Sidrap, Katasulsel.com β Dari kejauhan, deretan kincir angin di perbukitan Sidrap tampak seperti lanskap yang berbeda dari Sulawesi Selatan. Menara-menara tinggi berdiri di antara hamparan lahan, sementara baling-balingnya terus berputar mengikuti hembusan angin.
Namun, yang berputar di sana bukan sekadar baling-baling raksasa. Angin sedang diubah menjadi listrik.
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap I berada di Desa Mattirotasi dan Desa Lainungan, Kecamatan Watangpulu, Kabupaten Sidenreng Rappang. Pembangkit ini memiliki 30 turbin dengan kapasitas total 75 megawatt (MW). Pemerintah mencatat PLTB Sidrap I sebagai pembangkit listrik tenaga angin skala komersial pertama di Indonesia.
Lantas, mengapa Sidrap?
Jawabannya ada pada angin. Berdasarkan kajian yang dikutip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sidrap termasuk salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi untuk pengembangan energi angin. Di lokasi PLTB, kecepatan angin tercatat sekitar 7 meter per detik pada ketinggian 80 meter.
Kondisi itu dimanfaatkan dengan membangun 30 turbin. Masing-masing memiliki kapasitas 2,5 MW. Menara bajanya mencapai 80 meter, sedangkan panjang baling-baling mencapai 57 meter. Jika dihitung hingga ujung baling-baling, ketinggian pembangkit dapat mencapai sekitar 137 meter.
Cara kerjanya sederhana untuk dibayangkan. Angin mendorong baling-baling hingga berputar. Putaran tersebut menggerakkan turbin dan menghasilkan energi listrik yang kemudian disalurkan ke jaringan listrik.
PLTB Sidrap I mulai beroperasi pada akhir Maret 2018. Pada saat peresmian, Kementerian ESDM menyebut pembangkit tersebut mampu melistriki lebih dari 70.000 pelanggan dengan daya 900 volt ampere (VA).
Ada pula cerita lain di balik deretan turbin itu. Pembangunan PLTB Sidrap I berlangsung sekitar 2,5 tahun, sejak Agustus 2015 hingga Maret 2018. Proyek tersebut menggunakan investasi sekitar 150 juta dolar AS dan dioperasikan PT UPC Sidrap Bayu Energi.
Kini, keberadaan PLTB membuat kawasan perbukitan Mattirotasi dan Lainungan tidak hanya dikenal sebagai lokasi pembangkit. Deretan turbin yang menjulang juga menjadi pemandangan yang menarik perhatian orang yang datang ke Sidrap.
Di sana, angin yang biasanya hanya terasa ketika menerpa wajah atau menggerakkan dedaunan memiliki pekerjaan lain. Ia memutar baling-baling, menggerakkan turbin, lalu mengalir ke jaringan listrik.
Di Sidrap, sesuatu yang tidak bisa dilihat itu ternyata bisa meninggalkan jejak yang sangat nyata: listrik.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
