Oleh: Tipue Sultan
Di balairung perdebatan yang bergelora,
ketika gema sangkaan berlarian tanpa arah,
seorang perempuan berdiri di tepi badai,
menjaga martabat yang tak pernah ia gadaikan.
Hak menyelidik boleh menapaki lorong kebijakan,
menyisir jejak anggaran dan denyut pemerintahan,
namun ketika langkah itu melintasi pagar pribadi,
ada kehormatan yang berhak meminta dihormati.
Di atas meja sidang, nama-nama disebut,
cerita-cerita dirangkai menjadi prasangka,
sementara kebenaran tetap memilih diam,
menunggu waktunya berbicara lewat bukti.
Ia bukan sekadar pemegang amanah rakyat,
ia juga ibu yang menanam harapan sendirian,
menggenggam masa depan anak dengan keteguhan,
seraya menjaga nama keluarga dari luka tuduhan.
Katanya, fakta tak pernah takut pada cahaya,
sebab yang jernih akan tetap bening
meski dilempari kerikil oleh keraguan,
dan yang benar akan menemukan jalannya sendiri.
Di tengah arus kabar yang saling bersilang,
ia menolak tenggelam dalam pusaran gaduh,
lebih memilih menata pelayanan bagi warga,
agar pembangunan tetap melangkah tanpa jeda.
Biarlah hukum menjadi timbangan,
biarlah data menjadi saksi,
dan biarlah nurani menjadi hakim
di atas segala bisik yang berkelindan.
Sebab kehormatan bukanlah kain yang mudah disobek,
bukan pula bayang-bayang yang lekas hilang diterpa senja.
Ia adalah cahaya yang lahir dari keteguhan,
yang tetap menyala meski dikepung gelap prasangka.
Dan ketika riuh akhirnya mereda,
yang tersisa bukan gemuruh tudingan,
melainkan jejak kebenaran yang berjalan perlahan,
namun selalu tiba pada tujuan. (*)
