Soppeng, Katasulsel.com – Dua ekor burung kakatua memperebutkan setangkai padi. Peristiwa itu mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam kisah yang diwariskan masyarakat Soppeng, kejadian tersebut justru menjadi bagian dari cerita tentang ditemukannya sosok yang kemudian diangkat sebagai Datu Soppeng pertama.
Dari situlah salah satu kisah paling menarik tentang asal-usul pemerintahan Soppeng bermula.
Cerita tersebut tercatat dalam sumber resmi Pemerintah Kabupaten Soppeng. Dalam kisah itu, burung kakatua muncul ketika para pemuka masyarakat sedang bermusyawarah untuk mencari pemimpin yang dapat mengatasi masa sulit yang melanda wilayah mereka.
Burung itu kemudian diikuti hingga Sekkanyili.
Di tempat tersebut, para pemuka menemukan sosok yang dikenal sebagai Manurungnge Ri Sekkanyili atau Latemmamala. Ia kemudian diangkat menjadi Datu Soppeng.
Berawal dari Musyawarah 60 Pemuka
Kisah itu tidak dimulai dari burung.
Sebelumnya, Soppeng telah mengenal pemerintahan yang dijalankan berdasarkan kesepakatan para pemuka masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Soppeng mencatat terdapat 60 pemuka masyarakat, terdiri atas 30 Matoa dari Soppeng Riaja dan 30 Matoa dari Soppeng Rilau.
Pada suatu masa, wilayah tersebut mengalami kemarau. Kekacauan dan kemiskinan kemudian muncul di tengah masyarakat.
Para pemuka sepakat mencari seorang pemimpin yang dianggap mampu mengatasi keadaan tersebut.
Arung Bila kemudian mengambil inisiatif menggelar musyawarah besar.
Di tengah musyawarah itulah burung kakatua muncul.
Menurut kisah yang tercatat dalam sumber resmi daerah, burung tersebut terbang di antara para hadirin dan mengganggu jalannya pertemuan. Arung Bila lalu memerintahkan agar burung itu dihalau sekaligus diikuti ke mana pun terbangnya.
Dua Kakatua dan Setangkai Padi
Bagian ini menjadi salah satu unsur yang paling khas dalam kisah Soppeng.
Pemerintah Kabupaten Soppeng mencatat dua cakkelle atau burung kakatua yang memperebutkan setangkai padi sebagai petunjuk bagi para Matoa yang sedang bermusyawarah menghadapi krisis pangan.
Burung-burung tersebut kemudian membawa perhatian para pemuka masyarakat menuju Sekkanyili.
Di sana mereka menemukan seseorang yang duduk di atas batu dengan pakaian yang indah.
Sosok itu dikenal sebagai Manurungnge Ri Sekkanyili atau Latemmamala.
Cerita tersebut kemudian menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat Soppeng.
Bukan karena burung kakatua dianggap sebagai penguasa.
Justru karena kehadirannya ditempatkan sebagai petunjuk menuju sosok yang kemudian dipercaya menjadi pemimpin.
Dari Sekkanyili Menuju Datu Soppeng
Setelah ditemukan, Latemmamala kemudian diangkat menjadi Datu Soppeng.
Dalam kisah yang diwariskan tersebut, pengangkatan itu disertai ikrar antara Latemmamala dan rakyat Soppeng.
Ia kemudian mengucapkan sumpah di atas sebuah batu yang dikenal sebagai Lamung Patue, sambil memegang segenggam padi.
Sumpah tersebut berkaitan dengan komitmen untuk tidak berlaku curang dalam menjalankan pemerintahan.
Dengan pengangkatan Latemmamala sebagai Datu Soppeng, kisah tradisional itu menempatkannya sebagai awal terbentuknya Kerajaan Soppeng. Pemerintah Kabupaten Soppeng kemudian menetapkan tahun 1261 sebagai tahun pemerintahan Datu Soppeng pertama berdasarkan perhitungan backward counting.
Mengapa Burung Kakatua Masuk Lambang Soppeng?
Cerita tersebut tidak berhenti sebagai kisah lama.
Burung kakatua kemudian menjadi bagian dari lambang Kabupaten Soppeng.
Dalam penjelasan resmi pemerintah daerah, burung kakatua digambarkan sebagai duta pembawa berita yang mengantarkan masyarakat menemukan raja pertama Soppeng.
Karena itu, keberadaan kakatua pada lambang daerah tidak sekadar berkaitan dengan fauna atau ornamen.
Ia membawa simbol sejarah.
Menariknya, filosofi angka dua pada Hari Jadi Soppeng juga dikaitkan dengan dua kakatua yang memperebutkan setangkai padi. Angka dua tersebut sekaligus dikaitkan dengan dua wilayah Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau, dua Tomanurung, serta dua pegangan hidup, yakni kejujuran dan keadilan.
Dengan begitu, seekor burung yang dalam cerita awalnya hanya muncul di tengah musyawarah akhirnya menjadi bagian dari identitas visual sebuah kabupaten.
Bukan Sekadar Cerita tentang Burung
Ada hal yang lebih penting dari kisah tersebut.
Sebelum Latemmamala diangkat menjadi Datu, ada musyawarah.
Sebelum ada keputusan, ada para pemuka yang berkumpul.
Sebelum kekuasaan diberikan, ada ikrar.
Karena itu, kisah kakatua dapat dibaca sebagai bagian dari cara masyarakat Soppeng menjelaskan asal-usul kepemimpinan sekaligus nilai yang melekat padanya.
Burung kakatua menjadi penunjuk. Padi menjadi simbol kehidupan. Musyawarah menjadi jalan menuju keputusan. Sementara sumpah menjadi pengikat antara pemimpin dan rakyat.
Dalam sumber resmi Kabupaten Soppeng, kisah tersebut memang ditempatkan dalam kerangka mitologi pembentukan pemerintahan teratur. Artinya, cerita ini tidak perlu dibaca sebagai laporan peristiwa modern, melainkan sebagai warisan naratif yang membantu masyarakat memahami identitas dan nilai sejarah daerahnya.
Pada akhirnya, yang membuat kisah itu terus menarik bukan sekadar pertanyaan mengapa ada burung kakatua dalam sejarah Soppeng.
Lebih dari itu, ada sebuah gagasan yang diwariskan bersamanya.
Sebelum sebuah kerajaan memiliki seorang Datu, masyarakat lebih dulu mencari pemimpin. Dan dalam kisah Soppeng, jalan menuju pemimpin itu justru bermula dari dua burung yang berebut setangkai padi.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
