Oleh: Edy Basri

Di meja makan negeri ini,
ada piring yang lebih luas dari sekadar piring.

Ia menampung doa ibu,
harapan guru,
dan masa depan anak-anak
yang belum tahu cara membaca angka korupsi.

Namanya MBG.

Sebuah singkatan yang indah,
tiga huruf yang terdengar seperti mantra:
agar perut kenyang,
agar otak terang,
agar bangsa berjalan lebih panjang.

Namun manusia sering aneh,
ketika diberi amanah menjaga makanan anak,
ada yang malah belajar menghitung remah.

Mereka lupa,
nasi punya sejarah.

Setiap butirnya pernah menjadi benih,
pernah disiram keringat petani,
pernah disentuh matahari,
sebelum masuk ke piring seorang bocah.

Tapi di tangan yang salah,
nasi bisa berubah menjadi angka.

Lauk bisa berubah menjadi laporan.

Susu bisa berubah menjadi simbol
bahwa keserakahan kadang lebih lapar
daripada anak-anak yang diberi makan.

Ironisnya,
yang makan bukan selalu yang lapar.

Yang lapar kadang hanya menunggu.

Menunggu negara membuktikan
bahwa kata “gratis”
bukan berarti bebas mengambil.

Sebab sebuah bangsa tidak runtuh
karena kekurangan makanan.

Bangsa runtuh
ketika orang-orang yang diberi tugas memberi makan,
diam-diam ikut mengambil piring.

MBG bukan hanya soal menu.

Ia adalah ujian moral.

Apakah kita memberi makan masa depan,
atau hanya memberi makan kepentingan?

Karena pada akhirnya,
sejarah tidak akan bertanya
berapa banyak piring yang dibagikan.

Sejarah akan bertanya:

“Ketika anak-anak berharap pada makanan,
siapa yang justru berpesta di belakang dapur?”