Sergai, katasulsel.com – Pembangunan Jalan Provinsi ruas Sei Rampah–Tanjung Beringin menjadi kabar baik bagi masyarakat Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Jalur yang selama ini menjadi salah satu akses penting warga Kecamatan Sei Rampah dan Kecamatan Tanjung Beringin itu tengah ditingkatkan agar lebih nyaman dan mendukung aktivitas masyarakat.

Namun di tengah proses pembangunan, muncul keluhan dari warga yang tinggal di sekitar lokasi pekerjaan.

Bukan karena menolak pembangunan.

Warga justru berharap proyek tersebut cepat selesai.

Persoalannya adalah debu.

Dalam beberapa pekan terakhir, warga mengaku harus menghadapi kepulan debu yang muncul hampir setiap hari dari badan jalan yang masih dalam tahap pengerjaan.

Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas, terutama saat kondisi cuaca panas dan jalan dalam keadaan kering.

Kondisi tersebut dirasakan warga di sepanjang kawasan Pekan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.

Sejumlah rumah warga disebut ikut terdampak karena debu masuk ke halaman hingga ke dalam rumah.

Pantauan di lokasi, Kamis (6/8/2026), kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas di area proyek membuat debu kembali mengepul dan menyebar ke sisi jalan.

Situasi semakin terasa pada jam-jam aktivitas masyarakat meningkat.

Proyek peningkatan struktur Jalan Provinsi Sei Rampah–Tanjung Beringin tersebut memiliki panjang efektif sekitar 2.500 meter.

Pekerjaan ini tercatat dengan Nomor Kontrak 602/1205/UPTD.BMCK/TB/VI/2026 tertanggal 8 Juni 2026, dengan nilai kontrak Rp14.801.000.000 yang bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026.

Pelaksana proyek adalah CV Seleksi Alam Nusantara, dengan pengawasan dari konsultan supervisi PT Transmina Cintra Indo Consultant.

Bagi masyarakat Sergai, peningkatan jalan ini dinilai penting karena ruas Sei Rampah–Tanjung Beringin menjadi jalur yang mendukung mobilitas warga, aktivitas ekonomi, hingga distribusi hasil pertanian dan usaha masyarakat.

Namun warga berharap proses pembangunan tidak mengabaikan dampak yang muncul selama pekerjaan berlangsung.

Ilham (34), warga sekitar lokasi, mengatakan debu proyek sudah cukup mengganggu kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, warga harus lebih sering membersihkan rumah karena debu cepat menempel pada lantai dan perabot.

“Setiap hari kami menghirup debu ini. Lantai dan perabotan baru dibersihkan sebentar sudah kotor lagi. Anak-anak juga mulai batuk-batuk dan mengalami sesak napas,” ujarnya.

Keluhan juga datang dari pelaku usaha kecil di sekitar jalan.

Pedagang makanan mengaku kondisi jalan yang berdebu membuat sebagian pelanggan enggan berhenti, sehingga berdampak terhadap aktivitas penjualan.

Selain masalah kenyamanan, warga juga mengkhawatirkan faktor keselamatan.

Debu yang beterbangan dapat mengganggu pandangan pengendara, khususnya pengguna sepeda motor yang melintas di jalur tersebut.

Sejumlah warga bahkan terlihat berinisiatif melakukan penyiraman badan jalan secara mandiri untuk mengurangi debu yang muncul.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar proyek.

Namun warga berharap penanganan debu tidak hanya bergantung pada inisiatif masyarakat.

Mereka meminta kontraktor pelaksana bersama instansi terkait melakukan penyiraman air secara rutin, terutama saat kondisi jalan kering dan aktivitas kendaraan meningkat.

Menurut warga, pembangunan Jalan Sei Rampah–Tanjung Beringin harus tetap didukung.

Tetapi pembangunan yang berkualitas bukan hanya dinilai dari hasil akhir jalan yang mulus.

Proses pengerjaan juga harus memperhatikan kenyamanan dan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar proyek.

Hingga kini, warga berencana menyampaikan keluhan tersebut kepada pemerintah desa dan instansi terkait agar segera mendapatkan perhatian.

Bagi masyarakat Serdang Bedagai, harapannya sederhana.

Jalan yang lebih baik segera terwujud.

Namun selama proses menuju jalan baru itu berlangsung, warga juga ingin tetap bisa bernapas dengan nyaman. (*)

Penulis: Julianto Irwan Silitonga