Soppeng, Katasulsel.com — Jauh sebelum nama Soppeng muncul dalam lontara, sebelum kerajaan memiliki raja dan sebelum batas-batas wilayah dikenal seperti sekarang, kawasan ini sudah menyimpan cerita tentang manusia.
Bukan cerita yang ditulis di atas kertas.
Jejaknya ditemukan dalam bentuk batu.
Di Situs Calio, wilayah Kabupaten Soppeng, para peneliti menemukan artefak batu yang usianya mencapai setidaknya 1,04 juta tahun. Penanggalan ilmiah bahkan membuka kemungkinan artefak tersebut berusia hingga sekitar 1,48 juta tahun. Temuan itu menjadi salah satu bukti tertua mengenai keberadaan hominin di Sulawesi.
Usia tersebut membuat sejarah Soppeng harus dilihat dengan rentang waktu yang jauh lebih panjang daripada sekadar sejarah kerajaan.
Sebelum Soppeng Mengenal Kerajaan
Ketika membicarakan masa lalu Soppeng, orang mungkin lebih mudah mengingat kerajaan, lontara, atau tokoh-tokoh yang pernah memerintah.
Namun, rekam jejak di Calio membawa cerita jauh ke belakang.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2025 menemukan tujuh artefak batu yang berada di lapisan endapan sungai purba. Artefak tersebut ditemukan melalui penggalian sistematis di Situs Calio dan kemudian ditanggal menggunakan kombinasi metode paleomagnetik serta uranium-series dan electron-spin resonance pada fosil gigi.
Hasilnya mengejutkan.
Artefak tersebut memiliki usia minimum sekitar 1,04 juta tahun dan kemungkinan mencapai 1,48 juta tahun.
Artinya, ada kelompok hominin yang telah berada di Sulawesi pada masa yang sangat jauh sebelum manusia modern mengenal wilayah ini seperti sekarang.
Tetapi siapa mereka?
Itulah bagian yang hingga kini masih menjadi pertanyaan.
Para peneliti belum menemukan fosil hominin di Situs Calio. Karena itu, identitas kelompok manusia yang membuat alat-alat batu tersebut belum dapat dipastikan. Penelitian Nature sendiri menegaskan bahwa kapan tepatnya hominin pertama kali mencapai Sulawesi dan siapa kelompoknya masih menjadi pertanyaan terbuka.
Tujuh Batu yang Mengubah Cerita
Sekilas, artefak tersebut mungkin terlihat sederhana.
Beberapa berupa serpihan batu yang telah dipukul dan dibentuk. Namun dalam arkeologi, benda sederhana dapat membawa informasi yang luar biasa panjang.
Artefak Calio menunjukkan adanya kemampuan membuat alat dari batu.
Penelitian tersebut menemukan tujuh artefak batu yang berada dalam konteks lapisan geologis yang sama dengan temuan fauna purba. Di kawasan itu juga ditemukan antara lain fosil Celebochoerus heekereni, sejenis babi purba yang telah punah, serta sejumlah sisa fauna lainnya.
Di sinilah nilai penting Calio.
Batu-batu tersebut bukan hanya benda tua. Mereka berada dalam konteks lingkungan purba yang membantu para peneliti membaca bagaimana kehidupan berlangsung di kawasan Soppeng jutaan tahun lalu.
Soppeng dan Lembah Walanae
Calio tidak berdiri sendirian.
Situs ini berada dalam kawasan Depresi Walanae, bentang geologi yang menyimpan berbagai rekaman kehidupan masa lampau. Penelitian sebelumnya juga menemukan artefak batu di Situs Talepu, masih di kawasan Soppeng, dengan usia minimum sekitar 194 ribu tahun. Temuan Calio kemudian mendorong batas waktu keberadaan hominin di Sulawesi jauh lebih tua.
Kajian arkeologi pemerintah juga telah lama menempatkan kawasan Soppeng dan lembah Walanae sebagai wilayah penting dalam penelitian prasejarah Sulawesi Selatan.
Bahkan, penelitian geoarkeologi menyebut kawasan Cabenge dan lembah Walanae sebagai salah satu lokasi penting yang merekam bukti hunian manusia paling tua di Sulawesi.
Jadi, ketika membicarakan Soppeng, yang sedang dibicarakan bukan hanya sebuah wilayah dengan sejarah kerajaan.
Ada lapisan sejarah yang jauh lebih tua di bawahnya.
Bagaimana Mereka Bisa Sampai ke Sulawesi?
Di sinilah temuan Calio menjadi penting bagi ilmu pengetahuan dunia.
Sulawesi merupakan bagian dari Wallacea, kawasan kepulauan yang sejak dahulu dipisahkan oleh laut dari daratan Asia.
Jika hominin sudah berada di Sulawesi lebih dari satu juta tahun lalu, berarti perjalanan mereka ke pulau ini terjadi jauh sebelum teknologi pelayaran modern dikenal.
Penelitian Nature menyebut temuan Calio menunjukkan bahwa hominin telah mencapai Sulawesi sekitar masa yang sama dengan keberadaan hominin di Flores, bahkan kemungkinan lebih awal. Namun, mekanisme perjalanan mereka melintasi laut masih menjadi pertanyaan ilmiah.
Pertanyaan itu belum selesai.
Dan justru karena itulah Calio menjadi penting.
Setiap artefak baru dapat membantu para peneliti menyusun kembali potongan perjalanan manusia purba di kawasan Wallacea.
Jutaan Tahun Sebelum Lontara
Soppeng hari ini dikenal melalui sejarah kerajaan, tradisi, kebudayaan, dan masyarakatnya.
Namun Calio mengingatkan bahwa sejarah Soppeng tidak dimulai ketika kerajaan berdiri.
Jauh sebelumnya, kawasan ini sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang manusia dan lingkungan di Sulawesi.
Sebuah batu yang ditemukan di lapisan tanah dapat membawa kita kembali lebih dari satu juta tahun.
Dari sana, Soppeng terlihat bukan hanya sebagai daerah dengan masa lalu kerajaan, melainkan sebagai salah satu titik penting dalam cerita yang jauh lebih besar: bagaimana manusia purba mencapai pulau-pulau di Wallacea dan bertahan di lingkungan yang terpisah oleh laut.
Kerajaan datang jauh kemudian.
Lontara datang jauh kemudian.
Tetapi jejak manusia di tanah Soppeng ternyata telah dimulai jauh sebelum semua itu dikenal.
Dan sampai hari ini, pertanyaan terbesar dari batu-batu Calio belum sepenuhnya terjawab:
siapa manusia yang membuatnya, dan bagaimana mereka bisa sampai ke Sulawesi jutaan tahun lalu?
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
