Sidikalang, Katasulsel – Detak jantung Peranto Simanungkalit (48) berdebar tak teratur. Hatinya gundah. Terutama ketika jarum jam bergerak menuju detik yang dinanti kian dekat.

Selasa (23/6/2026) pukul 17.00 Wib, itu penentuan bagaimana nasib putri tercinta Roma HotPasu Simanungkalit – apakah berhasil memenangkan seleksi super ketat di Universitas Pertahanan (Unhan) Bogor atau bakal pulang kampung.

Berdasakan info diikuti melalui media sosial, bila peserta tereliminasi, ponsel segera dikembalikan agar bisa berkomunikasi dengan keluarga. Jika kontestan lulus, butuh waktu beberapa saat supaya r telepon bisa digunakan.

Hari sebelumnya, Peranto dan istri Donna boru Mangunsong (48) beralamat di Jalan Lingga Sumbul menghadap pendeta. Meminta didoakan, kiranya Tuhan membuka jalan bagi Roma menghadapi rangkaian ujian. Bagi keluarga ini, tiada yang bisa diandalkan kecuali berserah diri pada Tuhan.

“Kami orang tak punya. Saya hanya seorang tukang parkir sementara istri menanam sayur di lahan pinjaman dari warga sekitar”, kata Peranto, Rabu (24/6/2026).

Permohonannya dikabulkan Sang Maha Kasih. Air matanya berlinang jatuh pertanda haru. Tak tahu mau bilang apa saking gembira. Sore kemarin sekira pukul 20.00 Wib, ia dihubungi Roma memberitahukan kelulusannya di kampus di bawah naungan Kementerian Pertahanan itu. Anaknya lulus di program studi Teknik Rekayasa Sumber Daya Air

“Lulus aku, pak”, kata Roma sebagaimana diulangi sang ayah.

“Puji syukur kepada Tuhan. Kiranya kamu bisa mengangkat harkat martabat keluarga kita. Tetaplah berserah pada Allah sebab DIAlah sumber anugerah”, jawab Peranto.

Peranto menuturkan, mereka bukanlah keluarga ekonomi mapan. Senin-Selasa, ia menjadi penyedia jasa bagi kendaraan yang butuh lokasi parkir. Bekerja 2 kali seminggu di tepian jalan raya mengatur keluar masuk kendaraan, tentulah uangnya tak seberapa. Sebab, hanya 2 hari itulah aktivitas di sekitaran Kota Sumbul terbilang ramai. Musim pekanan (pasar) dibuka di tempo tersebut. Panas berganti gerimis dan sesekali diberi suara klakson bingar — menjadi santapan demi memperoleh rupiah halal.

Hari-hari berikutnya, ia peras keringat bersama Donna ke ladang. Sayur sawi, timun, kangkung, itulah antara lain komoditas ditanam silih berganti. Pasalnya, cepat panen.

‘Tanahnya ngak luas. Gimanalah pakai belas kasihan teman sekampung. Terkadang sebelum kavlingan dibangun, kami pakai dulu”, kata Peranto.

Kepala keluarga ini menyebut, Roma hampir tak pernah meraih peringkat 1 selama sekolah sejak SD hingga SMA. Posisinya berada di kursi ke 5 hingga 2. Namun, semangat juangnya tetap tinggi. Pantang menyerah.

Peranto mengungkap, sebenarnya, Roma diterima jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) di Institut Pertanian Bogor (IPB) program studi Nutrisi tahun 2026. Awanya berharap uang kuliah gratis di kampus top nasional itu melalui kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Tetapi, statusnya untuk mendapatkan peluang itu tidak memenuhi syarat. Entah bagaimana ceritanya, keluarga ini ditempatkan di desil 5 sehingga tak patut memperoleh keringanan. Demi tanggung jawab kepada si buah hati, ia membayar uang kuliah perdana Rp2,4 juta. Bukan ukuran sedikit bagi kelas seperti tukang parkir.

“Kami tidak menyalahkan siapa. Yang penting, anakku bisa kuliah. Di IPB saja sudah syukur kali”, kata Peranto.

Pun begitu, Roma masih membidik peluang lain. Ia mohon ijin kepada Peranto untuk tes ke Unhan. Sebagai orang tua, senantiasa membuka lebar pintu menuju masa depan terbaik.

“Melihat data peserta mencapai 19.500 orang, saya sempat cemas. Apalagi menerima kabar, banyak orang beken di kampus ikut tes”, kata Peranto.

Otak Peranto tetap beraduk optimistis dan cemas setelah menerima foto Roma mengenakan seragam loreng. Pun begitu, keinginannya terbesarnya, nama anak ditorehkan sebagai pemenang.

“Senangnya aku di sini, pa…Enaknya kurasa. Mudah-mudahan lolos” begitu ucapan Roma saat fase seleksi.

Menurut Peranto, biaya yang dikeluarkan buat seluruh pertarungan relatif minim. Hanya materai dan pakaian perlengkapan.

“Saya bangga kepada SMAN 1 Sumbul. Bekal yang diterima mampu menghantarkan ke PTN yang didamba plus beasiswa”, kata Peranto.

Capaian Roma menggambarkan, pendidikan merupakan hak semua warga negara tanpa memandang latar belakang. Kuncinya, bimbing anak penuh kasih sayang.

Di akhir cerita, Peranto mengungkap asa muasal pemberian nama Roma HotPasu Simanungkalit buat anaknya. Ternyata, nama itu merupakan hasil diskusi bersama sang ayah, Runggu Simanungkalit.

Dalam Bahasa Batak, nama itu mengisyaratkan limpahan anugerah.

Roma maksudnya datang atau datanglah. Hot berarti kokoh. Pasu berarti berkat. Dalam kalimat sederhana maknanya datanglah berkat abadi.

“Ayah Roma HotPasu bekerja sebagai tukang parkir”, kata Camat Sumbul, Rinto Hutauruk.