.

Kabupaten ini tidak lahir dari ruang kosong. Di balik wilayah administratif yang dikenal sekarang, pernah ada kerajaan-kerajaan yang memiliki pemerintahan, wilayah, hubungan politik, serta kebudayaan sendiri.

Sebagian jejaknya masih berdiri.

Sebagian lainnya tersimpan dalam tanah.

Sebagian lagi hidup dalam nama-nama tempat yang terus digunakan hingga hari ini.

Dan mungkin, di situlah menariknya membaca Sinjai.

Kita tidak selalu harus pergi jauh untuk menemukan sejarah.

Kadang-kadang, sejarah itu sudah melekat pada nama jalan, nama kecamatan, benteng, makam, atau sebuah tempat yang setiap hari dilewati tanpa disadari.

Tellulimpoe adalah salah satunya: nama yang hari ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan kisah tentang tiga kerajaan yang pernah memilih untuk berdiri bersama.