Sinjai, Katasulsel.com – Jauh sebelum konsep diplomasi modern dikenal, tanah Sinjai telah mencatat sebuah peristiwa bersejarah yang mengubah arah hubungan politik di Sulawesi Selatan.

Peristiwa itu dikenal sebagai Perjanjian Topekkong atau Lamung Patue Ri Topekkong, sebuah kesepakatan yang mempertemukan dua kekuatan besar, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, bersama Federasi Tellu Limpoe.

Banyak masyarakat mengenal Hari Jadi Sinjai yang diperingati setiap 27 Februari. Namun, tidak semua mengetahui bahwa salah satu alasan Sinjai memiliki posisi penting dalam sejarah Sulawesi Selatan adalah karena menjadi tempat lahirnya perjanjian perdamaian yang hingga kini masih dikenang.

Perjanjian Topekkong lahir saat hubungan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone mengalami ketegangan. Di tengah situasi tersebut, Federasi Tellu Limpoe yang berada di wilayah Sinjai mengambil peran strategis sebagai perekat dan penengah.

Dari sinilah lahir sebuah kesepakatan yang tidak hanya mengakhiri konflik, tetapi juga membangun fondasi persaudaraan antarkerajaan.

Dalam naskah yang dikenal luas, terdapat tiga pokok isi Perjanjian Topekkong yang sarat makna.

Pertama, “Maddumme To Sipalalo, Mabelle To Sipasoro, Seddi Pabbanua pada Riappunnai, Lempa Asefa Mappannessa.”

Maknanya, masyarakat harus saling memberi ruang untuk hidup, bekerja, dan mencari penghidupan. Tidak ada sekat dalam membangun kesejahteraan bersama.

Kedua, “Musunna Gowa Musunna To Bone na Tellulimpoe, Makkutopi Assibalirenna.”

Isi perjanjian ini menegaskan bahwa musuh salah satu pihak dianggap sebagai musuh bersama. Sebuah bentuk solidaritas dan komitmen menjaga keamanan secara kolektif.

Ketiga, “Sisappareng Deceng Teng Sisappareng Ja. Sirui Menre Teng Sirui No, Malilu Sipakainge Mali Siparappe.”

Kalimat ini menjadi pesan moral yang sangat terkenal dalam budaya Bugis. Artinya saling memberikan kebaikan, saling membantu, saling mengingatkan ketika ada yang keliru, dan saling menolong saat menghadapi kesulitan.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa modern, isi Perjanjian Topekkong bukan sekadar soal politik atau keamanan.

Perjanjian ini berbicara tentang persatuan, toleransi, kerja sama, dan tanggung jawab sosial.

Nilai-nilai tersebut bahkan masih relevan untuk kehidupan masyarakat saat ini.

Para sejarawan menilai Perjanjian Topekkong menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Sulawesi Selatan karena menunjukkan kemampuan masyarakat Bugis-Makassar membangun penyelesaian konflik melalui dialog dan kesepakatan bersama.

Tidak heran jika perjanjian ini sering disebut sebagai simbol perdamaian terbesar yang pernah lahir dari tanah Sinjai.

Di tengah berbagai perbedaan yang ada saat ini, semangat Topekkong seolah mengingatkan bahwa kekuatan sebuah daerah bukan terletak pada siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang mampu menjaga persatuan.

Karena itu, ketika masyarakat memperingati Hari Jadi Sinjai setiap tahun, sesungguhnya mereka juga sedang mengenang warisan besar yang pernah mengubah sejarah Sulawesi Selatan.

Warisan itu bernama Perjanjian Topekkong.

Sebuah kesepakatan yang membuktikan bahwa dari Sinjai pernah lahir pesan sederhana, namun sangat kuat: persaudaraan lebih berharga daripada pertikaian.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Makassar terbaru di sini